JAKARTA, KOMPAS.com - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkapkan, industri perbankan nasional telah meningkatkan penguatan kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) di tengah meningkatnya risiko global akibat konflik di Timur Tengah.
Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi mengatakan, industri perbankan nasional telah melakukan sejumlah upaya mitigasi dan akan terus memperkuat upaya yang telah dilakukan.
"Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset," ujar Hary dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Moodys Ubah Outlook 5 Bank, Perbanas Jamin Kondisi Aman
Ilustrasi bank. Dia melanjutkan, beberapa upaya yang telah dilakukan di antaranya melalui uji ketahanan (stress test) sektoral dan penguatan sistem peringatan dini (early warning system) untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit.
Stress test sektoral dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio kecukupan likuiditas (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR).
Perbankan nasional juga mengelola eksposur nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto.
Baca juga: Perbanas: Perbankan RI Masih Tangguh, tapi Risiko Global Perlu Diwaspadai
"Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," ucapnya.
Hary mengungkapkan, dengan berbagai upaya mitigasi tersebut industri perbankan diharapkan tetap resilien dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal yang berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi saat konferensi pers di Gedung BRILiaN, Club Jakarta, Jumat (27/2/2026) malam.Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tersebut juga menegaskan, meskipun volatilitas eksternal meningkat, indikator fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid.
Hal ini tecermin dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang kuat.
Baca juga: Bencana di Sumatera Ancam Ekonomi RI? Perbanas: Target 5 Persen Masih Bisa Dicapai
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen (yoy), rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tercatat 2,14 persen, dan permodalan berada di level 25,87 persen.
Sebelumnya, OJK telah meminta perbankan dan pengawas industri melihat konflik Timur Tengah sebagai sebuah peringatan untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pihaknya tengah mempersiapkan diri dalam menghadapi volatilitas global ini.
"Kita harus siap-siap dalam pengertian bahwa yang bisa dikatakan kalau situasinya memang semakin memburuk, kita harus melakukan langkah tertentu ya untuk me-review ulang berbagai kebijakan kita," kata dia ketika ditemui usai Pengucapan Sumpah Jabatan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Rabu (25/3/2026).
Baca juga: Perbanas Prediksi Kredit Bank Tumbuh 9-11 Persen pada 2026, Tanda Daya Beli Mulai Pulih?
Tinjauan ulang tersebut terutama perlu dilakukan terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan eksposur impor dan ekspor.
Kendat demikian, OJK menilai sejauh ini dampak dari konflik ini terhadap stabilitas finansial tidak terlalu serius dibandingkan dengan yang pernah terjadi saat pandemi Covid-19.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang