Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

800 Tahun Santo Fransiskus, Kota Assisi Jadi Magnet Ziarah Dunia

Kompas.com, 31 Maret 2026, 17:45 WIB
Aditya Jaya Iswara

Editor

Penulis: Stanislaus Jumar Sudiyana/Sonora.id

ASSISI, KOMPAS.com - Menjelang peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi pada 2026, kota kecil Assisi di Italia berubah menjadi simpul ziarah global.

Ribuan peziarah dari berbagai negara berdatangan, menghidupkan kembali jejak spiritualitas Fransiskan yang menekankan jalan kemiskinan, kesederhanaan, perdamaian, dan cinta pada sesama serta alam ciptaan.

Momentum ini semakin istimewa setelah Paus Leo XIV menetapkan Tahun Yubileum Fransiskan yang berlangsung dari 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027. Tahun suci ini memperingati 800 tahun wafat (Transitus) Santo Fransiskus, dengan fokus pada nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Tahun Suci Yubileum di Natal, Hanya Terjadi 2 Kali Seabad

Dalam tradisi Gereja, Tahun Yubileum juga membuka kesempatan bagi umat untuk memperoleh indulgensi penuh melalui ziarah ke gereja-gereja Fransiskan, disertai pemenuhan syarat-syarat sakramental.

Perjalanan menuju Assisi dari Kota Roma bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan juga perjalanan batin dan spiritual.

Dengan kereta Trenitalia, rute sepanjang sekitar 176 kilometer ditempuh dalam waktu lebih kurang 2,5 jam dari Stasiun Termini Roma menuju Stasiun kecil Assisi. 

Lanskap Italia tengah menyuguhkan desa-desa yang tenang hingga bentangan Pegunungan Subasio yang puncaknya masih menyisakan salju kontras yang menghadirkan rasa hening sekaligus agung.

Setibanya di stasiun, perjalanan berlanjut menuju kota tua Assisi di lereng bukit. Di sinilah atmosfer spiritual terasa kian pekat. Jalan-jalan batu, lorong sempit, dan bangunan abad pertengahan membawa peziarah seakan kembali ke abad ke-13, masa ketika Fransiskus berjalan kaki mewartakan Injil dalam kemiskinan.

Terlahir sebagai bangsawan, Santo Fransiskus memilih menuju jalan kemiskinan. Lahir dengan nama Giovanni di Pietro di Bernardone, Santo Fransiskus dari Assisi berasal dari keluarga berada.

Ayahnya adalah saudagar kain kaya di Assisi, sedangkan ibunya berdarah Perancis yang membuat Fransiskus muda hidup dalam kemewahan dan pergaulan kelas atas.

Namun, sebuah titik balik mengubah arah hidupnya. Setelah mengalami pergulatan batin dan panggilan iman yang mendalam, Fransiskus memilih meninggalkan seluruh kekayaan dan status sosialnya.

Ia bahkan melepaskan pakaian mewah yang dikenakannya sebagai simbol penolakan terhadap dunia lama, dan memilih hidup miskin, melayani kaum kecil, serta merawat alam sebagai “saudara dina”.

Pilihan radikal ini menjadi fondasi spiritualitas Fransiskan: hidup sederhana, dekat dengan yang lemah, serta memandang seluruh ciptaan sebagai bagian dari keluarga Tuhan.

Baca juga: Paus Leo Tutup Pintu Suci Basilika Santo Petrus, Tanda Berakhirnya Tahun Yubelium 2025

Minggu Palma dan jejak ziarah

Para peziarah Tahun Yubileum Santo Fransiskus memasuki Basilika Santo Fransiskus Assisi.SONORA.ID/STANISLAUS JUMAR SUDIYANA Para peziarah Tahun Yubileum Santo Fransiskus memasuki Basilika Santo Fransiskus Assisi.
Dari Assisi, Provinsi Perugia, Italia Stanislaus Jumar Sudiyana, Wartawan Radio Sonora/Sonora.id melaporkan memasuki rangkaian Pekan Suci Paskah, suasana di Kota Assisi mencapai puncaknya. 

Halaman:

Terkini Lainnya
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Global
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...
Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...
Global
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
800 Tahun Santo Fransiskus, Kota Assisi Jadi Magnet Ziarah Dunia
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat