Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Kecelakaan Km 290 Tol Pejagan-Pemalang: Kantuk Bisa Berujung Fatal

Kompas.com, 20 Maret 2026, 04:12 WIB
Aprida Mega Nanda,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan lalu lintas kembali mengingatkan soal risiko besar di balik kebiasaan sepele saat berkendara, menahan kantuk. Peristiwa tragis di ruas Tol Pejagan–Pemalang Km 290 jalur B (one way), Kamis (19/3/2026), menjadi contoh nyata bagaimana kondisi pengemudi yang tidak prima bisa berujung fatal.

Dikutip Kompas.com, Kamis (19/3/2026), insiden tersebut melibatkan sebuah Toyota Calya bernomor polisi B-2399-FFR dan bus Hino Agra Mas bernomor polisi T-7622-DA. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan bermula saat mobil melaju dari arah barat menuju timur atau ke arah Semarang.

Saat tiba di lokasi kejadian, pengemudi diduga mengantuk. Kendaraan kemudian oleng ke kanan dan menabrak bagian belakang bus Agra Mas yang saat itu tengah berhenti di bahu jalan. Bus diketahui telah menyalakan lampu darurat sebagai tanda peringatan.

Baca juga: One Way Lokal Tol Semarang Masih Berlaku, Lalin Lancar

Akibat kecelakaan tersebut, pengemudi Toyota Calya dan satu orang penumpang mengalami luka-luka. Sementara tiga penumpang lainnya dilaporkan meninggal dunia.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan yang dipicu oleh faktor kelelahan dan kantuk saat berkendara.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menyebut, kesalahan pengemudi masih menjadi penyebab terbesar kecelakaan di jalan raya.

“Menyetir sambil mengantuk sudah jelas bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Mengantuk bisa membuat pengemudi berada di posisi setengah sadar. Artinya, mata tidak bisa membaca lalu lintas dengan benar dan otak sudah tidak dapat merespon situasi lingkungan,” kata Sony.

Ilustrasi microsleep. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa microsleep saat mudik bisa terjadi dalam hitungan detik dan berisiko menyebabkan kecelakaan fatal.Shutterstock/rbkomar Ilustrasi microsleep. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa microsleep saat mudik bisa terjadi dalam hitungan detik dan berisiko menyebabkan kecelakaan fatal.

Sony melanjutkan, pengemudi yang mengantuk sebenarnya tidak sepenuhnya sadar saat mengemudi. Sebagian pikirannya sudah berada di bawah alam sadar sehingga kemampuan membaca situasi di jalan menjadi terganggu.

“Perilakunya loss, ketika mengemudi ya hanya lurus tanpa kontrol dan berhenti ketika sudah menabrak objek di depan atau samping kiri kanannya,” kata dia.

Menurut Sony, kantuk sejatinya merupakan kondisi yang disadari oleh pengemudi. Namun, banyak yang tetap memaksakan diri karena merasa tanggung atau ingin cepat sampai tujuan.

Baca juga: Komunitas Mobil Rayakan Prestasi Balap Lewat Aksi Berbagi di TMII

Tidak sedikit pula yang mencoba mengatasinya dengan cara instan seperti merokok, mengobrol, minum kopi, atau bernyanyi. Padahal, kondisi otak sebenarnya sudah tidak optimal untuk berkendara.

“Cara benar menyiasati kantuk adalah harus berhenti, tidur atau lakukan refresh merangsang otot, otak dan syaraf,” ujar Sony.

Belajar dari kejadian ini, penting bagi setiap pengemudi untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh. Mengemudi dalam keadaan mengantuk bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menyangkut keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau