Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 27 Mei 2021, 17:30 WIB
Shierine Wangsa Wibawa

Penulis

Bagaimana otak kita bekerja untuk memahami sesuatu? - Shubhra S., 8 tahun

Oleh: Tyler Daniel Anderson-Sieg

KAMU mungkin tahu adegan klasik ini: ada suara menderu di angkasa dan sebuah objek kecil terbang melintas. Orang-orang melihat ke atas dan terdengar beberapa teriakan berbeda, “Lihat di langit! Itu burung!” “Itu pesawat terbang!” “Itu Superman!”

Objeknya sama, langitnya sama. Bahkan suara yang mereka dengar juga sama. Lalu kenapa tiga orang yang menyaksikan suatu kejadian yang sama memiliki kesimpulan yang berbeda-beda?

Jawabannya ada dalam bagaimana mekanisme otak kita dalam berpikir. Kita mengalami dan memahami dunia di sekitar kita berdasarkan pengetahuan yang kita sudah miliki, bahkan walau pengetahuan itu kadang salah.

Teka-teki berpikir

Dunia ini membingungkan dan ramai. Otak kita harus berusaha membuat dunia dapat kita pahami dengan memproses arus informasi yang tak kunjung berhenti.

Baca juga: Kenapa Ukuran Otak Manusia Begitu Besar? Ilmuwan Pecahkan Misterinya

Idealnya – agar bisa menjadi akurat – otak kita dapat menganalisis segala sesuatu secara menyeluruh. Tapi ini tidak dapat dilakukan karena sangat tidak praktis.

Berpikir butuh waktu, padahal kita butuh cepat membuat kesimpulan. Misalnya, kita harus cepat memutuskan kapan menyeberang jalan dengan cepat – bahkan lari – saat mendengar suara mobil cepat mendekati kita.

Berpikir juga membutuhkan energi – atau daya otak, padahal otak kita memiliki daya terbatas. Menganalisis segala sesuatu akan membuat energi kita cepat habis.

Batasan-batasan ini menjadi masalah dalam berpikir: otak kita tidak punya cukup sumber daya untuk memahami dunia tanpa melewati beberapa jalan pintas.

Otak kita pintar dan malas

Otak kita mencari jalan pintas untuk mengatasi masalah berpikir dengan bergantung pada pikiran-pikiran yang sudah ada di benak kita, ini dinamai skema. Skema-skema inilah yang melakukan proses untuk otak, bisa dibayangkan sebagai sesuatu yang otomatis.

Menggunakan skema akan lebih efisien ketimbang harus menganalisis setiap aspek dalam setiap detik. Skema memungkinkan otak kita memproses informasi dengan lebih sedikit energi, sehingga menghemat daya otak untuk pemikiran dan pemecahan masalah lain yang lebih penting.

Baca juga: Begini Cara Kerja Vaksin, Bisa Mencegah Penyakit

Otak kita seperti perpustakaan

Skema adalah balok-balok yang membentuk pengetahuan kita tentang dunia. Otak kita bergantung pada bermacam jenis skema untuk memahami berbagai situasi berbeda.

Skema mirip seperti buku-buku di benak kita yang memberitahu kita tentang berbagai jenis objek dan perilaku mereka. Skema soal burung, misalnya, mungkin memberitahu kita bahwa burung itu “hewan kecil”, “punya sayap”, dan “bisa terbang”. Semua pengetahuan tentang semua objek yang kita tahu akan menjadi buku-buku yang mengisi perpustakaan dalam benak kita.

Otak kita mempercayai isi buku-buku atau skema ini saat kita berusaha memahami sesuatu di lingkungan kita. Mengandalkan skema akan lebih cepat dan lebih mudah ketimbang harus menganalisis semua aspek dari awal lagi, dan kesimpulan yang diperoleh biasanya – tapi tidak selalu – sama saja.

Apakah saya melihat sesuatu secara berbeda dibanding kamu?

Keakuratan pemahaman kita bergantung pada skema atau buku-buku yang tersedia dalam perpustakaan di benak kita.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau