Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bocah Tewas Tersetrum, Semua Keran Air Siap Minum di Denpasar Akan Dicek

Kompas.com, 14 April 2017, 23:38 WIB
Kontributor Bali, Robinson Gamar

Penulis

DENPASAR, KOMPAS.com - Wali Kota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra mengaku memerintahkan pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Denpasar, Bali untuk mengecek kembali keamanan mesin Air Minum Otomatis (AMO) di ruang publik.

Hal itu menyusul insiden meninggalnya seorang anak bernama Rendi Rizaldi (13) karena tersetrum saat hendak minum air dari keran air siap minum atau mesin Air Minum Otomatis di Lapangan Puputan, Denpasar, Kamis (13/4/2017).

“Keberadaan fasilitas publik di Kota Denpasar kita jaga dan rawat bersama untuk keamanan dan kenyamanan kita bersama,’’ ujar Rai Mantra di RSUP Sanglah, Denpasar, Jumat (14/4/2017).

Rai Mantra juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Rendi, warga Jalan Letda Jaya, Denpasar. Kehadiran Rai Mantra di RSUP Sanglah disambut oleh ayah Rendi, Zaenal Arifin.

Dalam kesempatan itu, Rai Mantra menyampaikan rasa duka yang mendalam bagi keluarga Rendi.

‘’Kejadian ini tidak ada yang menduga. Tapi ini menjadi suatu hal yang harus menjadi perhatian kedepan,’’ ujar Rai Mantra.

Baca: Bocah 13 Tahun Tewas Tersetrum Saat Minum di Keran Fasilitas Umum

Atas kejadian ini, pihak kepolisian juga tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, korban minum air dari fasilitas air minum milik PDAM (air siap minum) pukul 16.50 WITA.

Tak lama kemudian, Renditersetrum lalu terjatuh di lantai tempat minum umum tersebut.

"Baju korban tersangkut di besi saluran air. Karena ada aliran listrik baju korban dipotong oleh warga," jelas Kanit Reskrim Polsek Denpasar Barat IPTU Aan Saputra.

Korban langsung dilarikan ke RS TNI AD. Namun, nyawanya tak tertolong.

"Korban sudah dirujuk ke RS TNI AD dan dinyatakan meninggal dunia. Kami akan segera panggil pihak-pihak terkait. Ini kok ada korban meninggal karena fasilitas umum," lanjut Aan.

Saat menggali keterangan di sekitar lokasi kejadian, ternyata ada korban lain yang pernah tersetrum seperti Rendi. Korban juga masih anak-anak, yakni I Bagus Ngurah Agung Lanang Sudiksa, seorang siswa SD. Namun, saat itu tidak berakibat fatal.

Kompas TV Ambil Ranting Pohon, Warga Tewas Tersengat Listrik
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Bocah Tewas Tersetrum, Semua Keran Air Siap Minum di Denpasar Akan Dicek
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat