Penulis
NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi waktu setempat, namun logam mulia tersebut masih berada di jalur untuk mencatat penurunan bulanan terbesar dalam hampir 17 tahun terakhir.
Dikutip dari CNBC, pada pukul 03.30 waktu setempat, harga spot emas AS tercatat naik sekitar 1 persen ke level 4.553,69 dollar AS per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas bulan terdepan naik 0,6 persen menjadi sekitar 4.553 dollar AS.
Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian yang masih berlanjut terkait konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah memasuki pekan kelima.
Baca juga: Antam Daftar Lelang Blok Emas di Arab Saudi
Ilustrasi emas. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa ia bersedia mengakhiri aksi militer terhadap Iran meskipun Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump juga menyatakan bahwa Washington tengah melakukan “diskusi serius” dengan pejabat Iran.
Namun, ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak segera tercapai, pasukan AS akan menyerang fasilitas listrik, sumur minyak, serta Pulau Kharg yang menjadi infrastruktur penting.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tujuan Washington di Iran dapat tercapai dalam “hitungan minggu, bukan bulan”.
Baca juga: Prospek Emas hingga 2026: Tinjauan Inflasi AS dan Kebijakan Bank Sentral
Sementara itu, Reuters melaporkan sekitar 2.500 marinir AS telah tiba di Timur Tengah pada akhir pekan lalu. Pejabat yang tidak disebutkan namanya menyebut pasukan tersebut berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82.
Konflik di Timur Tengah turut menekan harga emas, seiring lonjakan harga minyak dan gas yang meningkatkan ekspektasi lonjakan inflasi global. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kenaikan suku bunga di berbagai negara.
Ilustrasi emas. Harga emas dunia bergerak stabil di kisaran 4.500 dollar AS per ons seiring pasar mencermati perbedaan sikap AS dan Iran dalam upaya mengakhiri perangs.Secara bulanan, harga emas spot kini berada di jalur penurunan sebesar 14,6 persen. Jika terealisasi, ini akan menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Oktober 2008, ketika harga emas jatuh 16,8 persen.
Investment Manager Shackleton Advisers, Wayne Nutland, mengatakan bahwa dalam empat tahun terakhir terjadi perubahan signifikan dalam pola perdagangan emas.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini (31/3) Kompak Menguat, UBS-Galeri 24 Naik Rp 38.000
“Sebelum perang Ukraina, harga emas cenderung berbanding terbalik dengan imbal hasil obligasi riil dan dollar AS, dengan harga emas naik ketika metrik tersebut turun, dan harga emas turun ketika metrik tersebut naik,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah perang Ukraina, hubungan tersebut sempat berubah, terutama sepanjang 2025 hingga awal 2026 ketika harga emas melonjak tajam melampaui pola historisnya.
“Periode setelah perang Ukraina mengubah hubungan ini secara drastis, khususnya pada tahun 2025 dan awal 2026 ketika harga emas naik sangat tajam, jauh melebihi pergerakan yang disarankan oleh hubungan historis tersebut,” kata Nutland.
Namun, menurut dia, pasca konflik di Timur Tengah, harga emas kembali mengikuti pola tradisionalnya.