Penulis
TEHERAN, KOMPAS.com – Iran disebut mulai menyerap pelajaran penting dari perang Rusia di Ukraina, terutama dalam penggunaan drone murah namun efektif di medan tempur.
Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran baru bagi Amerika Serikat (AS), yang dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman tersebut.
Jika konflik meluas, pasukan AS berpotensi menghadapi lingkungan perang yang sangat berbeda dari pengalaman sebelumnya di Timur Tengah.
Baca juga: Trump Tolak Ide Netanyahu Ajak Warga Iran Memberontak, AS-Israel Mulai Beda Tujuan?
Dilansir The Wall Street Journal, Rabu (25/3/2026), rekaman video yang dirilis milisi Irak yang didukung Iran menunjukkan penggunaan drone yang menyerupai taktik dalam perang Ukraina.
Drone jenis first-person-view (FPV) yang dikendalikan melalui kabel serat optik terlihat menyerang target Amerika di Baghdad, termasuk helikopter Black Hawk dan sistem radar pertahanan udara.
Teknologi ini menjadi perhatian karena tidak dapat dilumpuhkan dengan gangguan sinyal elektronik.
Rusia disebut sebagai pihak yang memelopori penggunaan drone dengan kabel serat optik ini, yang terbukti efektif dalam konflik di Ukraina.
Selain itu, Moskwa juga meningkatkan kemampuan drone jarak jauh Shahed yang awalnya dirancang oleh Iran, menandakan adanya kerja sama erat antara kedua negara.
“Anda memiliki aliansi antara Rusia dan Iran, dan sebagai sekutu mereka secara aktif bekerja sama, bertukar keahlian, intelijen, dan teknologi,” kata Andriy Zagorodnyuk, mantan menteri pertahanan Ukraina.
“Sebagai sekutu sejati, Iran menyerap pelajaran dari perang ini, dan akan mencoba menyerap lebih banyak lagi.”
Jika Amerika Serikat mengerahkan pasukan darat atau kapal perang ke kawasan Teluk, ancaman drone diperkirakan akan menjadi faktor dominan.
Berbeda dengan perang sebelumnya di Irak dan Afghanistan yang didominasi senjata ringan dan bom rakitan, kini drone FPV berpotensi menjadi ancaman utama di garis depan.
“Setiap pasukan AS di darat atau kapal perang di Teluk akan menjadi target jarak dekat, dan penggunaan drone FPV akan menjadi bagian dari kemampuan kedua belah pihak,” ujar Martin Sampson, pensiunan marsekal udara Angkatan Udara Kerajaan Inggris.
Ia juga menyoroti bahwa kendaraan dan kapal pendarat AS belum dilengkapi sistem anti-drone yang memadai.
“Iran pasti telah mengantisipasi kelemahan ini dan memahami dari Rusia apa artinya serta bagaimana memanfaatkannya,” tambahnya.
Baca juga: Gedung Putih Kaget Trump Klaim Dapat Hadiah dari Iran, Tak Tahu Ada Pemberian