Penulis
TOKYO, KOMPAS.com - Di Jepang, pemutusan hubungan kerja (PHK) selama puluhan tahun identik dengan perusahaan yang merugi atau tengah menghadapi krisis. Namun, lanskap tersebut kini berubah.
Sejumlah perusahaan besar yang mencatat keuntungan justru memangkas tenaga kerja, termasuk melalui program pensiun dini dan pengunduran diri sukarela.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran mendasar dalam strategi bisnis perusahaan Jepang, terutama di tengah percepatan inovasi teknologi dan meningkatnya persaingan global.
Baca juga: IMF Desak Jepang Terus Naikkan Suku Bunga dan Tahan Pemangkasan Pajak
Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.Bukan lagi sekadar langkah darurat untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian, pemangkasan tenaga kerja kini menjadi bagian dari strategi restrukturisasi untuk menopang pertumbuhan jangka panjang.
Perubahan ini juga mengindikasikan pergeseran dalam budaya kerja Jepang, yang selama ini dikenal dengan sistem kerja jangka panjang atau seumur hidup.
Salah satu contoh terbaru datang dari Mitsubishi Electric Corp.
Dikutip dari Japan Times, Kamis (19/2/2026), perusahaan tersebut menawarkan program pensiun sukarela kepada karyawan berusia 53 tahun ke atas antara Desember 2025 dan Januari 2026.
Baca juga: Ekonomi Tumbuh 0,1 Persen, Jepang Terhindar dari Resesi Teknikal
Kelompok usia tersebut mencakup sekitar seperempat dari total tenaga kerja perusahaan.
Sebanyak 2.378 karyawan mengajukan diri untuk mengikuti program tersebut. Program serupa juga diterapkan di perusahaan-perusahaan afiliasi Mitsubishi Electric di Jepang, dengan total jumlah pelamar diperkirakan mencapai sekitar 4.700 orang di seluruh grup.
Ilustrasi pemandangan kota Tokyo, Jepang. Ekonomi Jepang turun 1,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2025. Penurunan ini lebih kecil dari perkiraan, dengan konsumsi pemerintah dan swasta membantu menahan pelemahan.Langkah ini dilakukan bukan karena tekanan finansial. Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026, Mitsubishi Electric justru memperkirakan akan mencatat laba bersih konsolidasi tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Presiden Mitsubishi Electric Kei Uruma mengatakan perusahaan perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan tantangan bisnis ke depan, terutama terkait transformasi digital.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Jepang Melemah di Akhir 2025, Konsumsi Masih Tertekan
“Kami harus memanfaatkan personel yang mampu menghadapi tantangan ini,” ujar Uruma.
Dalam jangka panjang, Mitsubishi Electric menghadapi tantangan untuk memperluas layanan digital di luar bisnis perangkat keras tradisionalnya.
Hal ini menuntut perubahan komposisi tenaga kerja agar selaras dengan kebutuhan teknologi baru.
Langkah serupa juga dilakukan oleh perusahaan besar Jepang lainnya.
Baca juga: Yen Menguat Usai Kemenangan Takaichi, Pasar Cermati Arah Fiskal Jepang
Panasonic Holdings Corp diperkirakan akan mengurangi sekitar 12.000 pekerja secara grup melalui program pensiun dini. Meski demikian, perusahaan tersebut tetap memperkirakan kinerja keuangan yang positif.
Olympus Corp, produsen peralatan medis dan optik, juga berencana memangkas sekitar 2.000 pegawai. Sama seperti Panasonic dan Mitsubishi Electric, Olympus diperkirakan tetap mencatat laba.
Fenomena ini menunjukkan pemangkasan tenaga kerja kini bukan lagi indikator kesulitan keuangan, melainkan bagian dari strategi restrukturisasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan mendukung pertumbuhan di masa depan.
Data dari Tokyo Shoko Research memperkuat gambaran perubahan tersebut. Menurut lembaga riset itu, sebanyak 43 perusahaan tercatat di Jepang menawarkan program pensiun dini atau pengunduran diri sukarela sepanjang tahun lalu.
Ilustrasi pensiun. Banyak pensiunan masih mengandalkan sokongan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Investor Jepang Masih Nilai Indonesia Tujuan Strategis, Meski Investasi Turun