Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo menjelaskan alasan di balik laba bersih Bank Jatim yang tumbuh tinggi meskipun pertumbuhan kredit cederung konservatif.
Ia menjabarkan, pendapatan laba bersih merupakan turunan dari revenue (pendapatan) dikurangi biaya.
Salah satu aspek yang mendorong pendapatan adalah kredit atau pendapatan bunga kredit.
"Ini pun masih kami tumbuhkan. Namun di sisi yang lainnya kami lakukan penguatan atau penghematan dari sisi biaya. Caranya kami mendorong pertumbuhan dana murah," ungkap dia.
Ia menambahkan, komposisi penyaluran kredit tersebut terdiri dari kredit konsumer Rp 36,54 triliun atau meningkat 6,20 persen secara tahunan atau year to year (yoy) dan kredit produktif sebesar Rp 30,7 triliun atau meningkat 3,55 persen secara tahunan (yoy).
Winardi menjelaskan, pada 2025, fokus manajemen menitikberatkan pada penetrasi dana murah dengan menggunakan pola pendekatan transaction banking dan juga berbasis pada bisnis ekosistem untuk meningkatkan jumlah dana dan juga jumlah nasabah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang