Penulis
Dalam survei yang sama, sekitar 22 persen pekerja muda juga melaporkan merasa kesepian.
Jim Harter, kepala ilmuwan untuk bidang tempat kerja dan kesejahteraan di Gallup, mengatakan perubahan pola kerja dan kehidupan sosial turut memengaruhi kondisi tersebut.
Baca juga: Survei Ungkap, Gen Z Jadi Generasi Paling Kesepian di Kantor
“Saya rasa jarak antarmanusia lebih besar daripada sebelumnya," tutur dia.
Menurut Harter, jarak fisik yang semakin besar, misalnya akibat kerja jarak jauh, juga berpengaruh pada hubungan sosial di tempat kerja.
Ketika hubungan antarpekerja semakin renggang, dampaknya tidak hanya dirasakan pada produktivitas, tetapi juga pada kesehatan mental.
Selain itu, laporan dari perusahaan asuransi Aflac menunjukkan bahwa sekitar 66 persen milenial mengalami tingkat burnout moderat hingga tinggi.
Baca juga: Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres
Angka tersebut menggambarkan, kelelahan kerja bukan lagi fenomena individual, melainkan tren yang meluas di kalangan pekerja muda.
Ilustrasi bekerja.Selain tekanan di tempat kerja, kondisi ekonomi juga menjadi faktor penting dalam meningkatnya burnout.
Banyak pekerja muda menghadapi situasi di mana pendapatan mereka tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup.
Dalam beberapa dekade terakhir, harga perumahan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan rumah tangga.
Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja
Akibatnya, kepemilikan rumah menjadi semakin sulit dicapai oleh generasi muda.
Bagi sebagian besar pekerja Gen Z dan milenial, membeli rumah atau mencapai stabilitas finansial kini dianggap jauh lebih sulit dibandingkan generasi sebelumnya.
Beberapa bahkan terpaksa menunda atau membatalkan berbagai tonggak kehidupan seperti menikah, memiliki anak, atau membeli properti.
Dalam kondisi tersebut, banyak pekerja muda merasa bahwa mereka bekerja keras tanpa melihat hasil yang sebanding.
Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos
Fenomena ini yang oleh Welch disebut sebagai “diminished returns” atau menurunnya imbal hasil dari kerja keras.
Welch juga menilai generasi muda tumbuh dengan menyaksikan berbagai krisis ekonomi dan perubahan besar di dunia kerja.
Beberapa di antaranya termasuk krisis keuangan global, pandemi, serta gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai industri.
Banyak pekerja muda melihat orang tua mereka bekerja keras selama bertahun-tahun tetapi tetap mengalami PHK atau ketidakstabilan ekonomi.
Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan
Pengalaman tersebut membentuk cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan.
Ilustrasi Gen Z Menurut Welch, situasi ini membuat sebagian Gen Z tidak ingin terlalu banyak mengorbankan diri untuk pekerjaan.
Mereka cenderung mempertanyakan apakah sistem karier tradisional masih layak diperjuangkan.
Dalam beberapa kasus, generasi muda juga menunjukkan nilai yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya
Jika generasi baby boomer dikenal menekankan pencapaian karier dan loyalitas terhadap perusahaan, generasi muda lebih menekankan keseimbangan hidup, fleksibilitas kerja, dan makna pekerjaan.
Perbedaan nilai ini sering memicu kesalahpahaman antara pekerja muda dan manajer yang berasal dari generasi lebih tua.