Penulis
“Jika terasa seperti hal yang masuk akal atau bijak untuk dilakukan, orang akan cenderung melakukannya,” ujarnya.
Liputan media juga dapat memperkuat efek ini. Gambar antrean panjang atau rak kosong di toko dapat menciptakan persepsi bahwa banyak orang sedang menimbun barang, sehingga mendorong lebih banyak orang melakukan hal serupa.
Media memiliki peran signifikan dalam membentuk persepsi publik terkait ketersediaan barang.
Pemberitaan yang menyoroti aksi panic buying dapat memperkuat apa yang disebut sebagai descriptive norms, yaitu persepsi tentang apa yang dilakukan oleh mayoritas orang.
Baca juga: Bahlil Jamin Pasokan BBM Aman, Warga Diminta Jangan Panic Buying
Menurut Liam Smith dari BehaviourWorks Australia, penekanan pada perilaku negatif justru dapat memperburuk situasi.
“Apa yang Anda katakan adalah: sebagian besar orang sedang menimbun,” terangnya, merujuk pada pesan publik yang tidak tepat sasaran.
Bahkan, imbauan untuk “tidak panik” bisa berdampak sebaliknya jika tidak disertai dengan informasi yang menenangkan.
Pesan yang tidak memberikan kepastian justru dapat meningkatkan kecemasan masyarakat.
Baca juga: Bulog Imbau Warga Tak Panic Buying, Stok Beras dan Minyak Goreng Aman
Dari sudut pandang psikologi, panic buying tidak selalu dianggap sebagai perilaku irasional oleh pelakunya.
Sebaliknya, tindakan tersebut sering dipandang sebagai langkah rasional untuk melindungi diri dan keluarga.
Norberg menilai, orang yang melakukan panic buying tidak melihat diri mereka sebagai egois.
Antrean pembelian bahan bakar minyak di SPBU Cunda, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Jumat (6/3/2026)“Ada perbedaan antara bagaimana orang melihat diri mereka dan bagaimana orang lain melihat perilaku tersebut,” katanya.
Baca juga: Pemerintah Imbau Warga Tak Panic Buying BBM, Stok Dipastikan Aman
Hal ini menunjukkan, panic buying juga berkaitan dengan nilai dan persepsi moral individu. Dalam situasi krisis, prioritas terhadap keamanan pribadi dan keluarga sering kali mengalahkan pertimbangan kolektif.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memainkan peran penting dalam mendorong perilaku ini.
Mengutip Frontiers, ketika individu merasa kehilangan kontrol, pembelian barang menjadi cara untuk mengurangi ketegangan psikologis.
Meskipun sering dianggap irasional, panic buying dalam beberapa kasus memiliki dasar rasional.
Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM Aman, Masyarakat Diminta Tak Panic Buying
Jika terdapat kemungkinan gangguan distribusi atau kenaikan harga, membeli lebih awal dapat dianggap sebagai strategi untuk menghindari kerugian di masa depan.
Namun, rasionalitas ini bersifat terbatas karena didasarkan pada informasi yang tidak selalu lengkap atau akurat.
Ketika banyak orang mengambil keputusan serupa secara bersamaan, dampaknya dapat memperburuk kondisi pasar.