Penulis
TEHERAN, KOMPAS.com - Pemerintah Iran menyatakan sedang meninjau proposal yang diajukan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama hampir empat pekan.
Namun, Teheran menegaskan tidak memiliki niat untuk mengadakan pembicaraan atau dialog dengan Washington untuk mengakhiri konflik, sebagaimana dilansir Reuters.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjelaskan, komunikasi yang terjadi dengan AS selama ini hanya sebatas pertukaran pesan melalui pihak ketiga, bukan sebuah perundingan resmi.
Baca juga: Trump Pasang Target, Perang Iran Selesai Sebelum Temui Xi Jinping
"Pesan yang disampaikan melalui negara-negara sahabat kami dan respons kami yang menyatakan posisi atau mengeluarkan peringatan yang diperlukan, itu tidak bisa disebut sebagai negosiasi atau dialog," ujar Araghchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah, Rabu (25/3/2026).
Pernyataan Araghchi ini sangat kontras dengan klaim yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump.
Dalam sebuah acara di Washington pada Rabu (25/3/2026) malam, Trump mengeklaim bahwa para pemimpin Iran sebenarnya sangat mendambakan perdamaian untuk mengakhiri pertempuran.
"Mereka sedang bernegosiasi, dan omong-omong, mereka sangat ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka takut mengatakannya karena akan dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita," kata Trump.
Meski demikian, Trump tidak merinci siapa pihak di Iran yang dia maksud sebagai rekan negosiasi.
Baca juga: Gedung Putih Kaget Trump Klaim Dapat Hadiah dari Iran, Tak Tahu Ada Pemberian
Sejak AS dan Israel melancarkan ke Iran pada 28 Februari lalu, ribuan orang di Timur Tengah telah tewas, termasuk para pejabat tinggi.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama konflik akibat serangan Israel.
Jabatannya digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang hingga kini belum muncul dalam rekaman video atau foto apa pun sejak dilantik.
Informasi yang dihimpun dari tiga sumber kabinet Israel menyebutkan bahwa AS telah mengirimkan 15 poin proposal melalui Pakistan.
Beberapa poin utama dalam proposal tersebut antara lain pembukaan kembali Selat Hormuz, penghapusan stok uranium Iran yang diperkaya tinggi, pembatasan program rudal balistik Iran, dan penghentian pendanaan bagi sekutu regional Iran.
Iran dilaporkan telah menyampaikan kepada pihak perantara bahwa pengakhiran konflik juga harus mencakup Lebanon dalam kesepakatan akhir dengan AS dan Israel.
Baca juga: 7 Syarat Iran untuk Negosiasi Damai yang Dianggap Konyol oleh AS
Ketegangan ini telah memicu krisis energi global karena penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.