Penulis
KOMPAS.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah mematangkan rencana operasi darat terbatas di wilayah Iran.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memberikan opsi militer maksimal bagi Presiden Donald Trump dalam konflik yang kini memasuki minggu kelima.
Rencana tersebut dapat melibatkan serangan oleh pasukan operasi khusus dan pasukan infanteri konvensional yang akan membuat personel AS rentan terhadap drone dan rudal Iran, tembakan darat, dan bahan peledak rakitan.
Meski demikian, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa hingga kini Presiden Trump belum memberikan keputusan final untuk menyetujui pengerahan pasukan darat tersebut.
Baca juga: Lebih dari 50.000 Tentara AS Sudah di Timteng, Invasi Darat ke Iran Makin Dekat?
“Merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan agar memberikan Panglima Tertinggi pilihan maksimal. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan,” ujarnya, dikutip dari Washington Post.
Pemerintahan Trump telah mengerahkan ribuan marinir AS ke Timur Tengah seiring perang di Iran yang memasuki minggu kelima.
Ia juga berencana untuk mengirim ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke wilayah tersebut.
Pada Jumat (27/3/2026), sekitar 3.500 tentara tambahan tiba di Timur Tengah dengan menumpang kapal USS Tripoli.
Para pelaut dan marinir tersebut tergabung dalam Unit Ekspedisi Marinir ke-31, bersama dengan pesawat angkut dan pesawat tempur serang, serta aset serbu amfibi dan taktis.
Baca juga: Para Pemimpin Eropa Kecam Israel Usai Halangi Misa Minggu Palma di Gereja Makam Kudus
Para pejabat yang berbicara kepada The Washington Post mengatakan, diskusi di dalam pemerintahan selama sebulan terakhir telah menyentuh kemungkinan perebutan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk.
Selain itu, ada potensi penggerebekan ke daerah pesisir lainnya di dekat Selat Hormuz untuk menemukan, serta menghancurkan senjata yang dapat menargetkan pengiriman komersial dan militer.
Menurut laporan tersebut, tujuan yang sedang dipertimbangkan kemungkinan akan membutuhkan waktu beberapa minggu, bukan beberapa bulan untuk diselesaikan, sementara orang lain memperkirakan jangka waktunya sekitar beberapa bulan.
Pentagon belum menanggapi permintaan komentar dari laporan itu. Iran juga belum menanggapi laporan tersebut.
Laporan ini muncul ketika Pakistan menjadi mediator antara Washington dan Teheran, dengan menyelenggarakan pembicaraan selama dua hari yang dimulai pada Minggu (29/3/2026) dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir.
Baca juga: Peringatan Iran, Pasukan AS Akan Jadi Makanan Hiu jika Lakukan Invasi Darat
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dilaporkan tengah digadang-gadang Amerika Serikat untuk menjadi Pemimpin Baru Iran.