Terbaru, Ini 10 Profesi Paling Terdampak dan Aman dari AI

Kompas.com, Diperbarui 30/03/2026, 06:46 WIB
Lely Maulida,
Reza Wahyudi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gelombang kecerdasan buatan (AI) memang sukses bikin banyak pekerja ketar-ketir. Apalagi dengan makin canggihnya model bahasa besar (LLM) belakangan ini. Namun, seberapa besar sih ancaman nyata AI buat pekerjaan kita?

Para peneliti dari Anthropic baru saja merilis laporan berjudul "Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence".

Yang menarik, mereka tidak cuma mengukur apa yang bisa dilakukan AI di atas kertas.

Mereka justru membandingkan potensi teori tersebut dengan data riil pemakaian chatbot Claude oleh para profesional di dunia kerja saat ini. Hasilnya cukup bikin bernapas lega, setidaknya untuk sekarang.

Anthropic menyimpulkan kalau adopsi AI di dunia kerja nyatanya masih sangat jauh dari batas kemampuannya.

Meski begitu, laporan ini juga memetakan secara jelas profesi apa saja yang kini mulai "dijajah" AI, dan mana yang masih aman sentosa.

Baca juga: Riset Microsoft Ungkap 40 Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI

10 profesi paling terdampak AI

Profesi yang masuk dalam kategori ini adalah mereka yang kesehariannya berkutat dengan tugas-tugas di depan layar yang sifatnya bisa diotomatisasi secara penuh oleh sistem AI.

Berdasarkan laporan tersebut, ini daftar lengkap 10 profesi dengan tingkat paparan AI tertinggi, seperti dirangkum KompasTekno dari laporan terbaru Anthropic:

  1. Programmer (74,5%): Posisi teratas ditempati oleh para programer. Mayoritas tugas mereka, coding, membuat update, dan mengelola software, kini mulai banyak diambil alih secara otomatis oleh AI.
  2. Customer service (70,1%): Interaksi dengan pelanggan, memproses pesanan, hingga menangani komplain, kini pelan-pelan mulai digantikan oleh chatbot AI.
  3. Data entry (67,1%): Pekerjaan repetitif seperti membaca dokumen sumber dan memasukkan datanya ke dalam sistem adalah "makanan empuk" buat AI.
  4. Spesialis rekam medis (66,7%): Mengompilasi, menyarikan, dan mengodekan data  pasien kini masuk ke dalam tugas yang makin mudah diotomatisasi.
  5. Analis riset pasar dan pemasaran (64,8%): Tugas menyusun laporan, membuat grafik ilustrasi data, sampai menerjemahkan temuan riset rumit ke dalam teks tertulis kini sudah sangat lumrah dikerjakan mesin.
  6. Sales/tenaga penjualan grosir dan manufaktur (62,8%): Rutinitas menghubungi pelanggan untuk mendemonstrasikan produk dan meminta pesanan ternyata punya tingkat paparan AI yang cukup tinggi.
  7. Analis keuangan dan investasi (57,2%): Menganalisis informasi keuangan untuk memproyeksi kondisi bisnis, industri, atau ekonomi demi keputusan investasi kini bisa dieksekusi dengan cepat oleh LLM AI.
  8. Software QA/penguji perangkat lunak (51,9%): Pekerjaan memodifikasi software untuk memperbaiki bug atau meningkatkan performa rupanya mulai banyak didelegasikan ke AI.
  9. Analis keamanan informasi (48,6%): Melakukan penilaian risiko siber dan menguji keamanan pemrosesan data. Tugas krusial ini ternyata tak luput dari tren otomasi.
  10. Spesialis support komputer (46,8%): Menjawab pertanyaan pengguna terkait pengoperasian software atau hardware demi menyelesaikan masalah teknis kini makin sering ditangani oleh agen AI.

Baca juga: Anak Anda Usia 5 Tahun Saat Ini, Nanti Dewasa Tak Perlu Cari Kerja Lagi

Daftar profesi yang paling Aman dari AI

Kalau Anda bekerja menggunakan keterampilan fisik, butuh interaksi manusia tingkat tinggi, atau harus terjun langsung ke lapangan, Anda patut bersyukur.

Anthropic mencatat ada sekitar 30 persen pekerja di Amerika Serikat yang menduduki level paparan AI "nol persen".

Artinya, tugas harian mereka terlalu jarang atau bahkan mustahil untuk digantikan oleh mesin, setidaknya untuk saat ini.

Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat

Siapa saja mereka?

  • Guru dan tenaga pendidik: AI sekarang memang sudah bisa diandalkan untuk menilai PR atau tugas siswa. Namun, untuk urusan mengelola ruang kelas secara langsung, pekerjaan ini murni ranah manusia yang belum bisa disentuh mesin.
  • Perawat dan praktisi kesehatan: Profesi perawat terdaftar memiliki tingkat paparan AI yang sangat minim pada kuadran proyeksi lapangan kerja.
  • Pekerja lapangan dan kasar: Ini termasuk pekerja sektor pertanian (memangkas pohon, mengoperasikan traktor mesin) , mekanik sepeda motor , koki dan tukang cuci piring, penjaga pantai, bartender , hingga penjaga ruang ganti baju.
  • Pengacara litigasi: Pekerjaan legal spesifik yang mengharuskan perwakilan klien secara lisan di ruang sidang pengadilan juga masih jauh dari jangkauan otomasi AI.

Satu fakta menarik dari laporan ini: pekerja yang paling rawan tergusur AI ternyata justru berasal dari kalangan profesional berpendidikan tinggi dan bergaji besar.

Data menunjukkan bahwa pekerja yang sangat terpapar AI didominasi oleh lulusan sarjana (37,1 persen) dan pascasarjana (17,4 persen).

Rata-rata gaji mereka (32,69 dollar AS/jam) juga jauh lebih tinggi ketimbang pekerja yang tidak terpapar AI sama sekali (22,23 dollar AS/jam).

Meski daftar di atas terlihat meresahkan, ada kabar baik dari riset ini. Sampai lapora tersebut dirilis, Anthropic sama sekali tidak menemukan adanya lonjakan angka pengangguran yang masif, bahkan di kalangan profesi yang paling rentan sekalipun.

Jadi, ancaman PHK massal gara-gara AI tampaknya belum akan menjadi realitas dalam waktu dekat.

Baca juga: Sempat PHK Ribuan Karyawan demi AI, IBM Kini Rekrut Orang Besar-besaran

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau