Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenaikan Harga BBM Meluas di ASEAN Imbas Perang AS–Israel vs Iran, Indonesia Bisa Menyusul?

Kompas.com, 27 Maret 2026, 07:00 WIB
Alicia Diahwahyuningtyas,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memicu krisis energi global, terutama setelah terjadi pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Sejak 28 Februari 2026, Iran disebut efektif menghambat distribusi minyak dan gas melalui jalur yang berada di antara Iran dan Oman tersebut.

Dampaknya, harga minyak mentah global jenis Brent melonjak tajam dan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, terutama di kawasan Asia.

Hal ini karena hampir 90 persen minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke kawasan tersebut, sehingga setiap gangguan pasokan langsung menekan stabilitas energi regional.

Baca juga: Dunia Berlomba Tekan Harga BBM akibat Perang AS-Israel Vs Iran, Bagaimana dengan RI?


Harga BBM di Asia Tenggara naik

Salah satu contoh terlihat di Vietnam, di mana harga BBM di negara itu melonjak drastis sepanjang Maret 2026, dikutip dari The Straits Times pada Rabu (25/3/2026).

Harga solar dilaporkan naik hingga 105 persen menjadi sekitar 39.660 dong (Rp 25.351) per liter, sementara bensin RON 95 meningkat hampir 68 persen menjadi sekitar 33.840 dong (Rp 21.600) per liter.

Lonjakan harga tersebut memicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar serta kekhawatiran akan kelangkaan energi.

Kondisi serupa juga terjadi di Filipina, di mana pemerintah setempat bahkan menetapkan status darurat energi nasional.

Sementara itu, hingga saat ini harga BBM di Indonesia masih relatif stabil, meski harga minyak dunia terus mengalami tekanan akibat konflik di Timur Tengah.

Lantas, bagaimana potensi harga BBM di Indonesia di tengah perang yang masih berlangsung antara AS, Israel, dan Iran?

Baca juga: Iran Tolak Negosiasi dengan AS jika Tak Hentikan Perang Permanen, Sinyal Posisi Tawar Teheran Kian Menguat

Harga BBM di Indonesia berpotensi naik?

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai harga minyak dunia, termasuk BBM di Indonesia, berpotensi naik seiring eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Menurutnya, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin besar jika harga minyak bertahan di level tinggi.

Ia menyebut ruang fiskal pemerintah semakin terbatas, terutama karena beban subsidi energi berpotensi membengkak.

“Tidak ada ruang APBN lagi. Subsidi energi bisa bengkak hingga Rp 126 triliun jika harga minyak bertahan di kisaran 90–100 dollar AS per barel,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis.

Menurut Bhima, situasi konflik yang masih fluktuatif dan belum jelas kapan akan berakhir membuat pemerintah sulit menjaga stabilitas harga energi.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau