Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Teluk Disebut Murka, Nilai AS Gagal Beri Perlindungan dari Serangan Iran

Kompas.com, 7 Maret 2026, 13:26 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

KOMPAS.com - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi gelombang ketidakpuasan dari sekutu-sekutunya di kawasan Teluk. 

Negara-negara tersebut mengeluhkan kurangnya koordinasi dan waktu persiapan dalam menghadapi serbuan drone serta rudal Iran sejak konflik pecah.

Dikutip dari AP News, sejumlah pejabat dari dua negara Teluk mengungkapkan kekecewaan mendalam atas cara Washington menangani perang, terutama terkait serangan awal terhadap Iran pada 28 Februari lalu. 

Mereka menilai, AS mengabaikan peringatan bahwa konflik ini akan membawa konsekuensi destruktif bagi stabilitas kawasan.

Baca juga: Pekan Depan, Jam Kerja di Filipina Dikurangi Jadi 4 Hari Imbas Krisis Minyak

Fokus pada Israel, Teluk merasa ditinggalkan

Salah satu pejabat yang enggan disebutkan namanya menyebut adanya rasa frustrasi dan amarah karena militer AS dianggap tidak cukup membela kedaulatan mereka. 

Muncul keyakinan di kawasan bahwa operasi militer AS hanya berfokus pada perlindungan aset-aset Israel dan pasukan AS sendiri, sementara negara-negara Teluk dibiarkan melindungi diri secara mandiri.

Mereka menyatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyeret Presiden Donald Trump ke dalam perang yang tidak perlu.

Baca juga: Israel Rilis Video Hancurkan Bunker Khamenei, Kerahkan 50 Jet Tempur

"Ini adalah perang Netanyahu," tegas Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Arab Saudi, dalam wawancara dengan CNN. 

"Entah bagaimana dia berhasil meyakinkan Presiden Trump untuk mendukung pandangannya (terkait perang)," sambungnya.

Pemerintah Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab belum memberikan komentar resmi. 

Namun, tokoh-tokoh publik yang dekat dengan otoritas setempat mulai vokal mengkritik kebijakan Washington.

Baca juga: Dilirik AS, Begini Cara Senjata Jagoan Ukraina Rontokkan Drone Iran

Respons Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Brady Press Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, 20 Februari 2026.AFP/MANDEL NGAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Brady Press Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, 20 Februari 2026.

Menanggapi kritik tersebut, Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly mengeklaim bahwa intensitas serangan rudal balistik Iran sebenarnya telah berkurang hingga 90 persen berkat "Operasi Epic Fury".

"Presiden Trump menjalin kontak erat dengan semua mitra regional. Serangan rezim Iran terhadap tetangganya justru membuktikan pentingnya langkah Presiden untuk melenyapkan ancaman ini," ujar Kelly.

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan kerentanan. 

Halaman:


Terkini Lainnya
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Internasional
Kebakaran Besar Landa Bandara Kuwait Usai Serangan Drone
Kebakaran Besar Landa Bandara Kuwait Usai Serangan Drone
Internasional
Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau