Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar Ungkap, Gen Z dan Milenial Mudah Burnout karena Kehilangan Harapan

Kompas.com, 2 Maret 2026, 17:32 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

Dalam survei yang sama, sekitar 22 persen pekerja muda juga melaporkan merasa kesepian.

Jim Harter, kepala ilmuwan untuk bidang tempat kerja dan kesejahteraan di Gallup, mengatakan perubahan pola kerja dan kehidupan sosial turut memengaruhi kondisi tersebut.

Baca juga: Survei Ungkap, Gen Z Jadi Generasi Paling Kesepian di Kantor

“Saya rasa jarak antarmanusia lebih besar daripada sebelumnya," tutur dia.

Menurut Harter, jarak fisik yang semakin besar, misalnya akibat kerja jarak jauh, juga berpengaruh pada hubungan sosial di tempat kerja.

Ketika hubungan antarpekerja semakin renggang, dampaknya tidak hanya dirasakan pada produktivitas, tetapi juga pada kesehatan mental.

Selain itu, laporan dari perusahaan asuransi Aflac menunjukkan bahwa sekitar 66 persen milenial mengalami tingkat burnout moderat hingga tinggi.

Baca juga: Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres

Angka tersebut menggambarkan, kelelahan kerja bukan lagi fenomena individual, melainkan tren yang meluas di kalangan pekerja muda.

Tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan

Ilustrasi bekerja.PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.

Selain tekanan di tempat kerja, kondisi ekonomi juga menjadi faktor penting dalam meningkatnya burnout.

Banyak pekerja muda menghadapi situasi di mana pendapatan mereka tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup.

Dalam beberapa dekade terakhir, harga perumahan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan rumah tangga.

Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja

Akibatnya, kepemilikan rumah menjadi semakin sulit dicapai oleh generasi muda.

Bagi sebagian besar pekerja Gen Z dan milenial, membeli rumah atau mencapai stabilitas finansial kini dianggap jauh lebih sulit dibandingkan generasi sebelumnya.

Beberapa bahkan terpaksa menunda atau membatalkan berbagai tonggak kehidupan seperti menikah, memiliki anak, atau membeli properti.

Dalam kondisi tersebut, banyak pekerja muda merasa bahwa mereka bekerja keras tanpa melihat hasil yang sebanding.

Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos

Fenomena ini yang oleh Welch disebut sebagai “diminished returns” atau menurunnya imbal hasil dari kerja keras.

Ketidakpercayaan terhadap sistem karier

Welch juga menilai generasi muda tumbuh dengan menyaksikan berbagai krisis ekonomi dan perubahan besar di dunia kerja.

Beberapa di antaranya termasuk krisis keuangan global, pandemi, serta gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai industri.

Banyak pekerja muda melihat orang tua mereka bekerja keras selama bertahun-tahun tetapi tetap mengalami PHK atau ketidakstabilan ekonomi.

Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan

Pengalaman tersebut membentuk cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan.

Ilustrasi Gen Z iStock Ilustrasi Gen Z

Menurut Welch, situasi ini membuat sebagian Gen Z tidak ingin terlalu banyak mengorbankan diri untuk pekerjaan.

Mereka cenderung mempertanyakan apakah sistem karier tradisional masih layak diperjuangkan.

Dalam beberapa kasus, generasi muda juga menunjukkan nilai yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya

Jika generasi baby boomer dikenal menekankan pencapaian karier dan loyalitas terhadap perusahaan, generasi muda lebih menekankan keseimbangan hidup, fleksibilitas kerja, dan makna pekerjaan.

Perbedaan nilai ini sering memicu kesalahpahaman antara pekerja muda dan manajer yang berasal dari generasi lebih tua.

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau