Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Iran Serap Taktik Drone Rusia, AS Terancam Kewalahan di Selat Hormuz

Kompas.com, 26 Maret 2026, 15:54 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

TEHERAN, KOMPAS.com – Iran disebut mulai menyerap pelajaran penting dari perang Rusia di Ukraina, terutama dalam penggunaan drone murah namun efektif di medan tempur.

Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran baru bagi Amerika Serikat (AS), yang dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman tersebut.

Jika konflik meluas, pasukan AS berpotensi menghadapi lingkungan perang yang sangat berbeda dari pengalaman sebelumnya di Timur Tengah.

Baca juga: Trump Tolak Ide Netanyahu Ajak Warga Iran Memberontak, AS-Israel Mulai Beda Tujuan?

Iran adopsi taktik drone ala Rusia

Dilansir The Wall Street Journal, Rabu (25/3/2026), rekaman video yang dirilis milisi Irak yang didukung Iran menunjukkan penggunaan drone yang menyerupai taktik dalam perang Ukraina.

Drone jenis first-person-view (FPV) yang dikendalikan melalui kabel serat optik terlihat menyerang target Amerika di Baghdad, termasuk helikopter Black Hawk dan sistem radar pertahanan udara.

Teknologi ini menjadi perhatian karena tidak dapat dilumpuhkan dengan gangguan sinyal elektronik.

Rusia disebut sebagai pihak yang memelopori penggunaan drone dengan kabel serat optik ini, yang terbukti efektif dalam konflik di Ukraina.

Selain itu, Moskwa juga meningkatkan kemampuan drone jarak jauh Shahed yang awalnya dirancang oleh Iran, menandakan adanya kerja sama erat antara kedua negara.

“Anda memiliki aliansi antara Rusia dan Iran, dan sebagai sekutu mereka secara aktif bekerja sama, bertukar keahlian, intelijen, dan teknologi,” kata Andriy Zagorodnyuk, mantan menteri pertahanan Ukraina.

“Sebagai sekutu sejati, Iran menyerap pelajaran dari perang ini, dan akan mencoba menyerap lebih banyak lagi.”

Ancaman baru bagi pasukan AS

Jika Amerika Serikat mengerahkan pasukan darat atau kapal perang ke kawasan Teluk, ancaman drone diperkirakan akan menjadi faktor dominan.

Berbeda dengan perang sebelumnya di Irak dan Afghanistan yang didominasi senjata ringan dan bom rakitan, kini drone FPV berpotensi menjadi ancaman utama di garis depan.

“Setiap pasukan AS di darat atau kapal perang di Teluk akan menjadi target jarak dekat, dan penggunaan drone FPV akan menjadi bagian dari kemampuan kedua belah pihak,” ujar Martin Sampson, pensiunan marsekal udara Angkatan Udara Kerajaan Inggris.

Ia juga menyoroti bahwa kendaraan dan kapal pendarat AS belum dilengkapi sistem anti-drone yang memadai.

“Iran pasti telah mengantisipasi kelemahan ini dan memahami dari Rusia apa artinya serta bagaimana memanfaatkannya,” tambahnya.

Baca juga: Gedung Putih Kaget Trump Klaim Dapat Hadiah dari Iran, Tak Tahu Ada Pemberian

Halaman:


Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau