Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Genetik Langka Bisa Membuat Makanan Sehat Jadi Berbahaya, Kok Bisa?

Kompas.com, 6 November 2025, 11:15 WIB
Fatimah Az Zahra,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Makan berbagai buah dan sayuran umumnya dikaitkan dengan gaya hidup sehat. Hal itu disebabkan kandungan gizi dalam buah dan sayuran yang memiliki manfaat bagi tubuh. 

Namun, bagi sebagian orang yang memiliki genetik langka, hal tersebut tidak berlaku.

Kondisi genetik langka tersebut bernama Intoleransi Fruktosa Herediter atau Hereditary Fructose Intolerance (HFI).

Para ahli mengatakan, bahkan beberapa potong semangka segar atau tomat kering dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi orang dengan kondisi genetik langka tersebut jika dikonsumsi.

Baca juga: Bulu Anjing di Chernobyl Berubah Warna Jadi Biru, akibat Mutasi Genetik?

Apa itu Intoleransi fruktosa herediter?

Dilansir dari Science Alert, Rabu (5/11/2025), intoleransi fruktosa herediter merupakan kondisi ketika tubuh tidak dapat mengelola gula fruktosa.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang tidak memiliki enzim penting bernama aldolase B, yakni enzim yang diperlukan untuk memecah fruktosa.

Akibatnya, fruktosa dapat menumpuk di hati, ginjal, dan usus.

Penumpukan itu dapat menyebabkan masalah kesehatan serius seperti kejang, koma, bahkan kematian yang disebabkan gagal hati dan gagal ginjal.

Baca juga: 12 Efek pada Tubuh Saat Berhenti Konsumsi Gula, Apa Saja?

Fruktosa sendiri merupakan bahan alami yang terkandung dalam buah-buahan. Selain buah, gula tersebut juga ada dalam madu, sejumlah sayuran, minuman manis, hingga makanan kemasan seperti kue, biskuit, saus, dan beberapa jenis roti.

Fruktosa juga dapat berupa bahan pemanis yang biasa ditambahkan dalam pemrosesan makanan, misal pembuatan daging olahan atau produk susu.

Selain itu, fruktosa juga dapat berasal dari sukrosa (gula pasir). Saat masuk ke dalam tubuh, sukrosa akan dipecah oleh enzim pencernaan menjadi glukosa dan fruktosa.

Sementara itu, sorbitol (pemanis buatan yang ada dalam permen karet, pasta gigi, atau obat-obatan) tidak mengandung fruktosa secara langsung. Namun, zat ini dapat berubah menjadi fruktosa melalui proses metabolisme.

Hal ini membuat penderita intoleransi fruktosa herediter juga tidak dapat mengonsumsi sukrosa dan sorbitol. 

Baca juga: 8 Buah Tinggi Purin dan Fruktosa, Harus Dihindari Penderita Asam Urat

Seberapa umum kondisi ini?

Intoleransi fruktosa herediter diwariskan jika kedua orangtua, baik ayah maupun ibu, membawa gen langka tersebut.

Inilah yang membuat kondisi ini tergolong jarang, yakni hanya dialami sekitar 1 dari 10.000 orang.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau