Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena panic buying atau pembelian panik kembali mencuat di berbagai negara seiring meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi.
Dalam konteks ini, perilaku konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi riil, tetapi juga oleh faktor psikologis yang kompleks.
Dikutip dari studi yang dipublikasikan di laman EBSCO, Rabu (1/4/2026), secara umum, panic buying merujuk pada perilaku membeli barang dalam jumlah besar secara tidak biasa, biasanya terjadi sebelum atau selama krisis.
Baca juga: Zulhas Minta Warga Tak Panic Buying, Stok Pangan Aman
Antrean SPBU Swasta Vivo di Jalan MT Haryono, Tebet arah Cawang pada Selasa (31/3/2026).Perilaku ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran akan kelangkaan barang atau gangguan distribusi.
Dalam kajian psikologi, panic buying kerap dikaitkan dengan persepsi ancaman terhadap ketersediaan barang.
Ketika individu merasa ada risiko kekurangan, mereka cenderung membeli lebih banyak dari kebutuhan normal sebagai bentuk antisipasi.
Fenomena ini terlihat dalam berbagai krisis, mulai dari bencana alam hingga pandemi Covid-19.
Baca juga: Ingatkan Warga Jangan Panic Buying BBM, Bahlil: Pakailah Secukupnya
Pada masa tersebut, sejumlah barang seperti makanan pokok hingga tisu toilet sempat mengalami lonjakan permintaan akibat aksi penimbunan oleh konsumen.
Selain itu, panic buying juga dapat dipicu oleh ketidakpastian masa depan. Rasa tidak pasti membuat individu mencari cara untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi, salah satunya melalui pembelian barang dalam jumlah besar.
Dalam perspektif perilaku konsumen, tindakan ini berfungsi sebagai mekanisme coping untuk meredakan kecemasan.
Ilustrasi : warga membeli bensin eceranSalah satu faktor utama yang mendorong panic buying adalah apa yang dikenal sebagai scarcity heuristic atau persepsi kelangkaan. Ketika suatu barang dianggap langka, nilainya secara psikologis meningkat di mata konsumen.
Baca juga: Panic Buying BBM dan Krisis Energi Bayangi Ekonomi Australia
“Ketika sesuatu dianggap dalam jumlah terbatas, secara psikologis menjadi lebih berharga,” kata profesor psikologi dari Macquarie University Melissa Norberg, dikutip dari The Guardian.
Persepsi ini tidak selalu mencerminkan kondisi nyata. Dalam banyak kasus, ketakutan akan kelangkaan justru menciptakan kelangkaan itu sendiri.
Lonjakan permintaan yang tiba-tiba dapat mengganggu rantai pasok, sehingga stok barang benar-benar menipis.
Dalam literatur ekonomi dan psikologi, kondisi ini disebut sebagai self-fulfilling prophecy, di mana ekspektasi akan kekurangan memicu perilaku yang menyebabkan kekurangan tersebut benar-benar terjadi.
Baca juga: Stok BBM Aman Jelang Lebaran, Imbauan Tak Panic Buying Menguat
Panic buying juga erat kaitannya dengan dinamika sosial. Individu tidak hanya bertindak berdasarkan kebutuhan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika konsumen melihat orang lain membeli dalam jumlah besar, mereka cenderung meniru tindakan tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai herd behavior atau perilaku kawanan.
Karina Rune, peneliti di bidang kesehatan dan ilmu perilaku dari University of the Sunshine Coast, menyebut panic buying sebagai respons coping jangka pendek terhadap stres situasional dan penularan sosial.
Ia menambahkan, norma sosial memiliki peran penting.
Sejumlah warga mengantre untuk mengisi BBM di SPBU Simpang Teritit, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Jumat (6/3/2026).Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM dan Elpiji Aman Selama Lebaran, Masyarakat Diimbau Tak Panic Buying