Penulis
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) tengah berupaya mengangkat dua pesawat militernya yang jatuh ke dasar Laut China Selatan pada akhir Oktober 2025.
Dua pesawat tersebut adalah jet tempur F/A-18 Super Hornet dan helikopter MH-60, sebagaimana dilansir CNN, Jumat (21/11/2025).
Keduanya jatuh selang 30 menit saat tengah beroperasi dari kapal induk USS Nimitz dalam misi rutin. Seluruh awak berhasil diselamatkan.
Baca juga: Heli dan Jet Tempur AS Jatuh Hampir Bersamaan di Laut China Selatan
Belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab kecelakaan. Namun, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengisyaratkan bahwa bahan bakar terkontaminasi mungkin menjadi pemicu insiden tersebut.
Pihak Angkatan Laut mengonfirmasi kepada CNN bahwa satu kapal penyelamat kini berada di wilayah Laut China Selatan untuk melakukan operasi pengangkatan.
Lokasi jatuhnya pesawat tidak diungkapkan demi alasan keamanan.
"USNS SALVOR (T-ARS 52), kapal penyelamat kelas Safeguard yang dioperasikan Military Sealift Command, berada di lokasi dan melakukan operasi untuk mendukung upaya pemulihan," ujar Komodor Matthew Comer, juru bicara Armada ke-7 Angkatan Laut AS di Jepang.
Menurut dokumen Angkatan Laut AS, Salvor mampu mengangkat objek hingga 300 ton dari dasar laut.
Sebagai perbandingan, F/A-18 terbaru memiliki bobot maksimal sekitar 33 ton, sedangkan MH-60 hanya sekitar 11 ton.
Baca juga: China-Australia Adu Mulut soal Jet Tempur Su-35 Lepas Flare di Laut China Selatan
Meski bukan yang tercanggih di jajaran Angkatan Laut, kedua pesawat itu tetap menyimpan komponen strategis.
AS buru-buru melakukan pengangkatan pesawat karena puing-puing pesawat bisa menjadi sumber informasi sensitif jika lebih dulu ditemukan oleh China.
Para analis menilai, kerangka pesawat dan sistem elektronik yang masih utuh bisa dimanfaatkan pihak lawan untuk mempelajari kelemahan teknologi AS.
"Memperoleh rangka pesawat dan sistem yang bertahan akan memberikan wawasan penting tentang kekuatan teknologinya dan cara mengalahkannya secara taktis," kata Carl Schuster, mantan kepala Pusat Intelijen Komando Pasifik AS.
Baca juga: Filipina Murka, Tuduh China Sengaja Tabrak Kapal Manila di Laut China Selatan
Schuster menjelaskan bahwa China belum pernah mendapatkan F/A-18 sebelumnya.
Jika Beijing berhasil mengamankan bangkai pesawat, informasi tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan jet tempur J-15T milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China.
Schuster menambahkan, MH-60 membawa sistem perang anti-kapal selam yang kemungkinan lebih maju dibanding milik China.
"China saat ini memprioritaskan peningkatan sistem perang anti-kapal selamnya. Karena itu, upaya untuk mendapatkan helikopter tersebut akan menjadi prioritas tinggi," ujarnya.
Hingga kini, belum dipastikan apakah China juga tengah mencari puing-puing pesawat tersebut.
Baca juga: Teror di Laut China Selatan, Jet Tempur Beijing Gertak Kapal Perang Inggris
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang