SURABAYA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan dampak konflik Timur Tengah ke perekonomian Jawa Timur.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur baru saja menetapkan sistem Work From Home (WFH) untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Rabu dengan alasan efisiensi energi dan respon atas harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Konflik Timur Tengah antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel membuat harga minyak dunia meninggi.
Dampaknya, turut dirasakan di dalam negeri tak terkecuali kondisi perekonomian Jawa Timur karena imbas jalur logistik.
“UMKM mulai mengeluhkan kenaikan harga plastik, BBM. Pemerintah pusat berusaha menahan gejolak harga tetapi tentu kita harus juga antisipatif,” kata Emil di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (25/3/2026).
Baca juga: 16 Pesawat AS Lumpuh Sepanjang Perang Iran, Lampaui Operasi Irak dan Libya
Dari hasil simulasi pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bank Indonesia, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dampak ke Jawa Timur tidak separah daerah lain.
Dibuktikan saat ini, persentase pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di nilai ekspor tumbuh 16 persen dan impor turun 2,7 persen. Pada tahun 2025 PDRB Jawa Timur tercatat mencapai Rp 3.403,17 triliun.
“Artinya memang tidak dominan tapi tidak kecil juga, lebih dari 10 persen. Jadi kita harus hati-hati bisa sampai mendekati 20 persen ekspor. Maka perlambatan perdagangan global pasti ada pengaruhnya terhadap Jawa Timur,” tuturnya.
Baca juga: Bos Minyak Dunia Ketar-ketir Krisis Energi Kian Nyata akibat Perang Iran
Meski begitu, Emil tidak ingin semua mata lengah.
Pemprov Jatim menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk melakukan antisipasi apabila terjadi lonjakan harga, penimbunan, dan panic buyying yang berpotensi terjadi di masyarakat.
“Para Bupati Wali Kota harus bersiap-siap. Termasuk misalnya kalau ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, ingin memanfaatkan gejolak BBM, atau gejolak harga pangan, tindakan menimbun, panic buying. Ini kan yang harus ‘ngedem’ supaya masyarakat tidak termakan isu,” tegasnya.
Emil telah berkoordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Hiswana Migas saat ini masih stabil dan tidak ada pengurangan stok LPG.
“Stabil artinya kalau masyarakat pola konsumsinya normal, selama ini gak ada kelangkaan kecuali pada saat ada perubahan sistem dulu, jadi harus ada penjelasan standarnya,” bebernya.
Baca juga: Meski Digempur, Iran Tetap Ogah Negosiasi dengan AS
“Mengalir tiap hari stok ini. Tapi tidak ada gangguan sampai hari ini terhadap kontinuitas stok tadi. Kalau itu Jawa Timur tergolong tidak sesignifikan daerah lain, angkanya masih 0,0 sekian,” sambungnya
Emil juga menyoroti angka inflasi Februari yang mencapai 4,64 persen, meski la menjelaskan angka tersebut dipengaruhi oleh perubahan kebijakan subsidi pada periode pembanding tahun sebelumnya. Ia menekankan angka ini harus menjadi alarm kewaspadaan.
“Tapi ini menjadi alarm, kita harus betul-betul cermat, jangan sampai inflasinya tidak terkendali,” pungkasnya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang