Penulis
KOMPAS.com - Selama ini kita sering mendengar nasihat, “tidur saja dulu, nanti juga kepikiran.” Ternyata, saran sederhana itu punya dasar ilmiah yang semakin kuat. Penelitian terbaru dari Northwestern University menunjukkan bahwa mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan bisa berperan aktif dalam membantu manusia memecahkan masalah secara kreatif—bahkan dapat “diarahkan” dalam kondisi tertentu.
Studi ini membuka bab baru dalam riset tentang tidur dan kreativitas. Para ilmuwan saraf menemukan bahwa isi mimpi dapat “didorong” secara halus tanpa membangunkan orang yang sedang tidur. Hasilnya, mimpi yang berkaitan dengan suatu masalah ternyata meningkatkan peluang seseorang menemukan solusi setelah bangun tidur.
Baca juga: Mimpi Kita Berwarna atau Hitam Putih? Ini Penjelasan Sains
Psikolog telah lama mengetahui bahwa menjauh sejenak dari masalah sulit dapat memicu aha moment di kemudian hari. Namun, mimpi selama ini sulit dipelajari secara ilmiah karena para peneliti hampir tidak pernah bisa mengendalikan apa yang dimimpikan seseorang—tanpa mengganggu tidurnya.
Tim peneliti dari Northwestern University menemukan celahnya pada fase REM sleep (Rapid Eye Movement), yaitu tahap tidur yang identik dengan mimpi paling hidup dan, dalam beberapa kasus, mimpi sadar (lucid dreaming). Fase ini diduga menjadi jendela penting bagi munculnya pemikiran kreatif.
Baca juga: Apakah Mimpi Berubah Seiring Usia? Begini Penjelasan Ilmiahnya
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan metode bernama Targeted Memory Reactivation (TMR). Teknik ini bekerja dengan cara memicu kembali ingatan tertentu saat seseorang sedang tidur.
Caranya cukup unik. Sebelum tidur, para peserta diminta mengerjakan teka-teki yang sulit diselesaikan. Setiap teka-teki dipasangkan dengan suara atau musik tertentu. Ketika peserta sudah benar-benar tertidur dan memasuki fase REM, peneliti memutar kembali suara-suara tersebut.
Tujuannya sederhana namun ambisius: mengingatkan otak pada masalah yang belum selesai, lalu membiarkannya “bekerja” lewat mimpi.
Baca juga: Bisakah Kita Mengendalikan Mimpi, dan Bagaimana Melatihnya?
Pendekatan ini terbukti efektif. Sebanyak 75 persen peserta melaporkan mimpi yang mengandung unsur-unsur dari teka-teki yang belum mereka selesaikan. Lebih menarik lagi, teka-teki yang muncul dalam mimpi memiliki tingkat keberhasilan solusi yang jauh lebih tinggi setelah bangun tidur.
Masalah yang “muncul” dalam mimpi berhasil dipecahkan sebesar 42 persen, sementara yang tidak muncul dalam mimpi hanya 17 persen. Perbedaannya cukup signifikan.
Meski demikian, para peneliti berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Mereka menegaskan bahwa ini belum membuktikan mimpi secara langsung menyebabkan solusi muncul. Bisa jadi, ketertarikan yang lebih besar pada suatu masalah membuatnya lebih mungkin muncul dalam mimpi sekaligus lebih mudah dipecahkan. Namun, kemampuan untuk memandu isi mimpi tetap dianggap sebagai terobosan penting.
Baca juga: Apa Penyebab Susah Mengingat Mimpi?
Penelitian ini melibatkan 20 relawan yang sudah memiliki pengalaman dengan mimpi sadar. Di laboratorium, mereka diberi beberapa teka-teki rumit dengan waktu tiga menit per soal. Hampir semua teka-teki memang dirancang agar tidak mudah diselesaikan.
Peserta kemudian tidur semalaman di laboratorium dengan pemantauan ketat menggunakan polisomnografi, alat yang merekam aktivitas otak dan sinyal fisiologis lainnya. Saat fase REM terdeteksi, suara yang terkait dengan separuh teka-teki yang belum terpecahkan diputar kembali.
Beberapa peserta bahkan menggunakan sinyal yang sudah disepakati—seperti tarikan napas tertentu—untuk memberi tahu peneliti bahwa mereka mengenali suara tersebut dan sedang memikirkan teka-teki itu di dalam mimpi.
Baca juga: 11 Fakta tentang Mimpi yang Menarik untuk Diketahui
Setelah bangun, peserta diminta menceritakan isi mimpi mereka. Banyak mimpi tidak menampilkan solusi secara langsung, tetapi menghadirkan potongan ide, suasana, atau metafora yang terkait dengan teka-teki.
Dalam 12 dari 20 peserta, mimpi lebih sering mengacu pada teka-teki yang “dipancing” dengan suara. Kelompok ini menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah yang signifikan—dari 20 persen menjadi 40 persen.