JAKARTA, KOMPAS.com - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai penurunan outlook sejumlah bank di Indonesia oleh Moody's tidak mencerminkan penurunan kondisi fundamental perbankan nasional.
Chief Economist OCE Perbanas Dzulfian Syafrian mengatakan, berbagai indikator kunci menunjukkan bahwa fondasi kinerja perbankan nasional terutama yang masuk dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) masih sangat baik.
Penurunan outlook lima bank besar oleh Moody's lebih menunjukkan adanya sinyal kewaspadaan terhadap potensi risiko ke depan, khususnya terkait efektivitas dan tata kelola kebijakan ekonomi nasional.
Baca juga: Di Balik Penempatan Dana Rp 100 Triliun ke Perbankan, Permintaan Kredit Tumbuh?
Ilustrasi bank digital, layanan perbankan digital."Penting ditegaskan bahwa yang berubah adalah outlooknya, bukan rating atau kondisinya riilnya. Dan perlu digarisbawahi pula bahwa penurunan outlook ini bukan disebabkan oleh kondisi fundamental perbankan Indonesia," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (27/3/2026).
Dia membeberkan sejumlah indikator kunci perbankan nasional masih solid.
Hal ini tecermin dari kinerja perbankan dari sisi intermediasi, kualitas aset, permodalan, dan likuiditas yang tetap terjaga.
Hingga Desember 2025, pertumbuhan kredit tercatat di atas 9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih dari 13 persen yoy.
Baca juga: OJK Gandeng Polisi Tangkap Tersangka Tindak Pidana Perbankan PT BPR DCN
Dari sisi permodalan juga masih kuat, rasio kecukupan modal (CAR) berada di kisaran 25 persen, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga rendah di level sekitar 2 persen.
Selain itu, indikator likuiditas seperti Liquidity Coverage Ratio (LCR) juga berada pada level aman, mencerminkan ketahanan perbankan dari sisi pendanaan jangka pendek.
"Secara agregat, fundamental perbankan Indonesia masih sangat kuat," kata Dzulfian.
Ilustrasi bank. Dia menambahkan, ketahanan sektor perbankan ini juga sejalan dengan penilaian Bank Indonesia yang menegaskan stabilitas sistem keuangan masih kuat hingga awal 2026.
Baca juga: OJK: Universal Banking Jadi Strategi Penguatan Industri Perbankan RI
Office of Chief Economist (OCE) Perbanas juga mencatat perbankan tetap resilien di tengah tekanan eksternal, termasuk dinamika geopolitik seperti konflik di kawasan Timur Tengah serta ketidakpastian arah kebijakan global dan domestik.
"Jadi, baik dari sudut pandang mikro-perbankan dan makro-sistem keuangan, fondasi perbankan dan sistem keuangan kita masih solid," ungkapnya.
Khusus pada kelompok Himbara, Dzulfian menyebut kinerja masih menunjukkan daya tahan yang kuat.
Pertumbuhan kredit bank Himbara double digit, bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri.
Baca juga: Kredit Perbankan Melambat ke 9,37 Persen pada Februari 2026, BI Tetap Optimistis