Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...

Kompas.com, 1 April 2026, 12:00 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

“Kami sekali jalan itu modalnya Rp 15 juta untuk ongkos. Kalau dapat 1,5 ton ikan, kami bisa mendapat Rp 60 atau Rp 70 juta. Dikurangi ongkos dan dibagi sama empat rekan, satu orang kira-kira mendapat Rp 3 sampai 5 juta. Tapi kalau hasil tangkapan sedikit ya tidak sampai segitu,” tutur Abu.

“Jauh sekali selisihnya. Pendapatan kami ini tak ada apa-apanya dengan kapal nelayan asing, apalagi biaya hidup di sini mahal,” imbuhnya.

Sebagai Ketua Aliansi Nelayan Kecamatan Bunguran Barat, Abu mengaku sudah berulang kali melapor. Ia bahkan bersedia membantu otoritas mendeteksi kapal asing di laut.

Namun, tindakan aparat yang dinilai sangat minim membuatnya merasa harus menyerah.

“Terbukti dengan masih banyaknya kapal asing di sini. Bahkan kapal nelayan China itu ada yang sampai dikawal kapal penjaga pantainya waktu masuk ke Laut Natuna," ucapnya resah.

Baca juga: China Selamatkan 17 Pelaut Filipina yang Kecelakaan di Laut China Selatan

Diusir di laut sendiri

Pada 2024, pengalaman pahit saat melaut datang langsung. Saat mencari ikan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, Abu diusir oleh kapal penjaga pantai China.

“Pakai bahasa isyarat saja. Kami mau tak mau ya harus pergi,” katanya.

Padahal, menurutnya, itu wilayah yang seharusnya dapat dimanfaatkan nelayan Indonesia.

“Mengapa kami diusir? Itu yang saya tak tahu," tanya Abu heran.

Meski demikian, Abu merasa bersyukur karena hanya seorang nelayan tradisional. Menurut klaimnya, kapal yang menggunakan alat modern lebih berisiko untuk ditangkap.

Ancaman juga datang dari perbatasan lain. Abu bercerita, sejumlah rekannya pernah ditangkap aparat Malaysia dan ditahan hingga tujuh bulan.

“18 buah pompong yang sudah kena,” ujarnya.

Pada awal 2025, salah satu temannya diminta membayar denda sekitar Rp 1 miliar agar tidak dipenjara. Namun, katanya, nelayan Natuna biasanya akan memilih dipenjara dalam situasi tersebut daripada membayar denda.

“Mau cari Rp 1 miliar dari mana? Kami hanya nelayan pancing ulur,” tutur Abu.

Ironisnya, menurut Abu, nelayan Malaysia Barat seringkali memasuki wilayah perairan Indonesia tanpa ada pengusiran dari otoritas.

Perusakan rompong nelayan tradisonal

Nelayan tradisional Natuna juga dihadapkan dengan ancaman dari kapal-kapal perusak rompong. Bagi mereka, rompong—rumpon tradisional untuk mengumpulkan ikan—adalah investasi dan penanda ruang tangkap.

“Kami bikin rompong susah payah, malah dirusak,” kata Abu.

Ketika kapal besar mendekati rompong dan mengangkut anak-anak ikan, siklus regenerasi pun terganggu.

“Kalau ikan semua habis dan habitat rusak, kami dan anak-anak kami mau makan apa beberapa tahun ke depan?” ujarnya.

Oleh karena itu, Abu meminta kapal-kapal di atas 20 gross tonnage (GT) dijauhkan minimal 30 mil dari garis pantai Natuna.

“Kami minta 30 mil cukup lah dari garis pantai," pintanya.

Ia yakin dengan pembatasan itu, nelayan Natuna bisa bertahan “20 tahun, 30 tahun ke depan”.

Baca juga: Filipina Murka, Tuduh China Sengaja Tabrak Kapal Manila di Laut China Selatan

Respons otoritas: Patroli dan pengusiran

Secara hukum internasional, perairan tempat Abu melaut berada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, yang diakui berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS).

Namun secara geopolitik, kawasan itu berada di pinggiran konflik yang lebih besar: Sengketa Laut China Selatan.

China mengeklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan melalui apa yang disebut sebagai nine-dash line atau sembilan garis putus-putus—klaim sepihak yang tumpang tindih dengan ZEE sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia di perairan sekitar Natuna.

Pemerintah Indonesia menegaskan, tidak memiliki sengketa wilayah dengan China karena klaim nine-dash line tidak memiliki dasar hukum internasional, dan telah ditolak oleh putusan Mahkamah Arbitrase Permanen di Den Haag pada 2016 dalam perkara Filipina melawan China.

Akan tetapi di lapangan, klaim tersebut tetap memunculkan gesekan, terutama ketika kapal nelayan dan kapal penjaga pantai China memasuki wilayah yang oleh Indonesia disebut sebagai Laut Natuna Utara.

Halaman:

Terkini Lainnya
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Global
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Ketika Nelayan Natuna Terhimpit Kapal Asing dan Klaim Berlapis Laut China Selatan...
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat