Penulis
Dalam beberapa tahun terakhir, Gen Z sering mendapat label negatif di dunia kerja.
Sebagian kritik menyebut mereka terlalu sensitif, tidak tahan tekanan, atau kurang memiliki etos kerja.
Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Namun Welch menilai penilaian tersebut tidak sepenuhnya adil. Ia mengatakan, generasi muda justru menghadapi tekanan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Menurutnya, banyak dari sikap yang dianggap sebagai “kurang ambisius” sebenarnya berasal dari rasa ketidakpastian terhadap masa depan.
Welch mengatakan bahwa generasi muda menghadapi berbagai persoalan sekaligus, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga kekhawatiran mengenai masa depan planet.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kerentanan emosional yang sering disalahpahami oleh generasi yang lebih tua.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
Welch mengatakan masyarakat seharusnya lebih memahami kondisi tersebut, bukan sekadar mengkritik generasi muda.
Ilustrasi bekerja di kantor.Ia menyebut situasi yang dihadapi Gen Z sebagai kombinasi antara “kerentanan dan kesedihan” yang jarang dipahami oleh orang yang tidak mengalaminya secara langsung.
Perubahan nilai juga memengaruhi cara generasi muda memandang pekerjaan.
Penelitian yang dilakukan Welch terhadap mahasiswa MBA menunjukkan, nilai yang dianggap penting oleh Gen Z berbeda dari yang biasanya dicari perusahaan.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Jika perusahaan cenderung mencari kandidat dengan ambisi kuat untuk berprestasi dan bekerja keras, banyak Gen Z justru menempatkan kesejahteraan pribadi dan makna sosial sebagai prioritas.
Beberapa nilai yang banyak muncul di kalangan Gen Z antara lain kesejahteraan diri, kontribusi terhadap orang lain, serta kemampuan mengekspresikan diri.
Perbedaan tersebut membuat hubungan antara pekerja muda dan organisasi menjadi lebih kompleks.
Sebagian perusahaan masih menggunakan pendekatan manajemen tradisional yang berfokus pada produktivitas dan pencapaian target.
Baca juga: Belajar dari Warren Buffett: 5 Pelajaran Uang yang Relevan untuk Gen Z
Sementara itu, generasi muda cenderung mengharapkan lingkungan kerja yang lebih fleksibel dan mendukung kesejahteraan mental.
Perbedaan ekspektasi ini sering memicu konflik di tempat kerja.
Dalam berbagai kesempatan, Welch menekankan pentingnya empati terhadap generasi muda.
Ia menilai, kritik terhadap Gen Z sering kali mengabaikan realitas ekonomi dan sosial yang mereka hadapi. Menurutnya, generasi yang lebih tua perlu memahami bahwa konteks dunia kerja telah berubah secara signifikan.
Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z
Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan teknologi membuat jalur karier menjadi lebih tidak pasti dibandingkan beberapa dekade lalu.
Dalam situasi tersebut, wajar jika generasi muda memiliki pandangan berbeda tentang pekerjaan.
Welch menilai memahami perbedaan tersebut menjadi langkah penting untuk menjembatani kesenjangan generasi di tempat kerja.
Ia juga menilai diskusi mengenai burnout tidak seharusnya hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada struktur ekonomi dan sistem kerja yang memengaruhi kehidupan pekerja muda.
Dengan kata lain, burnout yang dialami Gen Z dan milenial tidak semata-mata berasal dari tekanan pekerjaan, tetapi juga dari perubahan besar dalam harapan terhadap masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang