KOMPAS.com - Nathania Tifara seorang entrepreneur muda dengan keberhasilan mendirikan penerbitan buku anak yang ramah difabel.
Perjalanan dimulai ketika ia kehilangan pendengaran saat usia 2 tahun akibat virus meningitis yang melanda Amerika Serikat—tempat ia dan keluarganya tinggal saat itu—pada 1990.
2 tahun berselang, ia menjalani operasi pemasangan cochlear implant ketika usianya menginjak 4 tahun. Alat berbasis teknologi tersebut membantunya dapat kembali mengakses suara. Namun, alat tersebut tidak serta merta menjadikannya sembuh dari tuli.
Cochlear implant memungkinkan tuli untuk mendengar, tetapi terbatas. “Tanpanya, saya tetap tuli total,” ungkap Nathania kepada Kompas.com, Rabu (5/2/2026).
Ia tetap perlu berlatih mendengar, sebab cochlear implant hanya terpasang satu sisi dengan kemampuan 40-50 persen lebih rendah dibanding pendengaran orang dengar.
Hal tersebut membuat pengalaman mendengarnya seperti suara mono, rentan di ruang ramai, dan membutuhkan latihan terus menerus agar otak bisa menerjemahkannya. Dari situ Nathania belajar membaca situasi, mengandalkan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan konteks percakapan.
Sejak awal, ia terbuka tentang kondisinya. Ia menjelaskan kendala pendengarannya kepada teman, guru, dan dosen.
“Saya menyampaikan hal ini bukan untuk meminta perlakuan khusus atau diistimewakan, melainkan agar guru, dosen, dan teman sekelas mengetahui bahwa ada murid atau mahasiswa dengan kebutuhan pendengaran yang berbeda di dalam kelas,” cerita Nathania.
Dalam proses belajar, ia menerapkan berbagai strategi agar proses akademik berjalan dengan lancar. Duduk di bangku depan, memanfaatkan catatan teman, serta berdiskusi kelompok kecil membantu kelancaran belajarnya.
Tantangan terbesar muncul saat ia menjalani Magister Manajemen di UGM. Ketika kelas digelar secara daring akibat pandemi, ia menggunakan bantuan juru tulis—terkadang teman atau suami—untuk merangkum materi.
Melalui pengalaman tersebut, Nathania yakin bahwa kelancaran proses belajar bukan sekadar faktor kemampuan individu, tetapi juga kerja sama dan kesediaan lingkungan untuk beradaptasi.
“Ketika kebutuhan dikomunikasikan dengan jelas dan lingkungan memberi ruang, proses belajar dapat berjalan lebih setara,” ucapnya.
Nathania bersama suami berada di Toko Buku GumiPengalaman tersebut menciptakan kesadaran terhadap keterbatasan media edukasi yang relevan dengan konteks anak Indonesia.
“Langkah tersebut saya wujudkan melalui penerbitan buku anak, sebagai ruang belajar, membaca, dan bertumbuh bersama, dengan buku sebagai medium utama yang bermakna,” kenangnya.