Era HP China Murah Segera Berakhir

Kompas.com, 22 Maret 2026, 17:07 WIB
Marsha Bremanda,
Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Era smartphone murah buatan China yang selama lebih dari satu dekade mendominasi pasar global kini menghadapi tekanan besar.

Lonjakan harga chip memori akibat booming kecerdasan buatan (AI), ditambah ketegangan geopolitik yang memecah rantai pasok semikonduktor, membuat model bisnis ponsel murah semakin sulit dipertahankan.

Jika tren ini berlanjut, industri smartphone global bisa memasuki fase baru di mana ponsel murah tidak lagi semurah dulu, bahkan berpotensi semakin jarang ditemukan.

Tanda-tanda perubahan ini mulai terlihat di ajang Mobile World Congress (MWC) di Barcelona awal Maret lalu.

Baca juga: Pasar Ponsel Dunia: 2025 Naik, 2026 Terancam Hadapi Krisis

Sejumlah produsen smartphone memamerkan perangkat terbaru mereka, tetapi beberapa di antaranya belum dapat memastikan harga final saat peluncuran. Padahal biasanya harga sudah ditentukan jauh sebelum perangkat diperkenalkan ke publik.

Salah satu contohnya adalah Xiaomi yang mengumumkan ponsel seri terbarunya dengan harga 999 euro (sekitar Rp 19,5 juta) di panggung acara. Namun analis industri memperkirakan harga ritel sebenarnya bisa berubah ketika ponsel tersebut benar-benar dijual di pasar.

Situasi ini terjadi karena biaya komponen utama ponsel, terutama chip memori, sedang berubah sangat cepat.

Faktor pertama, krisis memori gara-gara AI

Salah satu penyebab utama perubahan tersebut adalah meningkatnya permintaan chip memori untuk pusat data AI.

Server AI membutuhkan jenis memori berkecepatan tinggi yang disebut high-bandwidth memory (HBM). Memori ini biasanya digunakan bersama GPU AI seperti yang diproduksi oleh Nvidia.

Karena permintaan AI melonjak tajam, produsen memori dunia seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mulai mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka dari memori konvensional ke memori untuk server AI.

Baca juga: Harga RAM Melejit, Samsung Disebut Tolak Pesanan dari Divisinya Sendiri

Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen seperti smartphone dan laptop menjadi lebih terbatas.

Lembaga riset TrendForce memperkirakan harga DRAM (memori utama pada ponsel dan komputer) naik hingga sekitar 90–95 persen dalam satu kuartal. Sementara itu harga NAND flash (memori penyimpanan internal) meningkat sekitar 55–60 persen dalam periode yang sama.

Beberapa laporan industri bahkan menyebut harga DRAM dapat berubah dalam hitungan jam, terutama bagi pembeli kecil yang tidak memiliki kontrak pasokan jangka panjang.

Lonjakan permintaan AI membuat pasar memori global seolah terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah perusahaan besar dengan daya beli tinggi, seperti penyedia layanan cloud dan produsen perangkat premium. Perusahaan seperti Apple atau Samsung memiliki kontrak pasokan jangka panjang sehingga masih bisa mendapatkan prioritas distribusi memori.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau