KOMPAS.com - Shell menyampaikan, emisi gas rumah kaca (GRK)-nya secara umum tetap stabil pada tahun 2025 di angka sekitar 1,1 miliar metrik ton karbon dioksida (CO2) ekuivalen, menurut laporan tahunan perusahaan serta perhitungan dari Reuters.
Angka tersebut mencerminkan skala emisi yang berkaitan dengan operasional energi global perusahaan dan pembakaran bahan bakar yang mereka jual, dilansir dari ESG News, Jumat (13/3/2026).
Baca juga:
Data tersebut mengilustrasikan tantangan iklim yang terus berlanjut dari produsen minyak dan gas besar, yang laporan emisinya mencakup hasil operasional perusahaan maupun dampak hilir dari konsumsi energi oleh masyarakat.
Mayoritas emisi perusahaan minyak dan gas multinasional ini masuk dalam kategori Scope 3, yang mencakup emisi yang dihasilkan oleh pelanggan saat menggunakan bahan bakar yang dijual perusahaan.
Bagi perusahaan energi raksasa ini, emisi tersebut merupakan bagian terbesar dari keseluruhan jejak karbon mereka.
Emisi Scope 1 dan IScope 2 meliputi aktivitas operasional seperti ekstraksi, penyulingan, dan penggunaan listrik di seluruh fasilitas perusahaan.
Sementara itu, scope 3 mencatat pembakaran minyak, gas, dan bahan bakar lainnya setelah produk tersebut sampai ke tangan pengguna akhir.
Karena perusahaan minyak dan gas beroperasi, terutama sebagai pemasok energi, emisi Scope 3 sering kali mewakili lebih dari 80 persen dari total dampak iklim yang mereka laporkan.
Skala emisi ini menjadi pusat perdebatan mengenai kecepatan dan kredibilitas strategi transisi industri tersebut, terutama karena permintaan terhadap hidrokarbon tetap kuat di banyak pasar global.
Baca juga:
Shell menyampaikan, emisi gas rumah kaca (GRK)-nya secara umum tetap stabil pada tahun 2025 di angka sekitar 1,1 miliar metrik ton CO2 ekuivalen.Sementara itu, Shell menyampaikan, Intensitas Karbon Bersih (Net Carbon Intensity/NCI) berada di angka 71 gram CO2 ekuivalen per megajoule pada tahun 2025.
NCI merupakan metrik utama yang digunakannya untuk memantau kemajuan target transisi energinya.
Angka tersebut tidak berubah dibandingkan dengan level pada tahun 2024.
Namun, perusahaan telah menetapkan target untuk menurunkan ukuran ini menjadi nol pada tahun 2050 sebagai bagian dari strategi jangka panjangnya guna menyelaraskan portofolio energinya dengan tujuan iklim global.
Intensitas karbon bersih mengukur emisi yang dihasilkan per unit energi yang dipasok, bukan total emisi secara keseluruhan.
Pendekatan ini mencerminkan bagaimana perusahaan mencampur bahan bakar fosil dengan produk rendah karbon seperti listrik terbarukan, bahan bakar nabati, atau hidrogen dalam bauran energi mereka secara menyeluruh.
Bagi perusahaan energi terintegrasi yang besar, metrik intensitas ini menjadi cara untuk mengukur kemajuan sambil tetap menjaga tingkat pasokan di pasar global.
Kendati demikian, target iklim berbasis intensitas tetap menjadi subyek perdebatan di antara para pembuat kebijakan, investor, dan analis iklim.
Mengukur kinerja emisi berdasarkan intensitas berarti sebuah perusahaan secara teknis dapat meningkatkan produksi bahan bakar fosil dan emisi total mereka, sembari menggunakan skema karbon kredit atau menambahkan energi terbarukan atau bahan bakar nabati ke dalam bauran produk mereka demi menurunkan angka laporan utamanya.
Para kritikus berpendapat, pendekatan ini dapat menutupi kenaikan emisi absolut, terutama jika permintaan energi global terus tumbuh.
Sebaliknya, pihak lain berargumen bahwa metrik intensitas mencerminkan jalur transisi yang lebih baik bagi perusahaan yang beroperasi di pasar di mana bahan bakar fosil masih mendominasi.
Bagi produsen energi multinasional, menyeimbangkan ketahanan energi, ekspektasi pemegang saham, serta komitmen dekarbonisasi tetap menjadi sebuah persamaan strategis yang kompleks.
Baca juga: PBB Usul Pajak bagi Perusahaan Bahan Bakar Fosil dan Orang Terkaya
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya