Penulis
KOMPAS.com - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi gelombang ketidakpuasan dari sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
Negara-negara tersebut mengeluhkan kurangnya koordinasi dan waktu persiapan dalam menghadapi serbuan drone serta rudal Iran sejak konflik pecah.
Dikutip dari AP News, sejumlah pejabat dari dua negara Teluk mengungkapkan kekecewaan mendalam atas cara Washington menangani perang, terutama terkait serangan awal terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Mereka menilai, AS mengabaikan peringatan bahwa konflik ini akan membawa konsekuensi destruktif bagi stabilitas kawasan.
Baca juga: Pekan Depan, Jam Kerja di Filipina Dikurangi Jadi 4 Hari Imbas Krisis Minyak
Salah satu pejabat yang enggan disebutkan namanya menyebut adanya rasa frustrasi dan amarah karena militer AS dianggap tidak cukup membela kedaulatan mereka.
Muncul keyakinan di kawasan bahwa operasi militer AS hanya berfokus pada perlindungan aset-aset Israel dan pasukan AS sendiri, sementara negara-negara Teluk dibiarkan melindungi diri secara mandiri.
Mereka menyatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyeret Presiden Donald Trump ke dalam perang yang tidak perlu.
Baca juga: Israel Rilis Video Hancurkan Bunker Khamenei, Kerahkan 50 Jet Tempur
"Ini adalah perang Netanyahu," tegas Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Arab Saudi, dalam wawancara dengan CNN.
"Entah bagaimana dia berhasil meyakinkan Presiden Trump untuk mendukung pandangannya (terkait perang)," sambungnya.
Pemerintah Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab belum memberikan komentar resmi.
Namun, tokoh-tokoh publik yang dekat dengan otoritas setempat mulai vokal mengkritik kebijakan Washington.
Baca juga: Dilirik AS, Begini Cara Senjata Jagoan Ukraina Rontokkan Drone Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Brady Press Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, 20 Februari 2026.Menanggapi kritik tersebut, Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly mengeklaim bahwa intensitas serangan rudal balistik Iran sebenarnya telah berkurang hingga 90 persen berkat "Operasi Epic Fury".
"Presiden Trump menjalin kontak erat dengan semua mitra regional. Serangan rezim Iran terhadap tetangganya justru membuktikan pentingnya langkah Presiden untuk melenyapkan ancaman ini," ujar Kelly.
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan kerentanan.