Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Panic Buying Terjadi Saat Krisis? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 1 April 2026, 08:18 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

“Jika terasa seperti hal yang masuk akal atau bijak untuk dilakukan, orang akan cenderung melakukannya,” ujarnya.

Liputan media juga dapat memperkuat efek ini. Gambar antrean panjang atau rak kosong di toko dapat menciptakan persepsi bahwa banyak orang sedang menimbun barang, sehingga mendorong lebih banyak orang melakukan hal serupa.

Peran media dan komunikasi publik

Media memiliki peran signifikan dalam membentuk persepsi publik terkait ketersediaan barang.

Pemberitaan yang menyoroti aksi panic buying dapat memperkuat apa yang disebut sebagai descriptive norms, yaitu persepsi tentang apa yang dilakukan oleh mayoritas orang.

Baca juga: Bahlil Jamin Pasokan BBM Aman, Warga Diminta Jangan Panic Buying

Menurut Liam Smith dari BehaviourWorks Australia, penekanan pada perilaku negatif justru dapat memperburuk situasi.

“Apa yang Anda katakan adalah: sebagian besar orang sedang menimbun,” terangnya, merujuk pada pesan publik yang tidak tepat sasaran.

Bahkan, imbauan untuk “tidak panik” bisa berdampak sebaliknya jika tidak disertai dengan informasi yang menenangkan.

Pesan yang tidak memberikan kepastian justru dapat meningkatkan kecemasan masyarakat.

Baca juga: Bulog Imbau Warga Tak Panic Buying, Stok Beras dan Minyak Goreng Aman

Panic buying sebagai mekanisme coping

Dari sudut pandang psikologi, panic buying tidak selalu dianggap sebagai perilaku irasional oleh pelakunya.

Sebaliknya, tindakan tersebut sering dipandang sebagai langkah rasional untuk melindungi diri dan keluarga.

Norberg menilai, orang yang melakukan panic buying tidak melihat diri mereka sebagai egois.

Antrean pembelian bahan bakar minyak di SPBU Cunda, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Jumat (6/3/2026)KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO Antrean pembelian bahan bakar minyak di SPBU Cunda, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Jumat (6/3/2026)

“Ada perbedaan antara bagaimana orang melihat diri mereka dan bagaimana orang lain melihat perilaku tersebut,” katanya.

Baca juga: Pemerintah Imbau Warga Tak Panic Buying BBM, Stok Dipastikan Aman

Hal ini menunjukkan, panic buying juga berkaitan dengan nilai dan persepsi moral individu. Dalam situasi krisis, prioritas terhadap keamanan pribadi dan keluarga sering kali mengalahkan pertimbangan kolektif.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memainkan peran penting dalam mendorong perilaku ini.

Mengutip Frontiers, ketika individu merasa kehilangan kontrol, pembelian barang menjadi cara untuk mengurangi ketegangan psikologis.

Faktor ekonomi dan rasionalitas terbatas

Meskipun sering dianggap irasional, panic buying dalam beberapa kasus memiliki dasar rasional.

Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM Aman, Masyarakat Diminta Tak Panic Buying

Jika terdapat kemungkinan gangguan distribusi atau kenaikan harga, membeli lebih awal dapat dianggap sebagai strategi untuk menghindari kerugian di masa depan.

Namun, rasionalitas ini bersifat terbatas karena didasarkan pada informasi yang tidak selalu lengkap atau akurat.

Ketika banyak orang mengambil keputusan serupa secara bersamaan, dampaknya dapat memperburuk kondisi pasar.

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau