Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Salah Satu Penyebab Harga Tiket Mahal, InJourney Airports: Indonesia Kekurangan Pesawat

Kompas.com, 12 Maret 2026, 11:51 WIB
Kiki Safitri,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com -  Hingga saat ini, jumlah armada pesawat yang beroperasi masih lebih sedikit dibandingkan kebutuhan pasar, sehingga memengaruhi kapasitas penerbangan di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu penyebab harga tiket pesawat masih mahal.

Wakil Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports Achmad Syahir mengatakan, kekurangan pesawat sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global.

“Kalau secara global, kekurangan pesawat itu sekitar 18 persen. Itu berdasarkan data dari International Air Transport Association atau IATA tahun 2024. Sementara di Indonesia kekurangannya mencapai sekitar 23 persen,” ujar Achmad di Bandara Soekarno Hatta, Rabu (11/3/2026).

Baca juga: Harga Tiket Pesawat Masih Terasa Mahal Meski Ada Diskon, Ini Kata Menhub

Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena pada masa pandemi Covid-19 banyak armada pesawat yang harus dihentikan operasionalnya (grounded). Hingga kini sebagian armada tersebut masih dalam proses untuk kembali dioperasikan.

“Kita tahu pada saat Covid-19 ada beberapa armada yang di-grounded, dan saat ini masih dalam proses untuk diaktifkan kembali. Kekurangan pesawat ini tentu berdampak pada optimalisasi penerbangan di bandara-bandara kita, khususnya di 37 bandara yang kami kelola,” katanya.

Menurut Achmad, keterbatasan jumlah pesawat juga berpengaruh terhadap keseimbangan antara pasokan dan permintaan penerbangan.

Hal ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga tiket pesawat.

“Salah satu dampaknya adalah ketidakseimbangan antara supply dan demand. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa harga tiket yang sering dikeluhkan masyarakat menjadi lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi pada 2019, sektor penerbangan Indonesia masih belum sepenuhnya kembali ke tingkat normal, baik dari sisi jumlah penumpang maupun frekuensi penerbangan.

Namun demikian, dalam dua tahun terakhir mulai terlihat tren perbaikan, meskipun pertumbuhannya masih terbatas.

“Kalau dibandingkan dua tahun terakhir memang ada pertumbuhan. Dari sisi penumpang misalnya ada kenaikan sekitar 0,57 persen, meskipun dari sisi penerbangan masih mengalami penurunan,” kata Achmad.

Dari lima bandara besar di Indonesia, yakni Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bandar Udara Internasional Juanda, Bandar Udara Internasional Kualanamu, dan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, hanya dua bandara yang mencatat pertumbuhan positif dibandingkan 2025.

“Secara pertumbuhan dibanding tahun lalu, yang menunjukkan tren positif hanya Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Sementara Medan, Makassar, dan Surabaya masih mencatat pertumbuhan negatif,” tegasnya.

Baca juga: Garuda Indonesia Diskon Tiket Pesawat hingga 20 Persen untuk Mudik Lebaran 2026, Ini Rute dan Harganya

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau