Jalur Paninjauan—Sawah Parik memang dikenal sebagai alternatif menuju Bukittinggi, terutama untuk menghindari kepadatan di jalan utama Padangpanjang. Namun pada momen Lebaran, jalur alternatif itu pun tak luput dari antrean.
“Nampaknya perantau banyak yang bawa keluarga raun-raun ke Jam Gadang,” katanya.
Ia sempat mempertimbangkan untuk menginap. Namun setelah melihat kondisi lalu lintas yang mulai mencair, perjalanan kembali dilanjutkan sekitar pukul 13.30 WIB menuju Padangpanjang.
Baca juga: Sudah Terjebak Macet, Bandung Zoo Tutup, Warga Sumedang Pilih Botram di Pinggir Gerbang
Memasuki kota, rekayasa lalu lintas mulai terasa. Polisi menutup sejumlah simpang dan mengarahkan kendaraan ke jalur tertentu.
Di pertigaan jalan utama, Ferdhinal diarahkan berbelok ke kiri. Arah menuju Silaiang ditutup, begitu pula akses ke pasar kota. Ia kemudian mengambil jalur alternatif melalui simpang SMAN 1 Padangpanjang, lalu menuju kawasan Mifan.
Namun kemacetan kembali muncul di sekitar Kantor Camat Padangpanjang Barat. Antrean kendaraan mengular dan nyaris terkunci. Di tengah situasi itu, Ferdhinal bahkan sempat bertemu rekan lamanya dan berbincang sejenak di pinggir jalan.
Tak lama kemudian, dua pengendara sepeda motor melintas dan memberi saran kepada para pengemudi untuk berputar arah menuju Kampung Teleng.
Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan.
Jalur Kampung Teleng bukanlah rute utama. Jalanannya sempit, berkelok, dengan kontur naik-turun yang cukup tajam. Namun justru di situlah Ferdhinal menemukan kelancaran.
Ia mengaku baru pertama kali melewati jalur tersebut, meski pernah bekerja cukup lama di wilayah itu pada awal 2000-an.
Dari Kampung Teleng, ia kembali masuk ke jalur utama—dan mendapati situasi yang berbeda. Jalan relatif lengang, hampir tanpa kendaraan dari arah berlawanan.
Baca juga: Rawan Macet dan Potensi Bencana, Polda Jatim Siaga di 488 Tempat Wisata
Beberapa mobil terlihat berhenti di titik-titik tertentu, seperti kawasan Lembah Anai hingga Sicincin. Sejumlah persimpangan dijaga petugas kepolisian.
Belakangan, ia mengetahui bahwa situasi itu merupakan bagian dari rekayasa lalu lintas sistem satu arah (one way). Polisi menutup arus dari arah berlawanan selama sekitar 30 menit, sebelum jalur dibuka kembali pukul 14.00 WIB dari arah Padangpanjang.
Dalam kondisi tersebut, kendaraan dapat melaju lebih lancar. “Seperti lewat jalan tol gratis,” ujarnya.
Kecepatan kendaraan bisa mencapai 70 hingga 80 kilometer per jam—angka yang jarang terjadi di jalur tersebut pada musim mudik.
Baca juga: Hindari 3 Titik Ini jika Tak Mau Terjebak Macet di Puncak