Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Bendung Surokarsan di Yogya Bisa Jadi Wisata, Masyarakat Didorong Mengembangkan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kota Yogyakarta berupaya untuk mengembangkan kawasan wisata. Walaupun secara wilayah Kota Yogyakarta tak seluas kabupaten lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan salah satu wilayah yang dapat dikembangkan untuk destinasi wisata baru yakni area Bendung Surokarsan atau Mergangsan.

Bendung Surokarsan yang berada di aliran Sungai Code memiliki berbagai potensi wisata seperti bangunan pendopo khas Jawa yang dapat digunakan untuk menampilkan potensi budaya maupun jogging track.

Hasto berharap, dengan adanya potensi itu Bendung Surokarsan dapat menjadi destinasi wisata baru dalam lingkup lokal.

“Ini bisa menjadi ruang tampil seni budaya, terutama pada malam libur. Kawasan sungai bisa menjadi balai atau panggung bagi kampung-kampung budaya di sekitarnya. Dari situ magnet wisata bisa tumbuh dan berkembang secara bertahap,” jelasnya, Kamis (22/1/2026).

Masyarakat harus jaga kebersihan Sungai Code

Untuk mewujudkan kawasan ini menjadi destinasi wisata baru diperlukan dukungan masyarakat terutama untuk menjaga kebersihan sungai.

Diharapkan masyarakat sekitar merasa memiliki sungai sehingga malu jika membuang sampah di area sungai.

Selain itu dengan dibentuknya, komunitas peduli sungai menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap sungai.

Menurutnya, pemerintah tidak akan mampu merawat sungai secara optimal tanpa keterlibatan langsung warga yang hidup dan beraktivitas sehari-hari di bantaran sungai.

“Komunitas ini akan lebih efektif dan efisien karena anggotanya adalah warga yang setiap hari berada di sekitar sungai. Ketika rasa peduli dan rasa memiliki itu tumbuh dari masyarakat sendiri, maka kepedulian terhadap sungai akan jauh lebih kuat,” ujar Hasto.

Ia menambahkan, keterlibatan langsung warga diyakini mampu mendorong perubahan perilaku, seperti tidak membuang sampah ke sungai dan saling mengingatkan antarwarga apabila masih terjadi pelanggaran.

Dengan demikian, sungai tidak hanya dijaga oleh pemerintah, tetapi benar-benar dirawat bersama oleh masyarakat.

Hasto menekankan, keberadaan komunitas ini diharapkan mampu menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan dan kondisi riil di lapangan.

Sinergi antara Komunitas Peduli Sungai, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, serta perangkat daerah menjadi kunci agar pengelolaan sungai dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Hasto menekankan pentingnya sinergi antara komunitas peduli sungai dengan program pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Ia mencontohkan peran Satgas Ulu-ulu yang selama ini membersihkan sungai, namun masih membutuhkan dukungan dalam pengelolaan sampah di bantaran sungai.

“Ke depan, komunitas ini bisa berkembang tidak hanya membersihkan sungai, tetapi juga mengolah sampah menjadi pupuk. Hasilnya bisa dibeli oleh Dinas Lingkungan Hidup. Dengan begitu ada kolaborasi yang produktif dan berkelanjutan,” katanya.

Selain itu pihaknya juga menekankan pentingnya peran komunitas dalam menjaga tutupan lahan dan mendorong pembuatan resapan air di lingkungan sekitar sungai.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke sungai dan memicu banjir di wilayah hilir.

“Kalau air hujan semuanya langsung lari ke sungai, yang kasihan itu wilayah hilir seperti Bantul. Maka rumah-rumah di sekitar sungai juga perlu membuat resapan air,” jelasnya.

Kebersihan Sungai Code jadi fokus

Ketua Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan, Sodik Ridwanto, menyampaikan bahwa fokus utama komunitas tetap pada menjaga kebersihan sungai.

Namun, pihaknya juga siap menindaklanjuti arahan Wali Kota untuk mengembangkan potensi ekonomi, seni, dan budaya di kawasan Bendung Surokarsan.

“Inti kami tetap menjaga kebersihan sungai. Tapi kami juga akan mengembangkan kegiatan ekonomi, seni, dan budaya di sini sesuai harapan Bapak Wali Kota,” ujarnya.

Sodik menjelaskan, Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan merupakan gabungan warga dari dua wilayah, yakni Kelurahan Prawirodirjan dan Kelurahan Wirogunan dengan jumlah anggota 30 orang.

Jembatan Surokarsan yang menjadi batas sekaligus penghubung kedua wilayah tersebut ditetapkan sebagai ikon komunitas.

Ke depan, komunitas tidak hanya fokus mengembangkan kawasan Bendung Surokarsan, tetapi juga berkolaborasi dengan Kampung Wisata Suro Amarto di Kelurahan Wirogunan yang telah lebih dulu berjalan.

Sinergi ini, harapannya mampu mendorong pengembangan kawasan secara seimbang di kedua wilayah.

“Untuk sementara kami masih fokus di sekitar sini. Kalau sudah cukup kuat, baru nanti berkembang ke arah selatan atau ke utara,” jelasnya.

Sodik juga mengungkapkan tantangan terbesar yang dihadapi komunitas saat ini adalah persoalan sampah yang menumpuk di area bendung.

Sampah yang terbendung kerap mengendap dan menjadi pekerjaan rutin komunitas untuk dibersihkan, terutama jika kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai ruang kuliner dan pentas seni.

https://travel.kompas.com/read/2026/01/23/151500827/bendung-surokarsan-di-yogya-bisa-jadi-wisata-masyarakat-didorong

Terkini Lainnya

Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com