Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SALAH satu isu yang menjadi perhatian dan paling diperbincangkan di dunia pasca pandemi barangkali adalah soal Artificial Intelligence (AI). Semua negara mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan AI, meski penuh spekulasi, sebab tidak ada yang tahu pasti sejauh mana kecerdasan ini bisa berevolusi.
Pada Januari lalu pun, untuk kesekian kalinya, AI lagi-lagi diangkat menjadi isu khusus dalam World Economic Forum di Davos. Salah satu kekhawatiran mulai tampak gejalanya. Akhir tahun 2025, sebuah riset di Amerika mempublikasikan temuannya.
Sebagian remaja di Amerika Serikat kini menggunakan chatbot kecerdasan buatan bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga untuk berbincang secara personal. Mereka meminta saran, berbagi cerita, bahkan mencari dukungan emosional.
Persentasenya memang belum besar, tetapi fenomena ini menunjukkan arah perubahan yang sedang berlangsung dan berlaku di manapun.
Di Indonesia pun hal serupa mulai terlihat. Sebagian orang mulai menjadikan AI sebagai teman percakapan. Relasi dengan mesin yang sebelumnya bersifat fungsional, sekadar bertanya atau mencari informasi, perlahan menjadi lebih personal.
Bagi para penggunanya, mesin AI terasa lebih nyaman daripada manusia sesungguhnya: ia tidak menghakimi, tidak menyela, lebih mampu memahami mood, dan selalu hadir saat dibutuhkan.
Baca juga: Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI
Manusia adalah zoon politicon, demikian kata Aristotle. Kita adalah makhluk yang pada kodratnya hidup bersama dan membutuhkan satu sama lain. Dalam ungkapan lain, homo homini socius, manusia adalah sahabat bagi manusia lainnya. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Kita saling melengkapi, saling mengisi, dan saling menopang.
Gagasan ini selaras dengan pandangan Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind. Ia menekankan bahwa kemampuan bekerja sama merupakan kunci keberhasilan spesies Homo sapiens bertahan dan berkembang. Manusia mampu membangun narasi bersama, menciptakan kepercayaan, dan berkoordinasi dalam kelompok besar untuk tujuan yang sama.
Kemampuan kolektif ini menjadi salah satu revolusi evolusioner yang membuat manusia berbeda dari banyak spesies lain dan mendominasi selama ribuan tahun.
Dalam berbagai tradisi, nilai kolektivitas itu hadir dengan banyak istilah. Di Indonesia dikenal sebagai gotong royong. Di Jepang terdapat konsep yui. Di Afrika Selatan dikenal istilah ubuntu, sementara dalam tradisi Arab ada konsep ta’awun.
Beragam ungkapan lokal di Indonesia juga mencerminkan semangat yang sama: “mangan ra mangan kumpul”, “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, atau keyakinan bahwa silaturahmi membawa keberkahan. Semua itu menegaskan bahwa kehidupan manusia dibangun di atas hubungan sosial.
Baca juga: Bahaya AI bagi Anak Muda, Studi Ungkap Chatbot Sering Membenarkan Pengguna
Namun perkembangan peradaban membawa manusia pada situasi yang semakin kompleks. Teknologi yang diciptakan manusia bukan hanya menjadi alat, tetapi juga mulai memengaruhi pola kehidupan sosial.
Revolusi industri dapat dianggap sebagai salah satu titik perubahan penting. Urbanisasi, munculnya pabrik, dan berkembangnya ekonomi pasar memisahkan banyak orang dari komunitas tradisional mereka. Ikatan sosial yang sebelumnya kuat mulai mengalami peregangan.
Fenomena keterpisahan sosial ini pernah dijelaskan oleh Émile Durkheim melalui konsep Anomie, yaitu kondisi ketika norma sosial melemah dan individu merasa terlepas dari komunitasnya.
Meski demikian, fenomena ini umumnya terjadi di kota-kota industri. Di banyak desa dan wilayah pinggiran, ikatan sosial tetap bertahan. Terlebih lagi di wilayah urban yang masih didominasi kultur pertanian.