Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...

Kompas.com, 1 April 2026, 12:00 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

SEDANAU, KOMPAS.com – Pagi hari di Sedanau, Kabupaten Natuna, Abu Hurairah Latimba (50) mulai mengkalkulasi jarak tempuh, kebutuhan solar, es batu, hingga logistik untuk bertahan hidup selama dua pekan di laut.

Abu adalah nelayan pancing ulur di Laut Natuna Utara. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, ia banyak memburu kakap merah, komoditas bernilai tinggi yang hidup di perairan dalam.

Tak ada keraguan atau rasa takut di matanya, meski ia paham bahwa laut tempatnya menggantungkan hidup berada di tengah klaim berlapis, patroli penjaga pantai, serta lalu-lalang kapal asing.

Baca juga: China Diam-diam Reklamasi Pulau Baru di Laut China Selatan

Setiap dua kali sebulan, Abu akan berangkat menangkap ikan—sesuatu yang telah ia tekuni sejak berusia 10 tahun—demi menghidupi keluarganya.

“Kalau tak ada halangan, besok saya jalan lagi di pagi hari,” ujarnya saat dihubungi oleh Kompas.com lewat panggilan telepon, Senin (2/2/2026).

Jika cuaca sedang bersahabat, Abu bisa mendapatkan 1,5 ton ikan setelah berlayar setengah bulan untuk kemudian dijual ke Tanjung Balai. Kalau yang terjadi sebaliknya, pria berusia 50 tahun itu hanya bisa membawa pulang 300 kilogram ikan.

Namun baginya, laut hari ini tak lagi sama seperti yang ia kenal empat dekade lalu.

Setiap kali perahunya meninggalkan Pantai Sedanau, ia sadar yang dihadapi bukan hanya ombak dan cuaca, tetapi juga persaingan ruang tangkap serta ketidakpastian hasil.

Kini, ia harus menempuh 80 hingga 180 mil, bahkan pernah mencapai 320 mil—mendekati wilayah yang oleh nelayan setempat disebut “garis putus-putus”, area yang bersinggungan dengan klaim sepihak China di Laut Natuna Utara.

Kehadiran kapal asing di Laut Natuna

Foto ini menunjukkan pemandangan udara BRP Datu Tamblot (kanan) dan kapal nelayan Filipina dalam misi membawa pasokan dan bantuan kepada para nelayan di atas Scarborough Shoal di Laut China Selatan yang disengketakan pada 16 Februari 2024.AFP/JAM STA ROSA Foto ini menunjukkan pemandangan udara BRP Datu Tamblot (kanan) dan kapal nelayan Filipina dalam misi membawa pasokan dan bantuan kepada para nelayan di atas Scarborough Shoal di Laut China Selatan yang disengketakan pada 16 Februari 2024.

Di Laut Natuna Utara, Abu mengatakan, kehadiran kapal asing bukan cerita musiman.

“Kalau bertanya seberapa sering kapal asing di Laut Natuna, saya bisa katakan setiap jam, setiap hari, setiap waktu, setiap bulan,” ucapnya.

Ia menyebut kapal-kapal dari Thailand, Vietnam, Kamboja, hingga Malaysia kerap terlihat.

Kapal-kapal itu berkapasitas besar, sekitar 50 ton, dan menggunakan alat tangkap trawl.

Bahkan, menurutnya, ada nelayan Vietnam dan Thailand yang sering mengibarkan bendera Indonesia untuk mengelabui petugas.

Sebagai nelayan tradisional, Abu memilih menjaga jarak. Ia paham betul bahwa dirinya tak memiliki kewenangan untuk melakukan pengusiran.

“Saya biarkan. Saya menjauh tidak, mendekat pun tidak. Saya juga tidak melarang mereka tangkap ikan. Bagaimananya kami mau melarang, kami sekadar nelayan kan?”

Namun, ia melihat kontras yang sangat jauh antara nelayan asing dan nelayan tradisional Natuna. Hal ini yang membuatnya dan nelayan Natuna lain merasa terancam.

Pasalnya, nelayan-nelayan dari negara tetangga kerap menggunakan alat modern, yang berarti hasil tangkapan menjadi lebih banyak.

Alat-alat itu digunakan dengan tanpa memikirkan habitat di laut yang menjadi pusat mata pencarian warga Natuna.

“Ada perasaan merasa terancam dengan keberadaan kapal nelayan asing karena hasil tangkapan jadi berkurang. Bahkan terumbu karang bisa mereka angkut semua ke atas,” ucap Abu.

Ia menggambarkan alat tangkap trawl “seperti orang nyangkul di sawah”. Ikan diangkat bersama terumbu karang dan biota lain.

“99 persen nelayan Natuna itu pakai alat tradisional,” katanya.

“Sedangkan kapal-kapal asing ini pakai trawl. Tujuannya supaya dapat lebih banyak, tapi justru merusak ekosistem.”

Hal yang membuatnya tercekat adalah penghasilan kapal nelayan asing yang berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan nelayan tradisional Natuna.

“Ada yang pernah cerita ke saya. Mereka (nelayan asing) bisa meraup Rp 10 miliar untuk sekali jalan dalam 15 hari,” ucapnya.

Angka itu sulit dibayangkan bagi nelayan pancing ulur seperti Abu. Bagi dirinya dengan hasil tangkapan 1,5 ton, membawa pulang uang Rp 5 juta selama 12 hari di laut termasuk hal yang paling menguntungkan.

Halaman:

Terkini Lainnya
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Global
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...
Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...
Global
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Internasional
Kebakaran Besar Landa Bandara Kuwait Usai Serangan Drone
Kebakaran Besar Landa Bandara Kuwait Usai Serangan Drone
Internasional
Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Internasional
Presiden Iran Nyatakan Siap Akhiri Perang, Asalkan...
Presiden Iran Nyatakan Siap Akhiri Perang, Asalkan...
Internasional
Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah
Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah
Internasional
8 Juta Warga Turun ke Jalan, Demo 'No Kings' Jadi Alarm Demokrasi di AS?
8 Juta Warga Turun ke Jalan, Demo "No Kings" Jadi Alarm Demokrasi di AS?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat