Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar, meski industri ini menunjukkan tren ekspansi dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan terbaru perusahaan riset pasar Ravenry bertajuk Sharia Banking in Indonesia 2025 mencatat hingga akhir 2025, pangsa perbankan syariah baru berada di kisaran 7 hingga 8 persen dari total aset perbankan nasional.
Temuan tersebut muncul di tengah populasi Muslim Indonesia yang mencapai lebih dari 240 juta orang.
Baca juga: Menurut Maruf Amin, Ini yang Harus Dibenahi agar Perbankan Syariah Tidak Mahal Seperti Kata Purbaya
Ilustrasi bank. Ravenry dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (13/3/2026) menilai, meski industri perbankan syariah terus berkembang, penetrasi pasar secara keseluruhan masih belum optimal dan belum sepenuhnya mencerminkan potensi demografis yang ada.
Dalam laporan tersebut disebutkan, total aset perbankan syariah meningkat dari sekitar 40,7 miliar dollar AS pada 2020 menjadi sekitar 64,9 miliar dollar AS pada 2025.
Pertumbuhan ini setara dengan kenaikan tahunan rata-rata sekitar 11,8 persen dalam lima tahun terakhir.
Salah satu perubahan struktural penting yang terjadi pada periode tersebut adalah pembentukan Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 2021.
Baca juga: Dikritik Purbaya, OJK Akui Biaya Perbankan Syariah di RI Masih Tinggi
Saat ini, bank tersebut diperkirakan menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar perbankan syariah nasional.
Selain dari sisi aset, Ravenry juga menyoroti perkembangan jumlah nasabah. Laporan tersebut mencatat sekitar 54 juta orang atau sekitar 22 persen dari populasi Muslim Indonesia telah menjadi nasabah bank syariah.
Meski demikian, distribusi nasabah masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. Sekitar 77 persen nasabah bank syariah berada di Pulau Jawa.
Kondisi ini menunjukkan, pertumbuhan industri masih terpusat di kawasan ekonomi utama, sementara potensi ekspansi di luar Jawa dinilai masih terbuka lebar.
Ilustrasi keuangan syariah, ekonomi syariah.Baca juga: Biaya Haji Turun, OJK: Peluang Perbankan Syariah Perkuat Ekosistem Keuangan
Menurut Ravenry, tantangan distribusi ini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pertumbuhan industri ke depan.
Penetrasi layanan yang lebih merata dinilai akan berpengaruh terhadap kemampuan bank syariah menjangkau segmen masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan formal berbasis syariah.
Laporan tersebut juga menilai bahwa pendekatan pengembangan industri tidak lagi cukup mengandalkan identitas atau preferensi keagamaan.
Pasar disebut mulai bergerak ke arah kebutuhan yang lebih konkret, termasuk pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), layanan keuangan bagi pelaku usaha, integrasi dengan ekosistem halal, serta penyediaan produk yang relevan dengan kebutuhan transaksi sehari-hari.
Baca juga: Mengejar Benchmark Global: Perbankan Syariah RI Bidik Pangsa 20 Persen
Dari sisi model bisnis, Ravenry mencatat industri perbankan syariah masih banyak ditopang oleh dua skema pembiayaan utama.
Sekitar 49,9 persen pembiayaan berasal dari kontrak musyarakah, sementara sekitar 41,4 persen berasal dari murabahah.
Dominasi dua skema tersebut dinilai mencerminkan kecenderungan industri untuk mengandalkan model pembiayaan yang relatif stabil dan lebih mudah dikelola secara operasional.
Meski demikian, laporan itu juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan dalam jangka panjang guna memperkuat keberlanjutan industri.
Baca juga: Cetak Rekor, OJK Sebut Aset Perbankan Syariah Tembus Rp 1.000 Triliun
Diversifikasi produk dan layanan dipandang menjadi salah satu faktor yang akan menentukan daya saing bank syariah, terutama dalam menghadapi perubahan kebutuhan nasabah dan dinamika industri keuangan yang semakin kompetitif.
Ilustrasi transaksi.Ravenry juga menilai transformasi digital akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan berikutnya bagi industri perbankan syariah.
Dengan tingkat penetrasi digital Indonesia yang telah mencapai sekitar 79,5 persen dari populasi, kanal digital disebut membuka peluang besar untuk menjangkau nasabah baru sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Meski demikian, laporan tersebut menekankan digitalisasi tidak dapat berdiri sendiri. Faktor kepercayaan, literasi keuangan, serta kedekatan dengan komunitas tetap menjadi aspek penting dalam pengembangan layanan perbankan syariah.
Baca juga: OJK Ungkap Tantangan Besar Perbankan Syariah: Literasi Rendah hingga Minimnya Diferensiasi
Kombinasi antara layanan digital dan pendekatan berbasis komunitas dinilai akan semakin relevan dalam upaya memperluas jangkauan industri.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang beragam, baik dari sisi akses, pemahaman produk, maupun preferensi layanan.
“Pertumbuhan perbankan syariah ke depan tidak cukup hanya diukur dari kenaikan aset. Industri perlu hadir lebih dekat dengan kebutuhan nasabah, lewat penguatan literasi keuangan, edukasi produk syariah, inovasi layanan, dan distribusi yang menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujar Research Manager Ravenry Made Ayu Priyanka.
Dalam konteks yang lebih luas, Ravenry menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat peran perbankan syariah dalam sistem keuangan nasional.
Baca juga: OJK Catat Aset Perbankan Syariah Naik Jadi Rp 967,33 Triliun Per Juni 2025
Selain memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki sekitar 64 juta UMKM yang berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi bank syariah untuk berperan lebih aktif dalam pembiayaan sektor produktif.
Integrasi dengan ekosistem halal, termasuk industri makanan, fesyen, pariwisata, dan logistik halal, juga disebut dapat menjadi salah satu jalur ekspansi strategis.
Ilustrasi logo halal.Laporan Sharia Banking in Indonesia 2025 menelaah berbagai aspek perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia.
Baca juga: BI Pangkas Target Pertumbuhan Pembiayaan Perbankan Syariah Jadi 8-11 Persen
Kajian tersebut mencakup tren pertumbuhan aset, segmentasi pasar, faktor pendorong pertumbuhan, prospek masa depan, perubahan regulasi, analisis struktur biaya, transformasi digital, hingga pemetaan pemangku kepentingan dalam ekosistem industri.
Ravenry menyebut laporan ini sebagai awal dari percakapan yang lebih luas mengenai arah pengembangan perbankan syariah di Indonesia.
Diskusi lanjutan dengan pelaku industri, regulator, serta investor dinilai menjadi bagian penting dalam mendorong penguatan industri di masa mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang