Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Leo Dewa Hardana
Psikolog dan Konsultan

Psikolog dan Konsultan pada IISA Assessment Consultancy & Research Centre

Antitesis Matinya Kepakaran: Menjaga Akal Sehat di Era Semua Merasa Tahu

Kompas.com, 12 Februari 2026, 09:09 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BEBERAPA pekan lalu, media sosial kembali diramaikan oleh perdebatan yang sekilas tampak sepele, namun sesungguhnya mencerminkan persoalan yang jauh lebih mendasar. Seorang warganet dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa GERD dapat menyebabkan serangan jantung, dan menolak koreksi yang disampaikan oleh seorang dokter spesialis jantung yang menjelaskan bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung, meskipun gejalanya bisa menyerupai nyeri dada.

Alih-alih menjadi ruang klarifikasi, diskursus tersebut justru berakhir pada sikap ngotot, saling meremehkan, dan tuduhan bahwa “dokter juga bisa salah.”

Contoh semacam ini bukanlah kasus tunggal. Ia adalah potret kecil dari fenomena yang lebih luas, yang oleh banyak pemikir disebut sebagai “matinya kepakaran(the death of expertise).

Apa yang Dimaksud dengan “Matinya Kepakaran”? Istilah matinya kepakaran dipopulerkan oleh Tom Nichols untuk menggambarkan situasi ketika otoritas keilmuan tidak lagi dipercaya, bahkan ditolak, bukan karena argumennya lemah, melainkan karena setiap orang merasa setara dalam pengetahuan.

Internet dan media sosial memang telah mendemokratisasi akses informasi, tetapi demokratisasi ini sering kali disalahartikan sebagai demokratisasi kompetensi. Dalam konteks ini, kepakaran tidak lagi dilihat sebagai hasil dari proses panjang—pendidikan formal, latihan bertahun-tahun, verifikasi ilmiah, dan etika profesi—melainkan sekadar “satu opini di antara opini lain.”

Seorang pakar dan seorang awam ditempatkan pada posisi yang sama, dengan bobot argumen ditentukan oleh jumlah likes, followers, atau keberanian berbicara.

Dunning–Kruger Effect dan Ilusi Pengetahuan

Fenomena ini berkaitan erat dengan Dunning–Kruger Effect, yaitu bias kognitif di mana individu dengan pengetahuan terbatas justru cenderung melebih-lebihkan pemahamannya. Ketidaktahuan membuat seseorang tidak menyadari sejauh apa ketidaktahuannya.

Dalam konteks kesehatan, psikologi, ekonomi, atau kebijakan publik, bias ini berbahaya. Orang yang membaca satu artikel, menonton satu video, atau mengalami satu kejadian pribadi, merasa telah memahami keseluruhan persoalan.

Sebaliknya, mereka yang benar-benar mendalami suatu bidang justru lebih berhati-hati, karena menyadari kompleksitas dan keterbatasan pengetahuan yang ada. Ironisnya, kehati-hatian inilah yang kerap disalahartikan sebagai keraguan atau kelemahan.

Mengapa Kepakaran Tetap Penting?

Kepakaran bukan sekadar soal “lebih tahu,” melainkan soal cara mengetahui. Pakar dilatih untuk membedakan antara korelasi dan kausalitas, antara bukti anekdot dan data sistematis, antara hipotesis dan kesimpulan. Mereka juga terikat pada mekanisme koreksi: peer review, standar etik, dan akuntabilitas profesional.

Ketika seorang dokter mengatakan bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung, pernyataan itu tidak lahir dari opini pribadi, melainkan dari akumulasi riset, konsensus ilmiah, dan pengalaman klinis yang teruji. Mengabaikan kepakaran berarti mengabaikan proses panjang tersebut, dan menggantinya dengan intuisi yang belum tentu akurat.

Antitesisnya: Bukan Menolak Publik, Melainkan Menata Dialog

Namun, antitesis dari “matinya kepakaran” bukanlah kembalinya sikap elitis atau otoriter. Kepakaran yang sehat tidak berdiri di menara gading. Ia justru perlu hadir dalam dialog dengan publik. Tidak semua orang adalah pakar, tetapi tidak semua suara awam harus diabaikan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara klaim keilmuan dan pengalaman personal. Pengalaman pribadi layak dipandang sebagai anekdot, bukan sebagai bukti ilmiah, tetapi tetap relevan sebagai titik awal pertanyaan. Misalnya, seorang klien menyampaikan kepada psikolog bahwa ia menemukan penamaan diagnosis tertentu atau teknik psikoterapi baru dari internet, dan merasa pendekatan tersebut membantunya.

Respons profesional yang sehat bukanlah menertawakan atau serta-merta menolaknya, melainkan mengajukan pertanyaan reflektif: apa yang klien pikirkan dan rasakan, apa yang berubah dalam dirinya, serta bagaimana proses itu bekerja. Psikolog juga dapat menanyakan apakah pendekatan tersebut memiliki dasar penelitian atau rujukan ilmiah yang dapat ditelusuri.

Dari titik ini, psikolog memiliki ruang untuk mengevaluasi efektivitasnya secara ilmiah sekaligus tetap menghargai pengalaman subjektif klien. Bahkan, proses ini membuka kemungkinan bagi pakar untuk memperkaya wawasannya—bahwa mungkin terdapat pendekatan baru yang belum sepenuhnya dikenal atau terintegrasi dalam praktik arus utama.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau