Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Dominasi dan Kontrol Berlebih, Ciri Hubungan Asmara Tak Sehat

Kompas.com, 29 Maret 2026, 18:30 WIB
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

KOMPAS.com- Obrolan seputar red flag, gaslighting, dan hubungan toksik, kini semakin marak di media sosial. Namun, ciri hubungan yang tidak sehat jauh lebih kompleks dari sekadar istilah tren tersebut dan bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

Spesialis rehabilitasi psikososial, Kendra Cherry, MS, menuturkan bahwa tanda-tanda hubungan yang merugikan ini sering "menyusup" dan berkembang tanpa disadari oleh pasangan.

"Masalahnya adalah, meskipun beberapa hubungan jelas toksik atau bahkan kasar, banyak pola hubungan yang tidak sehat dapat berkembang dari waktu ke waktu dan jauh lebih halus," tulis Cherry dalam artikelnya di Verywell Mind, disadur pada Minggu (29/3/2026).

Baca juga: Bare Minimum: Memahami Batas Usaha dalam Sebuah Hubungan

Mengenali tanda hubungan yang tidak sehat

Setiap jalinan asmara tentu memiliki keunikannya sendiri dan terus berproses seiring berjalannya waktu.

Sebuah ikatan yang pada awalnya dimulai dengan fondasi yang sehat bisa saja secara bertahap memunculkan masalah pelik yang harus segera ditangani.

"Hubungan seperti itu sering mengalami peningkatan ketegangan, konflik, dan stres. Meskipun masalah ini umum terjadi dalam hubungan romantis, masalah ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan anggota keluarga, teman, dan rekan kerja," tutur Cherry.

Lantas, apa saja hal-hal yang menandakan bahwa kamu sedang menjalani hubungan yang tidak sehat?

Baca juga: Kenapa Gen Z Lebih Sensitif Soal Perbedaan Usia dalam Hubungan Asmara?

1. Dominasi dan kontrol berlebih

Ilustrasi pasangan bertengkar.Google Gemini AI Ilustrasi pasangan bertengkar.

Dalam hubungan yang tidak sehat, salah satu pihak sering kali berusaha menguasai kehidupan pasangannya lewat manipulasi maupun intimidasi secara halus.

Terkadang, sikap yang terlihat terlalu protektif dan penuh kemesraan, sengaja digunakan sebagai kedok untuk memantau aktivitas dan membatasi kebebasan.

"Kontrol juga dapat bermanifestasi sebagai posesif dan cemburu. Meskipun merupakan emosi normal, keduanya menjadi tidak sehat ketika seseorang mencoba mengendalikan tindakan orang lain, melampiaskan kemarahan, atau membuat tuduhan perselingkuhan," kata Cherry.

Baca juga: 4 Tanda Cemburu yang Toxic dan Merusak Hubungan, Kenali Sebelum Terlambat

2. Memudarnya rasa saling percaya

Fondasi yang rapuh biasanya ditandai dengan hilangnya rasa percaya secara perlahan. Kamu mungkin mulai merasa perlu menyembunyikan sesuatu, atau sebaliknya, merasa curiga bahwa pasangan menyimpan rahasia rapat-rapat.

Membangun kepercayaan menuntut kedua belah pihak untuk berani saling terbuka dan membagikan informasi pribadi.

Sayangnya, gaya keterikatan masa kecil atau trauma masa lalu kerap membuat seseorang kesulitan untuk memercayai pasangannya saat menjalin komitmen dewasa.

Baca juga: 9 Tanda Pasangan Punya Masalah Kepercayaan

3. Hilangnya sikap saling menghormati

Hilangnya rasa hormat bisa muncul dalam berbagai wujud nyata, mulai dari sikap meremehkan hingga secara sengaja merendahkan harga diri pasangan di depan umum.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau