Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Leo Dewa Hardana
Psikolog dan Konsultan

Psikolog dan Konsultan pada IISA Assessment Consultancy & Research Centre

Ketika Remaja Tak Lagi Berakhir di Usia 18: Sebuah Renungan Zaman

Kompas.com, 14 Januari 2026, 07:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BEBERAPA waktu lalu saya membaca sebuah kutipan hasil riset yang beredar di media sosial. Kutipan itu membuat saya menghentikan aktivitas sejenak, lalu menelusuri tautan risetnya secara utuh. Isinya cukup mengusik: fase perkembangan yang selama ini kita pahami sebagai masa remaja ternyata tidak berhenti di usia belasan, bahkan tidak pula di usia 25 tahun sebagaimana kerap disebut dalam literatur terdahulu. Dari sudut pandang neurosains, fase ini dapat berlangsung hingga sekitar usia 32 tahun!

Temuan tersebut berasal dari riset berskala besar yang dilakukan tim peneliti University of Cambridge dan dipublikasikan dalam Nature Communications (Mousley dkk., 2024). Dengan menganalisis ribuan hasil pemindaian otak dari berbagai kelompok usia, para peneliti menemukan bahwa perubahan besar dalam organisasi jaringan otak—yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, regulasi emosi, dan perencanaan jangka panjang—baru mencapai titik relatif stabil di awal usia 30-an.

Setelah fase itu, perkembangan otak lebih bersifat pemeliharaan dan penyesuaian, bukan lagi konsepsi atau pembentukan secara signifikan.

Angka ini tentu mengusik. Banyak orang di usia tersebut sudah bekerja bertahun-tahun, menikah, bahkan menjadi orang tua. Maka wajar jika muncul pertanyaan sinis: apakah ini berarti orang usia 30-an masih remaja?

Pertanyaan semacam itu justru membuka persoalan yang lebih mendasar. Selama ini kita kerap menyederhanakan makna kedewasaan. Kita menautkannya pada usia dan pencapaian sosial tertentu, seolah kedewasaan hadir secara otomatis pada ulang tahun tertentu. Padahal, ilmu perkembangan manusia berbicara tentang proses yang jauh lebih bertahap, penuh transisi, dan tidak selalu berjalan linear.

Dalam psikologi perkembangan, gagasan tentang masa transisi yang memanjang sebenarnya bukan hal baru. Jeffrey Jensen Arnett sejak awal 2000-an memperkenalkan konsep emerging adulthood untuk menggambarkan fase usia 18–29 tahun—fase ketika individu tidak lagi sepenuhnya remaja, tetapi juga belum mapan sebagai dewasa (Arnett, 2000).

Fase ini ditandai oleh eksplorasi identitas, pencarian arah hidup, ketidakstabilan relasi dan pekerjaan, serta perasaan “di antara”: bukan anak-anak, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa.

Riset neurosains mutakhir seolah memperpanjang pemahaman tersebut. Jika secara psikologis fase transisi ini telah lama dikenali, kini bukti biologisnya semakin terlihat. Otak manusia, dalam banyak kasus, belum sepenuhnya “selesai” berkembang ketika tuntutan sosial—bekerja, mandiri, stabil secara finansial—sudah lebih dulu datang dan menekan.

Mengapa fenomena ini terasa semakin kuat hari ini? Jawabannya tentu tidak tunggal. Pendidikan berlangsung lebih lama dan relatif lebih mudah diakses—terlihat dari meningkatnya jumlah lulusan sarjana, magister, bahkan doktoral—sementara dunia kerja justru semakin kompetitif sekaligus tidak stabil.

Kemandirian finansial, yang dulu dipandang sebagai tonggak awal kedewasaan, kini menjadi target yang makin sulit dijangkau. Biaya hidup terus meningkat, kepemilikan rumah semakin menjauh dari jangkauan banyak generasi muda, dan jaminan kerja jangka panjang kian langka.

Di saat yang sama, media sosial mempercepat perbandingan sosial, memperbesar kecemasan akan ketertinggalan, dan menghadirkan standar hidup yang kerap lebih mencerminkan etalase pencapaian ketimbang realitas sehari-hari.

Ketika seseorang di usia akhir 20-an atau awal 30-an merasa belum benar-benar “sampai”, kondisi ini kerap dibaca sebagai kegagalan pribadi. Penilaian kurang gigih, kurang disiplin, atau kurang dewasa mudah disematkan. Padahal, bisa jadi ia sedang berada di persimpangan antara proses biologis yang belum sepenuhnya selesai dan struktur sosial yang menuntut hasil cepat tanpa menyediakan ruang belajar yang memadai.

Tidak mengherankan jika reaksi terhadap temuan seperti ini bercampur. Ada keterkejutan—bahkan penolakan. Ada pula rasa lega, seolah pengalaman pribadi akhirnya mendapat penjelasan ilmiah.

Namun bersamaan dengan itu muncul kegelisahan yang sah: jangan-jangan riset ini dijadikan pembenaran untuk menunda tanggung jawab tanpa arah, atau untuk memaklumi ketidakmatangan yang berkepanjangan.

Kegelisahan ini perlu ditegaskan. Penjelasan ilmiah bukanlah pembenaran moral. Bahwa otak masih berkembang hingga usia 30-an tidak berarti seseorang bebas dari kewajiban untuk belajar mandiri, bekerja, atau bertanggung jawab atas pilihannya. Riset ini tidak mengatakan “tidak apa-apa belum dewasa”. Namun lebih menjelaskan mengapa proses menuju dewasa sering kali lebih panjang dan lebih kompleks dari yang kita sepakati secara sosial.

Perbedaan respons terhadap temuan ini juga tampak jelas secara antargenerasi. Generasi muda mungkin merasa lebih dipahami, sementara generasi terdahulu—yang tumbuh dalam konteks ekonomi dan sosial berbeda—bisa merasa heran atau skeptis. Namun perbedaan ini tidak harus berujung pada saling meniadakan dan mengkerdilkan, namun justru membuka ruang dialog tentang bagaimana konteks zaman membentuk ritme kedewasaan, tanpa perlu menafikan pengalaman generasi mana pun.

Dari hasil riset ini—meskipun tentu bukan kebenaran yang tunggal dan mutlak—ada beberapa pelajaran penting. Pertama, mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadikan usia sebagai satu-satunya penanda kedewasaan. Dewasa lebih tepat dipahami sebagai kapasitas: kemampuan mengelola diri, mengambil keputusan, dan memikul konsekuensi. Kapasitas ini tumbuh melalui pengalaman, kegagalan, pembelajaran, dan refleksi—bukan muncul secara tiba-tiba.

Kedua, temuan ini mengajak kita meninjau ulang ekspektasi sosial—termasuk soal kemandirian finansial dan kemapanan di usia tertentu. Bukan untuk menurunkannya, tetapi untuk menjadikannya lebih realistis dan manusiawi. Dunia pendidikan, dunia kerja, dan kebijakan publik mungkin perlu memberi ruang transisi yang lebih sehat, bukan sekadar menuntut hasil akhir yang instan tanpa memperhatikan prosesnya.

Pada akhirnya, riset tentang mundurnya batas usia remaja ini bukan sekadar soal angka. Temuan ini mengajak kita bertanya lebih jauh: jika kedewasaan adalah proses panjang yang dipengaruhi oleh biologi, kondisi sosial, dan pengalaman hidup, bagaimana kita—sebagai masyarakat—membantu mereka di sekitar kita bertumbuh bukan hanya cepat, tetapi matang dan bertanggung jawab? Pertanyaan itu barangkali lebih penting daripada perdebatan tentang usia itu sendiri.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau