
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DUNIA KEMBALI dikejutkan dengan lahirnya perang baru dan operasi militer di Timur Tengah. Sabtu (28/02) 2026 kemarin, Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan operasi tempur berskala besar yang menargetkan Iran, dan dikenal dengan sebutan Operation Epic Fury.
Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, berasalan bahwa serangan ini dilakukan dengan alasan melindungi pendudukan Amerika Serikat dari ancaman Iran, dan mencegah Iran dalam mengembangkan dan memiliki senjata nuklir.
Melalui serangan yang dijalankan secara terkoordinasi dengan Israel kemarin, AS secara mengejutkan sukses menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, yakni Ayatollah Khamenei.
Serangan terhadap Iran ini pun pada akhirnya menambah daftar panjang kampanye operasi militer berskala modern yang diotorisasi oleh Presiden AS.
Melihat kembali dinamika operasi militer berskala modern yang dilancarkan oleh Amerika Serikat seperti Operation Midnight Hammer yang menargetkan fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025, Operation Absolute Resolve yang menandai serangkaian serangan di Venezuela awal Januari 2026, serta kampanye militer besar yang kini dikenal sebagai Operation Epic Fury terhadap Iran, terdapat pelajaran penting tentang karakter perang modern yang perlu dipahami.
Ketiga operasi tersebut menunjukkan bahwa konsep peperangan modern saat ini sangat menitikberatkan pada pendekatan multi-domain, di mana fase non-kinetik seperti operasi siber, intelijen, dan dominasi spektrum elektromagnetik seringkali menjadi elemen atau unsur pembuka sebelum serangan kinetik dikerahkan.
Pendekatan ini memungkinkan efektivitas misi yang tinggi sekaligus mampu meminimalisir dampak kerugian personil/materil secara signifikan dibandingkan adanya konfrontasi langsung.
Konsep semacam ini bukanlah hal baru, tetapi semakin relevan dan sering diterapkan dalam berbagai operasi militer modern di mana keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan berbagai dimensi domain operasi secara simultan.
Melihat dari taktik operasi yang telah berlangsung, bisa ditarik kesimpulan bahwa operasi serangan kinetik melalui udara dan laut tidak pernah berdiri sendiri.
Melainkan, serangan-serangan ini dapat berlangsung dengan didukung oleh pengerahan aset intelijen secara masif yang mana sebelumnya rajin melakukan monitoring dan surveillance intensif terhadap aktivitas-aktivitas di darat.
Dukungan ini mencakup pemanfaatan citra satelit, Human Intelligence (HUMINT), Signal Intelligence (SIGINT), hingga operasi siber (Cyber ops) yang dirancang untuk melemahkan sistem lawan sebelum serangan utama dilaksanakan.
Selain mengerahkan unsur kinetik melalui pengerahan pesawat tempur dan penembakan rudal jelajah, unsur non-kinetik seperti operasi siber dan electronic warfare memainkan peran yang sangat krusial.
Dalam kasus Venezuela, misalnya, sejumlah sistem pertahanan udara dan radar yang dioperasikan oleh negara tersebut dilaporkan gagal berfungsi secara optimal untuk mendeteksi serta mencegah masuknya aset militer AS ke wilayah ibu kota Caracas.
Hal ini menunjukkan bagaimana dominasi spektrum elektromagnetik dan gangguan sistem dapat melumpuhkan kemampuan pertahanan konvensional Venezuela secara optimal.
Dalam konteks serangan terhadap Iran, operasi siber juga disebut mampu melumpuhkan jaringan konektivitas internet secara luas. Kondisi ini dapat diibaratkan sebagai “kebutaan operasional”, karena gangguan sinyal (jamming) menghambat pertukaran komunikasi dan informasi, sehingga memperlemah koordinasi serta respons pertahanan.