Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Balapan dengan China, AS Buru-buru Angkat 2 Pesawat Militer dari Laut China Selatan

Kompas.com, 21 November 2025, 11:15 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

Sumber CNN

TOKYO, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) tengah berupaya mengevakuasi dua pesawat militernya yang tenggelam di Laut China Selatan, sebuah situasi yang menurut para analis dapat membuka peluang bagi China untuk mengetahui teknologi AS jika Negeri Tirai Bambu berhasil menemukannya terlebih dahulu.

Dua pesawat itu—jet tempur F/A-18 Super Hornet dan helikopter MH-60—jatuh selang 30 menit saat beroperasi di kapal induk USS Nimitz pada akhir Oktober lalu. Seluruh awak berhasil diselamatkan.

Hingga kini, Angkatan Laut AS belum mengungkap penyebab resmi dua kecelakaan tersebut. Namun Presiden AS Donald Trump sempat mengatakan kepada wartawan bahwa “bahan bakar yang terkontaminasi” mungkin menjadi penyebabnya.

Baca juga: Heli dan Jet Tempur AS Jatuh Hampir Bersamaan di Laut China Selatan

Kapal penyelamat sudah di lokasi

Angkatan Laut AS mengonfirmasi kepada CNN bahwa sebuah kapal penyelamat telah berada di Laut China Selatan untuk melakukan operasi pengangkatan bangkai pesawat, tanpa mengungkap lokasi pasti titik jatuhnya pesawat.

“USNS SALVOR (T-ARS 52), kapal penyelamat kelas Safeguard yang dioperasikan oleh Military Sealift Command, berada di lokasi untuk melaksanakan operasi dalam mendukung upaya pemulihan,” kata Matthew Comer, juru bicara Armada ke-7 AS di Jepang.

Kapal Salvor mampu mengangkat benda hingga 300 ton dari dasar laut. Sebagai perbandingan, bobot maksimum F/A-18 saat lepas landas sekitar 33 ton dan MH-60 sekitar 11 ton.

Potensi bocornya teknologi AS

Jet tempur F/A-18E Super Hornet.AFP PHOTO / NAVY OFFICE OF INFORMATION / LOGAN HOLSHEY Jet tempur F/A-18E Super Hornet.

Meski F/A-18 dan MH-60 bukan pesawat paling mutakhir, para analis menilai keduanya tetap dapat menjadi sumber intelijen berharga jika China berhasil menemukannya.

“Memperoleh rangka pesawat dan sistem yang masih utuh akan memberikan wawasan berharga tentang kekuatan teknologinya dan bagaimana mengalahkannya secara taktis,” kata Carl Schuster, mantan kepala Joint Intelligence Center Komando Pasifik AS.

Ia menambahkan bahwa China belum pernah mendapatkan puing F/A-18 sebelumnya.

Jika Beijing berhasil mendapatkannya, mereka bisa mengumpulkan informasi untuk meningkatkan jet J-15T Angkatan Laut China, yang dinilai kurang canggih dibanding F/A-18.

Schuster juga menekankan bahwa MH-60 membawa sistem perang anti-kapal selam yang lebih maju daripada milik China saat ini.

Baca juga: Filipina Murka, Tuduh China Sengaja Tabrak Kapal Manila di Laut China Selatan

“China kini memprioritaskan peningkatan sistem perang anti-kapal selamnya. Jadi, memulihkan helikopter itu seharusnya menjadi prioritas tinggi,” ujarnya.

CNN belum dapat mengonfirmasi apakah China juga sedang berusaha menemukan puing pesawat tersebut. Namun, China selama ini mengeklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, meski telah dibantah putusan pengadilan internasional.

Kasus serupa pada 2022

Situasi ini mengingatkan pada insiden 2022 ketika jet F-35, pesawat tempur paling canggih AS, jatuh saat mencoba mendarat di kapal induk USS Carl Vinson. Pada akhirnya, puing F-35 berhasil diangkat dari kedalaman 3.700 meter.

Halaman:

Terkini Lainnya
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Global
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Balapan dengan China, AS Buru-buru Angkat 2 Pesawat Militer dari Laut China Selatan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat