Penulis
PYONGYANG, KOMPAS.com - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko resmi menandatangani perjanjian persahabatan dan kerja sama.
Perjanjian tersebut diteken dalam kunjungan perdana Lukashenko ke Pyongyang, Kamis (26/3/2026), sebagaimana dilansir AFP.
Pertemuan kedua pemimpin ini dilakukan di tengah sambutan mewah yang melibatkan penghormatan artileri hingga parade militer.
Langkah ini mempertegas posisi kedua negara yang kini berada di bawah sanksi Barat dan menjadi pendukung utama Rusia dalam perang di Ukraina.
Baca juga: Kim Jong Un Kukuhkan Korea Utara sebagai Negara Nuklir
Dalam pertemuan tersebut, Lukashenko menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara independen di tengah perubahan geopolitik global.
Dia mengkritik negara-negara besar yang dianggapnya sering mengabaikan hukum internasional.
"Dalam realitas transformasi global modern, di saat kekuatan besar dunia secara terbuka mengabaikan dan melanggar norma-norma hukum internasional, negara-negara merdeka harus bekerja sama lebih erat," ujar Lukashenko seperti dikutip dari kantor berita negara Belarus, Belta.
Dia menambahkan bahwa upaya konsolidasi ini bertujuan untuk melindungi kedaulatan negara serta meningkatkan kesejahteraan warga masing-masing.
Menanggapi hal tersebut, Kim Jong Un menyatakan dukungannya terhadap posisi Belarus yang terus mendapatkan tekanan dari blok Barat.
"Kami menentang tekanan tidak sah terhadap Belarus dari Barat dan menyatakan dukungan serta pemahaman kami atas langkah-langkah yang diambil oleh kepemimpinan Belarus demi memastikan stabilitas sosial, politik, serta pembangunan ekonomi," tegas Kim.
Baca juga: Kim Jong Un Resmi Terpilih Kembali sebagai Presiden Korea Utara
Kunjungan dua hari ini juga diwarnai dengan aksi simbolis. Lukashenko, yang telah berkuasa sejak 1994, mengunjungi Istana Matahari Kumsusan untuk memberikan penghormatan kepada mendiang ayah dan kakek Kim Jong Un.
Selain itu, ia meletakkan karangan bunga atas nama Presiden Rusia Vladimir Putin.
Hal ini memperkuat sinyal bahwa Belarus dan Korea Utara tetap berada dalam satu poros dengan Moskwa dan Beijing untuk menciptakan dunia "multipolar" guna menantang hegemoni Barat.
Hubungan erat ini juga terlihat dalam konflik Ukraina. Belarus menjadi titik peluncuran invasi Rusia, sementara Korea Utara dilaporkan telah mengirimkan ribuan tentara serta pasokan persenjataan ke wilayah Kursk, Rusia.
Sebagai imbalannya, para analis menyebut Korea Utara menerima bantuan keuangan, teknologi militer, serta pasokan pangan dan energi dari Rusia.