Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan akan mendominasi 74 persen tenaga kerja global pada 2030.
Namun, di balik dominasi tersebut, muncul satu benang merah yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir, yaitu kekhawatiran finansial yang semakin menguat.
Survei Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara menunjukkan, biaya hidup kembali menjadi kekhawatiran utama bagi kedua generasi ini untuk tahun keempat berturut-turut.
Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja
IlustrasiPada 2025, 39 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan cost of living alias biaya hidup sebagai isu paling mengkhawatirkan, melampaui isu lingkungan, kesehatan mental, hingga stabilitas politik.
Lebih jauh, hampir separuh responden mengaku tidak merasa aman secara finansial.
Sebanyak 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial menyatakan mereka tidak merasa aman secara finansial, meningkat signifikan dibandingkan 2024, ketika angkanya masing-masing 30 persen dan 32 persen.
Tekanan finansial itu tercermin dalam keseharian.
Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos
Lebih dari separuh responden atau 52 persen Gen Z dan 52 persen milenial, mengaku hidup dari gaji ke gaji (living paycheck to paycheck).
Sementara itu, 37 persen Gen Z dan 35 persen milenial mengatakan mereka kesulitan membayar kebutuhan hidup setiap bulan.
Sekitar 41 persen Gen Z dan 44 persen milenial juga khawatir tidak akan mampu pensiun dengan nyaman secara finansial.
Ilustrasi pegawai, bekerja di kantor.Kekhawatiran itu berdampak langsung pada tingkat kebahagiaan. Hanya 36 persen Gen Z dan 39 persen milenial yang memiliki kekhawatiran biaya hidup mengaku merasa bahagia dalam setahun terakhir.
Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan
Korelasi antara rasa aman finansial dan kebahagiaan juga terlihat jelas. Enam dari 10 Gen Z (60 persen) yang merasa aman secara finansial menyatakan diri mereka bahagia, dibandingkan hanya 28 persen dari mereka yang merasa tidak aman.
Di generasi milenial, 68 persen yang merasa aman secara finansial mengaku bahagia, dibandingkan 31 persen dari yang tidak merasa aman.
Tekanan finansial juga menjadi sumber stres utama.
Lebih dari delapan dari 10 responden menyebut masa depan keuangan jangka panjang dan kondisi keuangan sehari-hari sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan atau stres mereka.
Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya
Dalam konteks tekanan biaya hidup tersebut, fenomena pekerjaan sampingan (side job atau side hustle) menjadi semakin relevan.
Survei Deloitte mencatat sekitar sepertiga Gen Z dan milenial memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama mereka.
Alasan utamanya bersifat finansial: 37 persen Gen Z dan 41 persen milenial menyebut kebutuhan akan sumber pendapatan tambahan sebagai alasan utama.
Namun motivasinya tidak semata soal uang. Sekitar 30 persen dari kedua generasi menyatakan pekerjaan sampingan membantu mereka mengembangkan keterampilan dan relasi penting.
Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Ilustrasi bekerja.Sebanyak 28 persen Gen Z dan 30 persen milenial menyebutnya sebagai hobi, dan 25 persen mengatakan pekerjaan sampingan memungkinkan mereka memberi dampak positif bagi komunitas atau masyarakat.
Temuan Deloitte mengenai fenomena side hustle juga menunjukkan tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi mendorong pekerja muda mencari diversifikasi pendapatan.
Di satu sisi, pekerjaan sampingan menjadi bantalan finansial.
Di sisi lain, pekerjaan sampingan juga menjadi ruang eksplorasi identitas dan pengembangan diri, terutama ketika pekerjaan utama belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan finansial maupun makna personal.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
Survei Deloitte merangkum dinamika ini dalam satu kerangka, yakni kebahagiaan pekerja muda bertumpu pada tiga pilar: money, meaning, dan well-being alias uang, makna, dan kesejahteraan.
Ketiganya saling terkait. Tanpa rasa aman finansial, responden cenderung memiliki tingkat kesejahteraan mental yang lebih rendah dan lebih sulit menemukan makna dalam pekerjaan.
Sebanyak 62 persen Gen Z dan 68 persen milenial yang puas dengan gaji dan tunjangan melaporkan kondisi mental yang baik. Sebaliknya, hanya 39 persen Gen Z dan 44 persen milenial yang tidak puas dengan gaji dan tunjangan yang melaporkan kondisi mental baik.
Kepuasan terhadap kompensasi juga berhubungan dengan persepsi makna. Sebanyak 63 persen Gen Z dan 69 persen milenial yang puas dengan gaji percaya pekerjaan mereka memungkinkan kontribusi bermakna bagi masyarakat.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Angka ini turun menjadi 43 persen dan 44 persen pada kelompok yang tidak puas dengan kompensasi.
Ilustrasi Gen Z Kekhawatiran finansial juga tercermin dalam mobilitas karier yang tinggi. Hampir sepertiga Gen Z (31 persen) berencana berpindah perusahaan dalam dua tahun ke depan, sementara 17 persen milenial menyatakan hal serupa.
Alasan perubahan karier mencerminkan kombinasi faktor finansial dan keseimbangan hidup. Sebanyak 26 persen Gen Z dan 29 persen milenial menyebut kompensasi yang lebih baik sebagai alasan utama berpindah jalur karier.
Sementara itu, 28 persen Gen Z dan 26 persen milenial menginginkan work-life balance yang lebih baik.
Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z
Namun, survei tersebut juga menunjukkan fenomena yang disebut sebagai phantom wealth. Meski data makro di sejumlah negara menunjukkan akumulasi kekayaan meningkat, banyak responden tetap merasa tidak kaya.
Bahkan di antara mereka yang merasa aman secara finansial, hampir sepertiga masih menempatkan biaya hidup sebagai kekhawatiran utama.
Hal ini menunjukkan jarak antara indikator kekayaan berbasis aset dan persepsi keseharian terhadap tekanan biaya hidup.
Tekanan finansial berdampak langsung terhadap kesehatan mental. Hanya 52 persen Gen Z dan 58 persen milenial yang menilai kesejahteraan mental mereka baik atau sangat baik.
Baca juga: Gen Z Sulit Gapai Financial Freedom, Penyebabnya Ternyata Gaji
Sebanyak 40 persen Gen Z dan 34 persen milenial mengaku merasa stres atau cemas sepanjang atau hampir sepanjang waktu.
Selain masa depan finansial dan kondisi keuangan harian, pekerjaan juga menjadi sumber stres signifikan bagi 35 persen Gen Z dan 33 persen milenial.
Hubungan antara kesejahteraan mental dan kebahagiaan juga konsisten. Di antara mereka yang menilai kesejahteraan mentalnya baik, 62 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku bahagia.
Pada kelompok dengan kesejahteraan mental buruk, angkanya turun menjadi 19 persen dan 20 persen.
Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?
Data Deloitte menunjukkan, kekhawatiran finansial bukan sekadar isu ekonomi, melainkan faktor yang memengaruhi kebahagiaan, makna kerja, hingga kesehatan mental generasi pekerja muda.
Dalam situasi di mana lebih dari separuh hidup dari gaji ke gaji dan sepertiga mencari penghasilan tambahan melalui side hustle, stabilitas finansial menjadi fondasi yang menentukan bagaimana mereka memandang pekerjaan, masa depan, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang