KOMPAS.com - Konvensi Perjanjian Lingkungan Hidup Internasional PBB atau Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) memasukkan 40 spesies baru dalam daftar hewan dilindungi.
Keputusan ini diumumkan dalam penutupan Conference of The Parties (COP) 15 di Verde, Brasil, yang mempertemukan perwakilan 132 negara dan Uni Eropa.
“Kami datang ke Campo Grande dengan mengetahui bahwa populasi separuh spesies yang dilindungi berdasarkan perjanjian ini sedang menurun. Kami membawa perlindungan yang lebih kuat dan rencana yang lebih ambisius, tetapi spesies itu sendiri tidak menunggu pertemuan kami berikutnya, implementasi harus dimulai besok," ujar Sekretaris Eksekutif CMS, Amy Fraenkel, dilansir dari Eurea Alert, Rabu (31/3/2026).
Baca juga: Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia
Berikut daftar spesies baru dilindungi:
Menurut Fraenkel, tambahan daftar spesies dilindungi bagi hyena bergaris, burung hantu salju, berang-berang raksasa, hiu martil besar, dan spesies lainnya, menunjukkan setiap negara dapat bertindak melindungi satwa dari kepunahan.
"Tugas kita sekarang adalah untuk mempersempit jarak antara apa yang telah kita sepakati dan apa yang terjadi di lapangan bagi hewan-hewan ini," sebut dia.
Lampiran I CMS mencakup spesies migrasi yang terancam punah di alam liar di seluruh atau sebagian besar wilayah sebarannya. Negara-negara yang merupakan wilayah kangkauan bagi spesies migrasi yang tercantum dalam lampiran I berupaya melindungi spesies tersebut secara ketat dengan melarang pembunuhan, penangkapan, atau gangguan yang disengaja, melestarikan dan memulihkan habitatnya.
Sedangkan lampiran II CMS? meliputi spesies yang status konservasinya akan sangat diuntungkan dari kerja sama internasional yang dapat dicapai melalui kesepakatan internasional.
Mengutip Phys, berdasarkan laporan yang dirilis menjelang COP15, hampir setengah (49 persen) dari semua spesies yang dikatalogkan oleh CMS menunjukkan tanda-tanda penurunan jumlah, dengan hampir satu dari empat spesies terancam punah di seluruh dunia.
Penilaian penting PBB lainnya, yang diterbitkan pada hari Selasa saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dibuka, memperingatkan populasi ikan air tawar migrasi yang sangat penting bagi kesehatan sungai dan menopang mata pencaharian jutaan orang sedang mengalami penurunan drastis dan berisiko runtuh.
Menurut laporan tersebut, total 188 spesies migrasi saat ini menghadapi kemungkinan kepunahan, termasuk 28 mamalia darat, 23 mamalia air, 103 spesies burung, delapan spesies reptil, dan 26 jenis ikan.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa 26 spesies yang terdaftar dalam CMS, termasuk 18 burung pantai migrasi, telah berpindah ke kategori risiko kepunahan yang lebih tinggi.
Perusakan habitat, penangkapan ikan berlebihan, dan polusi air dari Amazon hingga Danube mengancam kelangsungan hidup ratusan spesies yang perjalanan epiknya di sepanjang sungai-sungai besar dunia sebagian besar tidak disadari.
“Dari Pantanal hingga Arktik, dari lautan hingga sabana, spesies migrasi menghubungkan planet kita dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh peta politik mana pun. Mereka mengingatkan kita bahwa integritas ekologis bergantung pada keberlanjutan aliran yang harus tetap hidup, tidak terputus, dan tangguh," ucap Ketua COP15 sekaligus Sekretaris Eksekutif, Kementerian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Brasil, Joao Paulo Capobianco.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya