Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daftar 40 Spesies Baru yang Dilindungi, Ada Hyena hingga Hiu

Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:00 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konvensi Perjanjian Lingkungan Hidup Internasional PBB atau Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) memasukkan 40 spesies baru dalam daftar hewan dilindungi.

Keputusan ini diumumkan dalam penutupan Conference of The Parties (COP) 15 di Verde, Brasil, yang mempertemukan perwakilan 132 negara dan Uni Eropa.

“Kami datang ke Campo Grande dengan mengetahui bahwa populasi separuh spesies yang dilindungi berdasarkan perjanjian ini sedang menurun. Kami membawa perlindungan yang lebih kuat dan rencana yang lebih ambisius, tetapi spesies itu sendiri tidak menunggu pertemuan kami berikutnya, implementasi harus dimulai besok," ujar Sekretaris Eksekutif CMS, Amy Fraenkel, dilansir dari Eurea Alert, Rabu (31/3/2026).

Baca juga: Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia

Berikut daftar spesies baru dilindungi:

  • Simpanse (Pan troglodytes)
  • Kelelawar buah berwarna jerami (Eidolon helvum)
  • Lynx eurasia (Lynx lynx)
  • Hyena bergaris (Hyaena hyaena)
  • Paus sperma (Physeter macrocephalus) di Pasifik Tropis Timur
  • Lumba-lumba franciscana (Pontoporia blainvillei)
  • Lumba-lumba hidung botol lahille (Tursiops truncatus gephyreus)
  • Albatros antipoda (Diomedea antipodensis)
  • Burung camar berkaki daging (Ardenna carneipes)
  • Pelikan peru atau humboldt (Pelecanus thagus)
  • Cerek magellan (Pluvianellus socialis)
  • Hiu macan pasir (Carcharias taurus)
  • Hiu penjemur (Cetorhinus maximus)
  • Hiu biru (Prionace glauca)
  • Semua spesies pari setan dan Pari Manta (Mobulidae)
  • Citah (Acinonyx jubatus)
  • Burung petrel pengganggu (genus Pterodroma dan Pseudobulweria ) dengan total 16 yang ditambahkan ke lampiran II CMS dan sembilan ke Lampiran I CMS
  • Burung hantu salju (Bubo scandiacus)
  • Burung pemakan biji Iberá (Sporophila iberaensis)
  • Burung walet Hudsonian (Numenius phaeopus hudsonicus)
  • Hdsonian Godwit (Limosa haemastica)
  • Kaki kuning kecil (Tringa flavipes)
  • Berang-berang raksasa (Pteronura brasiliensis)
  • Anjing pemburu berhidung sempit dari Patagonia (Mustelus schmitti)
  • Ikan sorubim berbintik (Pseudoplatystoma corruscans)
  • Hiu thresher pelagis, hiu thresher bermata besar, dan hiu thresher biasa (Alopias pelagicus, Alopias superciliosus, Alopias vulpinus)
  • Hiu martil bergerigi (Sphyrna lewini)
  • Hiu martil besar (Sphyrna mokarran)

Menurut Fraenkel, tambahan daftar spesies dilindungi bagi hyena bergaris, burung hantu salju, berang-berang raksasa, hiu martil besar, dan spesies lainnya, menunjukkan setiap negara dapat bertindak melindungi satwa dari kepunahan.

"Tugas kita sekarang adalah untuk mempersempit jarak antara apa yang telah kita sepakati dan apa yang terjadi di lapangan bagi hewan-hewan ini," sebut dia.

Lampiran I CMS mencakup spesies migrasi yang terancam punah di alam liar di seluruh atau sebagian besar wilayah sebarannya. Negara-negara yang merupakan wilayah kangkauan bagi spesies migrasi yang tercantum dalam lampiran I berupaya melindungi spesies tersebut secara ketat dengan melarang pembunuhan, penangkapan, atau gangguan yang disengaja, melestarikan dan memulihkan habitatnya.

Sedangkan lampiran II CMS? meliputi spesies yang status konservasinya akan sangat diuntungkan dari kerja sama internasional yang dapat dicapai melalui kesepakatan internasional.

Setengah Populasi Merosot 

Mengutip Phys, berdasarkan laporan yang dirilis menjelang COP15, hampir setengah (49 persen) dari semua spesies yang dikatalogkan oleh CMS menunjukkan tanda-tanda penurunan jumlah, dengan hampir satu dari empat spesies terancam punah di seluruh dunia.

Penilaian penting PBB lainnya, yang diterbitkan pada hari Selasa saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dibuka, memperingatkan populasi ikan air tawar migrasi yang sangat penting bagi kesehatan sungai dan menopang mata pencaharian jutaan orang sedang mengalami penurunan drastis dan berisiko runtuh.

Menurut laporan tersebut, total 188 spesies migrasi saat ini menghadapi kemungkinan kepunahan, termasuk 28 mamalia darat, 23 mamalia air, 103 spesies burung, delapan spesies reptil, dan 26 jenis ikan.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa 26 spesies yang terdaftar dalam CMS, termasuk 18 burung pantai migrasi, telah berpindah ke kategori risiko kepunahan yang lebih tinggi.

Perusakan habitat, penangkapan ikan berlebihan, dan polusi air dari Amazon hingga Danube mengancam kelangsungan hidup ratusan spesies yang perjalanan epiknya di sepanjang sungai-sungai besar dunia sebagian besar tidak disadari.

“Dari Pantanal hingga Arktik, dari lautan hingga sabana, spesies migrasi menghubungkan planet kita dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh peta politik mana pun. Mereka mengingatkan kita bahwa integritas ekologis bergantung pada keberlanjutan aliran yang harus tetap hidup, tidak terputus, dan tangguh," ucap Ketua COP15 sekaligus Sekretaris Eksekutif, Kementerian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Brasil, Joao Paulo Capobianco.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau