Dokter di London Operasi Pasien 2.400 Km Jauhnya

Kompas.com, Diperbarui 22/03/2026, 09:31 WIB
Marsha Bremanda,
Reska K. Nistanto

Tim Redaksi

Sumber BBC

KOMPAS.com - Seorang pria bernama Paul Buxton yang tinggal di Gibraltar, wilayah seberang laut Britania Raya, tak pernah menyangka dirinya akan menjadi bagian dari sejarah medis dunia. 

Buxton yang berusia 62 tahun, didiagnosis kanker prostat sesaat setelah perayaan Natal tahun lalu. Awalnya ia mengira harus terbang ke Inggris dan masuk daftar ruang tunggu pelayanan kesehatan nasional Inggris (NHS) untuk menjalani operasi. 

Namun yang terjadi justru berbeda. Operasi pengangkatan prostat yang ia jalani justru dilakukan dari jarak jauh oleh dokter bedah yang berada sekitar 1.500 mil (2.400 kilometer) jauhnya dari lokasi Buxton. 

Baca juga: Robot Ini Belajar Operasi Bedah Pakai Video

Prosedur tersebut menjadikannya pasien pertama yang menjalani operasi robotik jarak jauh di Inggris. Hal ini sekaligus menandai terobosan baru dalam perkembangan telesurgery di bidang medis. 

Jadi pasien uji coba

Operasi yang dijalani Buxton sendiri merupakan bagian dari uji coba praktek telesurgery antara dokter di London dan dokter di rumah sakit tempat ia dirawat di Gibraltar.

Sebagai pasien pertama dalam uji coba, keputusan Buxton untuk menjalani operasi jarak jauh ini sempat memunculkan berbagai pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya. 

"Banyak orang bertanya kepada saya, 'kamu benar-benar akan melakukannya?'," kata Buxton, sebagaimana dikutip KompasTekno dari BBC. 

Alih-alih ragu, Buxton justru mengaku tertarik dengan kesempatan tersebut. Ia menilai, pengalaman itu sebagai "peluang" untuk ikut ambil bagian dalam perkembangan teknologi medis. 

Baca juga: 5G Telkomsel Dipakai Operasi Bedah Jarak Jauh, Dokter di Bali Pasien di Jakarta

"Saya merasa seperti bisa memberikan sesuai sebagai balasannya. Jadi saya berpikir: ini keputusan yang sangat mudah," ujarnya. 

Ia juga mengatakan bahwa teknologi ini merupakan terobosan bagi Gibraltar, karena pasien tidak lagi perlu meninggalkan wilayah tersebut untuk menjalani perawatan.

Buxton juga menilai, teknologi ini bisa menjadi terobosan penting bagi Gibraltar. Pasalnya, wilayah tersebut hanya memiliki satu rumah sakit.

Para warga yang membutuhkan perawatan medis khusus dan lebih optimal, kata Buxton, biasanya harus bepergian ke luar negeri, terutama ke Inggris.

Operasi dari jarak 2.400 km

Paul Buxton (62), pasien yang menjalani operasi robotik jarak jauh pertama dari Inggris. Buxton yang tinggal di Gibraltar menjalani prosedur pengangkatan prostat tanpa harus bepergian ke London.PA Paul Buxton (62), pasien yang menjalani operasi robotik jarak jauh pertama dari Inggris. Buxton yang tinggal di Gibraltar menjalani prosedur pengangkatan prostat tanpa harus bepergian ke London.
Operasi pengangkatan prostat yang dilakukan Buxton dilakukan oleh ahli bedah urologi robotik asal London yang bernama Prof. Prokar Dasgupta. 

Meski berjarak hingga ribuan kilometer dari pasiennya, Dasgupta mengatakan pengalaman tersebut terasa seperti melakukan operasi secara langsung di ruang bedah. 

"Rasanya hampir seperti saya berada di sana," kata Dasgupta. 

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau