Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Aksi Perubahan Iklim Bergerak Lambat?

Kompas.com, 21 Maret 2026, 07:37 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Kesadaran tentang perubahan iklim telah tumbuh, tapi aksi skala besar dinilai masih tertinggal. Mengapa perubahan terkait lingkungan tidak tersebar rata?

Orang cenderung percaya, begitu ada solusi baik yang muncul, masyarakat akan menerimanya dengan cepat, menurut studi baru dari University of Zurich, Swiss, dalam jurnal Nature Human Behaviour.

Baca juga:

Padahal kenyataannya bisa tidak demikian. Perubahan bergerak lambat karena setiap orang bereaksi berbeda, dilansir dari Earth, Jumat (20/3/2026).

"Mereka menanggapi apa yang dilakukan orang-orang di sekitar mereka, tapi jumlah dorongan yang mereka butuhkan bervariasi dari orang ke orang," kata Dr. Manuel Mariani, peneliti utama di Departemen Administrasi Bisnis University of Zurich.

"Beberapa orang akan mencoba ide baru begitu mereka mendengarnya. Yang lain menunggu sampai semua orang melakukannya," imbuh dia.

Sebagai contoh, seseorang mungkin langsung beralih ke kebijakan energi baru hanya setelah melihat sedikit orang yang mendukungnya.

Namun, orang lain mungkin akan menunggu sampai sebagian besar orang setuju. Hal ini menunjukkan bahwa satu pendekatan tunggal tidak akan bisa berhasil untuk semua orang.

Baca juga:

Aksi perubahan lingkungan tidak tersebar rata

Ada peran jaringan sosial

Banyak orang sadar perubahan iklim, tapi aksi nyata masih tertinggal. Simak alasan mengapa masyarakat sulit menerima solusi lingkungan baru.freepik Banyak orang sadar perubahan iklim, tapi aksi nyata masih tertinggal. Simak alasan mengapa masyarakat sulit menerima solusi lingkungan baru.

Keputusan manusia tidak terjadi begitu saja secara mandiri. Teman, keluarga, dan koneksi secara online (daring) memengaruhi perilaku seseorang. Di titik itulah jejaring sosial menjadi sangat penting.

Tim peneliti ingin mengukur seberapa banyak dukungan yang dibutuhkan seseorang sebelum menerima ide baru. Tingkat ini disebut ambang batas pribadi.

Studi tersebut menemukan beberapa pola penting. Orang dengan ambang batas tinggi membutuhkan dukungan yang kuat sebelum mereka mau berubah.

Menargetkan orang-orang ini untuk mau melakukan aksi iklim secara langsung tidak selalu berhasil. Pendekatan yang lebih baik adalah fokus pada orang-orang yang terhubung dengan mereka yaitu mereka yang sudah hampir siap untuk berubah.

Temuan ini dapat membantu pemerintah dan organisasi merancang program yang lebih efektif. Aksi iklim, kampanye kesehatan masyarakat, dan upaya kesadaran sosial semuanya dapat memperoleh manfaat dari penelitian ini.

“Dengan mengidentifikasi siapa saja yang hanya membutuhkan 'sedikit dorongan' dan memahami bagaimana pengaruh tersebut menyebar melalui jejaring sosial, sebuah intervensi dapat dirancang untuk menghasilkan dampak yang jauh lebih besar,” ujar René Algesheimer, Profesor Pemasaran untuk Dampak Sosial di University of Zurich.

Alih-alih mendorong semua orang secara merata, program dapat fokus pada orang yang tepat pada waktu yang tepat.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau