Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar Ungkap, Gen Z dan Milenial Mudah Burnout karena Kehilangan Harapan

Kompas.com, 2 Maret 2026, 17:32 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

Label “malas” terhadap Gen Z

Dalam beberapa tahun terakhir, Gen Z sering mendapat label negatif di dunia kerja.

Sebagian kritik menyebut mereka terlalu sensitif, tidak tahan tekanan, atau kurang memiliki etos kerja.

Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi

Namun Welch menilai penilaian tersebut tidak sepenuhnya adil. Ia mengatakan, generasi muda justru menghadapi tekanan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Menurutnya, banyak dari sikap yang dianggap sebagai “kurang ambisius” sebenarnya berasal dari rasa ketidakpastian terhadap masa depan.

Welch mengatakan bahwa generasi muda menghadapi berbagai persoalan sekaligus, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga kekhawatiran mengenai masa depan planet.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kerentanan emosional yang sering disalahpahami oleh generasi yang lebih tua.

Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos

Welch mengatakan masyarakat seharusnya lebih memahami kondisi tersebut, bukan sekadar mengkritik generasi muda.

Ilustrasi bekerja di kantor.PEXELS/FAUXELS Ilustrasi bekerja di kantor.

Ia menyebut situasi yang dihadapi Gen Z sebagai kombinasi antara “kerentanan dan kesedihan” yang jarang dipahami oleh orang yang tidak mengalaminya secara langsung.

Perubahan nilai di dunia kerja

Perubahan nilai juga memengaruhi cara generasi muda memandang pekerjaan.

Penelitian yang dilakukan Welch terhadap mahasiswa MBA menunjukkan, nilai yang dianggap penting oleh Gen Z berbeda dari yang biasanya dicari perusahaan.

Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi

Jika perusahaan cenderung mencari kandidat dengan ambisi kuat untuk berprestasi dan bekerja keras, banyak Gen Z justru menempatkan kesejahteraan pribadi dan makna sosial sebagai prioritas.

Beberapa nilai yang banyak muncul di kalangan Gen Z antara lain kesejahteraan diri, kontribusi terhadap orang lain, serta kemampuan mengekspresikan diri.

Perbedaan tersebut membuat hubungan antara pekerja muda dan organisasi menjadi lebih kompleks.

Sebagian perusahaan masih menggunakan pendekatan manajemen tradisional yang berfokus pada produktivitas dan pencapaian target.

Baca juga: Belajar dari Warren Buffett: 5 Pelajaran Uang yang Relevan untuk Gen Z

Sementara itu, generasi muda cenderung mengharapkan lingkungan kerja yang lebih fleksibel dan mendukung kesejahteraan mental.

Perbedaan ekspektasi ini sering memicu konflik di tempat kerja.

Empati terhadap generasi muda

Dalam berbagai kesempatan, Welch menekankan pentingnya empati terhadap generasi muda.

Ia menilai, kritik terhadap Gen Z sering kali mengabaikan realitas ekonomi dan sosial yang mereka hadapi. Menurutnya, generasi yang lebih tua perlu memahami bahwa konteks dunia kerja telah berubah secara signifikan.

Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z

Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan teknologi membuat jalur karier menjadi lebih tidak pasti dibandingkan beberapa dekade lalu.

Dalam situasi tersebut, wajar jika generasi muda memiliki pandangan berbeda tentang pekerjaan.

Welch menilai memahami perbedaan tersebut menjadi langkah penting untuk menjembatani kesenjangan generasi di tempat kerja.

Ia juga menilai diskusi mengenai burnout tidak seharusnya hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada struktur ekonomi dan sistem kerja yang memengaruhi kehidupan pekerja muda.

Dengan kata lain, burnout yang dialami Gen Z dan milenial tidak semata-mata berasal dari tekanan pekerjaan, tetapi juga dari perubahan besar dalam harapan terhadap masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau