KOMPAS.com - Era smartphone murah buatan China yang selama lebih dari satu dekade mendominasi pasar global kini menghadapi tekanan besar.
Lonjakan harga chip memori akibat booming kecerdasan buatan (AI), ditambah ketegangan geopolitik yang memecah rantai pasok semikonduktor, membuat model bisnis ponsel murah semakin sulit dipertahankan.
Jika tren ini berlanjut, industri smartphone global bisa memasuki fase baru di mana ponsel murah tidak lagi semurah dulu, bahkan berpotensi semakin jarang ditemukan.
Tanda-tanda perubahan ini mulai terlihat di ajang Mobile World Congress (MWC) di Barcelona awal Maret lalu.
Baca juga: Pasar Ponsel Dunia: 2025 Naik, 2026 Terancam Hadapi Krisis
Sejumlah produsen smartphone memamerkan perangkat terbaru mereka, tetapi beberapa di antaranya belum dapat memastikan harga final saat peluncuran. Padahal biasanya harga sudah ditentukan jauh sebelum perangkat diperkenalkan ke publik.
Salah satu contohnya adalah Xiaomi yang mengumumkan ponsel seri terbarunya dengan harga 999 euro (sekitar Rp 19,5 juta) di panggung acara. Namun analis industri memperkirakan harga ritel sebenarnya bisa berubah ketika ponsel tersebut benar-benar dijual di pasar.
Situasi ini terjadi karena biaya komponen utama ponsel, terutama chip memori, sedang berubah sangat cepat.
Salah satu penyebab utama perubahan tersebut adalah meningkatnya permintaan chip memori untuk pusat data AI.
Server AI membutuhkan jenis memori berkecepatan tinggi yang disebut high-bandwidth memory (HBM). Memori ini biasanya digunakan bersama GPU AI seperti yang diproduksi oleh Nvidia.
Karena permintaan AI melonjak tajam, produsen memori dunia seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mulai mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka dari memori konvensional ke memori untuk server AI.
Baca juga: Harga RAM Melejit, Samsung Disebut Tolak Pesanan dari Divisinya Sendiri
Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen seperti smartphone dan laptop menjadi lebih terbatas.
Lembaga riset TrendForce memperkirakan harga DRAM (memori utama pada ponsel dan komputer) naik hingga sekitar 90–95 persen dalam satu kuartal. Sementara itu harga NAND flash (memori penyimpanan internal) meningkat sekitar 55–60 persen dalam periode yang sama.
Beberapa laporan industri bahkan menyebut harga DRAM dapat berubah dalam hitungan jam, terutama bagi pembeli kecil yang tidak memiliki kontrak pasokan jangka panjang.
Lonjakan permintaan AI membuat pasar memori global seolah terbagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama adalah perusahaan besar dengan daya beli tinggi, seperti penyedia layanan cloud dan produsen perangkat premium. Perusahaan seperti Apple atau Samsung memiliki kontrak pasokan jangka panjang sehingga masih bisa mendapatkan prioritas distribusi memori.