Elon Musk dan Bos Telegram Kompak Sebut WhatsApp Tak Aman

Kompas.com, Diperbarui 30/01/2026, 07:43 WIB
Lely Maulida,
Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Elon Musk, pemilik X Corp (perusahaan yang menaungi X/Twitter) dan Pavel Durov, CEO Telegram, kompak mengkritik keamanan privasi WhatsApp (WA).

Keduanya mengomentari kabar gugatan "class action" terhadap WhatsApp oleh sekelompok orang dari berbagai negara.

Gugatan itu menyebut bahwa Meta Platform, Inc., perusahaan induk WhatsApp telah membuat klaim palsu tentang privasi dan keamanan layanan. Mereka juga menuding bahwa sistem internal Meta berpotensi melihat chat WhatsApp pengguna.

Baca juga: Instagram, Facebook, dan WhatsApp Siapkan Paket Berbayar, Ini Bocoran Fiturnya

Berita soal gugatan ini kemudian ramai di media sosial, salah satunya X. Elon Musk pun mengutip (quote) sebuah posting soal ringkasan berita gugatan WhatsApp.

Posting tersebut melampirkan tangkapan layar dari situs outlet media Bloomberg, dengan judul "Lawsuit Claims Meta Can See WhatsApp Chats in Breach of Privacy" (Sebuah Gugatan Klaim Meta Bisa Melihat Isi Chat dalam Pelanggaran Data Pribadi).

"WhatsApp enggak aman. Bahkan Signal sekalipun dipertanyakan (keamanannya). Pakai X Chat," kata Musk.

Signal yang ia maksud adalah aplikasi perpesanan pesaing WhatsApp, yang konon menawarkan keamanan privasi lebih unggul.

Musk juga memanfaatkan postingnya itu untuk mempromosikan X Chat, yakni fitur percakapan (chatting) di platform X, yang menggantikan sistem pesan langsung (direct message/DM).

Hingga saat ini, X Chat memang belum sepopuler Signal apalagi WhatsApp.

Bukan cuma Elon Musk, CEO Telegram, Pavel Durov juga ikut mengomentari kasus WhatsApp ini. Senada dengan Elon Musk, Durov juga menyangsikan keamanan kompetitor platformnya itu.

"Sangat tidak masuk akal mempercayai bahwa WhatsApp benar-benar aman di tahun 2026. Saat kami menganalisa bagaimana WhatsApp mengimplementasikan "enkripsi" mereka, kami temukan sejumlah celah serangan," kata Durov.

Posting Durov itu kemudian direspons Musk dengan balasan "Benar". Kedua bos media sosial ini seolah memiliki "musuh" bersama.

WhatsApp tak aman?

Adapun gugatan terhadap WhatsApp diajukan oleh penggugat dari beberapa negara, seperti Australia, Brazil, India, Mexico, dan Afrika Selatan.

Seperti disebutkan sebelumnya, mereka menuding bahwa Meta membuat klaim palsu tentang privasi dan keamanan layanan WhatsApp.

Penggugat mengeklaim, Meta mengglorifikasi sistem "end-to-end encryption" sebagai sistem keamanan mereka yang diklaim sangat mumpuni.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau