KOMPAS.com - Gelombang kecerdasan buatan (AI) memang sukses bikin banyak pekerja ketar-ketir. Apalagi dengan makin canggihnya model bahasa besar (LLM) belakangan ini. Namun, seberapa besar sih ancaman nyata AI buat pekerjaan kita?
Para peneliti dari Anthropic baru saja merilis laporan berjudul "Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence".
Yang menarik, mereka tidak cuma mengukur apa yang bisa dilakukan AI di atas kertas.
Mereka justru membandingkan potensi teori tersebut dengan data riil pemakaian chatbot Claude oleh para profesional di dunia kerja saat ini. Hasilnya cukup bikin bernapas lega, setidaknya untuk sekarang.
Anthropic menyimpulkan kalau adopsi AI di dunia kerja nyatanya masih sangat jauh dari batas kemampuannya.
Meski begitu, laporan ini juga memetakan secara jelas profesi apa saja yang kini mulai "dijajah" AI, dan mana yang masih aman sentosa.
Baca juga: Riset Microsoft Ungkap 40 Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI
Profesi yang masuk dalam kategori ini adalah mereka yang kesehariannya berkutat dengan tugas-tugas di depan layar yang sifatnya bisa diotomatisasi secara penuh oleh sistem AI.
Berdasarkan laporan tersebut, ini daftar lengkap 10 profesi dengan tingkat paparan AI tertinggi, seperti dirangkum KompasTekno dari laporan terbaru Anthropic:
Baca juga: Anak Anda Usia 5 Tahun Saat Ini, Nanti Dewasa Tak Perlu Cari Kerja Lagi
Kalau Anda bekerja menggunakan keterampilan fisik, butuh interaksi manusia tingkat tinggi, atau harus terjun langsung ke lapangan, Anda patut bersyukur.
Anthropic mencatat ada sekitar 30 persen pekerja di Amerika Serikat yang menduduki level paparan AI "nol persen".
Artinya, tugas harian mereka terlalu jarang atau bahkan mustahil untuk digantikan oleh mesin, setidaknya untuk saat ini.
Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat
Siapa saja mereka?
Satu fakta menarik dari laporan ini: pekerja yang paling rawan tergusur AI ternyata justru berasal dari kalangan profesional berpendidikan tinggi dan bergaji besar.
Data menunjukkan bahwa pekerja yang sangat terpapar AI didominasi oleh lulusan sarjana (37,1 persen) dan pascasarjana (17,4 persen).
Rata-rata gaji mereka (32,69 dollar AS/jam) juga jauh lebih tinggi ketimbang pekerja yang tidak terpapar AI sama sekali (22,23 dollar AS/jam).
Meski daftar di atas terlihat meresahkan, ada kabar baik dari riset ini. Sampai lapora tersebut dirilis, Anthropic sama sekali tidak menemukan adanya lonjakan angka pengangguran yang masif, bahkan di kalangan profesi yang paling rentan sekalipun.
Jadi, ancaman PHK massal gara-gara AI tampaknya belum akan menjadi realitas dalam waktu dekat.
Baca juga: Sempat PHK Ribuan Karyawan demi AI, IBM Kini Rekrut Orang Besar-besaran
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang