Hanif Rahadian
Pengamat dan Peneliti

Pengamat pertahanan dan peneliti di lembaga kajian pertahanan strategis KERIS.

kolom

Transformasi Strategi Perang Modern: Menggali Pelajaran EMSO dan JADO dari Konflik Venezuela dan Iran untuk Indonesia

Kompas.com, 6 Maret 2026, 10:21 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DUNIA KEMBALI dikejutkan dengan lahirnya perang baru dan operasi militer di Timur Tengah. Sabtu (28/02) 2026 kemarin, Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan operasi tempur berskala besar yang menargetkan Iran, dan dikenal dengan sebutan Operation Epic Fury.

Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, berasalan bahwa serangan ini dilakukan dengan alasan melindungi pendudukan Amerika Serikat dari ancaman Iran, dan mencegah Iran dalam mengembangkan dan memiliki senjata nuklir.

Melalui serangan yang dijalankan secara terkoordinasi dengan Israel kemarin, AS secara mengejutkan sukses menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, yakni Ayatollah Khamenei.

Serangan terhadap Iran ini pun pada akhirnya menambah daftar panjang kampanye operasi militer berskala modern yang diotorisasi oleh Presiden AS.

Melihat kembali dinamika operasi militer berskala modern yang dilancarkan oleh Amerika Serikat seperti Operation Midnight Hammer yang menargetkan fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025, Operation Absolute Resolve yang menandai serangkaian serangan di Venezuela awal Januari 2026, serta kampanye militer besar yang kini dikenal sebagai Operation Epic Fury terhadap Iran, terdapat pelajaran penting tentang karakter perang modern yang perlu dipahami.

Ketiga operasi tersebut menunjukkan bahwa konsep peperangan modern saat ini sangat menitikberatkan pada pendekatan multi-domain, di mana fase non-kinetik seperti operasi siber, intelijen, dan dominasi spektrum elektromagnetik seringkali menjadi elemen atau unsur pembuka sebelum serangan kinetik dikerahkan.

Pendekatan ini memungkinkan efektivitas misi yang tinggi sekaligus mampu meminimalisir dampak kerugian personil/materil secara signifikan dibandingkan adanya konfrontasi langsung.

Konsep semacam ini bukanlah hal baru, tetapi semakin relevan dan sering diterapkan dalam berbagai operasi militer modern di mana keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan berbagai dimensi domain operasi secara simultan.

Melihat dari taktik operasi yang telah berlangsung, bisa ditarik kesimpulan bahwa operasi serangan kinetik melalui udara dan laut tidak pernah berdiri sendiri.

Melainkan, serangan-serangan ini dapat berlangsung dengan didukung oleh pengerahan aset intelijen secara masif yang mana sebelumnya rajin melakukan monitoring dan surveillance intensif terhadap aktivitas-aktivitas di darat.

Dukungan ini mencakup pemanfaatan citra satelit, Human Intelligence (HUMINT), Signal Intelligence (SIGINT), hingga operasi siber (Cyber ops) yang dirancang untuk melemahkan sistem lawan sebelum serangan utama dilaksanakan.

Selain mengerahkan unsur kinetik melalui pengerahan pesawat tempur dan penembakan rudal jelajah, unsur non-kinetik seperti operasi siber dan electronic warfare memainkan peran yang sangat krusial.

Dalam kasus Venezuela, misalnya, sejumlah sistem pertahanan udara dan radar yang dioperasikan oleh negara tersebut dilaporkan gagal berfungsi secara optimal untuk mendeteksi serta mencegah masuknya aset militer AS ke wilayah ibu kota Caracas.

Hal ini menunjukkan bagaimana dominasi spektrum elektromagnetik dan gangguan sistem dapat melumpuhkan kemampuan pertahanan konvensional Venezuela secara optimal.

Dalam konteks serangan terhadap Iran, operasi siber juga disebut mampu melumpuhkan jaringan konektivitas internet secara luas. Kondisi ini dapat diibaratkan sebagai “kebutaan operasional”, karena gangguan sinyal (jamming) menghambat pertukaran komunikasi dan informasi, sehingga memperlemah koordinasi serta respons pertahanan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau