Penulis
KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Malaysia telah memperoleh jaminan dari Iran bahwa kapal-kapalnya akan diberikan izin untuk melewati Selat Hormuz dengan aman dan tanpa biaya.
Diketahui, Iran telah menutup arus lalu lintas melalui Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat-Iran.
Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke mengatakan, kapal tanker Malaysia yang diizinkan melewati Selat Hormuz akan dibebaskan dari tarif yang mungkin dikenakan oleh Iran.
"Tidak, ini sama sekali tidak, Duta Besar Iran (untuk Malaysia) telah menyebutkan hal ini, tidak ada pungutan tol yang dikenakan pada kapal-kapal Malaysia," kata Loke kepada wartawan pada hari Selasa (31/3/2026), dikutip dari AFP.
"Kami adalah partai yang bersahabat. Kami memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran," sambungnya.
Baca juga: Kirim Peringatan, Iran Bakal Targetkan Rumah Pejabat dan Komandan AS-Israel
Kendati demikian, dibutuhkan waktu bagi kapal-kapal Malaysia untuk melewati Selat Hormuz karena ada banyak kapal yang terdampar dan berlabuh di sana.
"Namun, saya pikir pemerintah Iran telah memberikan komitmen mereka dan kami yakin kapal-kapal kami akan dapat melewati perbatasan," jelas dia.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dalam pengumuman yang disiarkan televisi pekan lalu, mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin yang diberikan kepada kapal dari negaranya.
Baca juga: Kapal Malaysia, Thailand, dan Lima Negara Boleh Lewati Selat Hormuz, Indonesia Bagaimana?
Media pemerintah Iran pada Senin (30/3/2026) melaporkan, komisi parlemen telah menyetujui rencana untuk mengenakan tarif pada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sementara, Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan sebelumnya menuturkan, kapal tanker yang dimiliki oleh raksasa minyak Petronas, Sapura Energy, dan perusahaan maritim MISC sedang menunggu izin untuk berlayar dengan aman melalui selat tersebut.
Iran telah mengindikasikan bahwa mereka akan mengizinkan kapal-kapal dari negara-negara yang dianggap bersahabat untuk melewati selat tersebut.
Baca juga: Mampukah Pakistan Damaikan Perang AS Vs Iran?
Perahu berlayar di perairan Selat Hormuz dari arah Khasab di Oman, Semenanjung Musandam, 25 Juni 2025.Perusahaan analisis maritim global Kpler mengatakan, negara-negara Asia menghadapi krisis energi besar sebagai akibat dari perang Iran, dengan penurunan tajam dalam pengiriman minyak mentah dan sedikit alternatif.
"Kami pikir Asia, untuk saat ini, akan menjadi wilayah yang paling menderita," kata presiden Kpler, Jean Maynier.
Menurutnya, Asia tidak memiliki sumber daya energi sendiri yang cukup untuk mengisi kesenjangan.
Dampak dari penutupan Selat Hormuz secara de facto telah mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah luar biasa, seperti Filipina yang telah mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional.
Baca juga: Langit Isfahan Membara, Iran Klaim Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper AS
"Saat ini hampir tidak ada minyak mentah yang tiba di Asia dan tidak ada alternatif yang layak untuk impor energi dari Timur Tengah, sementara persediaan terus menipis," ujarnya.
Menurut Kpler, 17 kapal pengangkut komoditas melintasi selat tersebut selama akhir pekan, 12 di antaranya pada Sabtu (28/3/2026), menjadikannya salah satu hari tersibuk untuk penyeberangan sejak 1 Maret.
Hingga Senin (30/3/2026), kapal-kapal pengangkut komoditas hanya melakukan 196 penyeberangan jalur air bulan ini, penurunan yang sangat besar dibandingkan sebelum perang.
Dari jumlah tersebut, 120 di antaranya adalah kapal tanker minyak dan kapal pengangkut gas, dan sebagian besar sedang berlayar ke arah timur keluar dari selat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang