KOMPAS.com - Perubahan pola perjalanan pemudik sejak beroperasinya jalan tol Trans Jawa membawa dampak besar bagi pelaku usaha telur asin di Brebes, Jawa Tengah.
Arus kendaraan yang kini lebih banyak berpindah ke jalur tol membuat jalur Pantura semakin sepi, sehingga memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat setempat, khususnya pedagang telur asin yang selama ini mengandalkan kunjungan pemudik.
Pembeli telur asin khas Brebes menurun
Salah satu pedagang telur asin, Nanda, yang telah berjualan selama sekitar 30 tahun, menceritakan bahwa pusat oleh-oleh di kawasan Pantura kini jauh lebih lengang dibandingkan sebelum adanya tol.
“Dulu dari ujung sampai ujung jualan telur asin semua. Sekarang tinggal empat kios yang bertahan,” ujarnya pada Jumat (20/3/2026).
Pada masa sebelum tol Trans Jawa beroperasi, kawasan tersebut kerap menjadi titik kemacetan panjang karena tingginya volume pemudik yang melintas.
Kondisi itu justru membawa berkah bagi pedagang, sebab arus kendaraan yang tersendat membuat banyak orang singgah untuk membeli oleh-oleh.
“Dulu habis Lebaran macet total, siang malam ramai. Sekarang mah tengah jalan bisa tidur, saking sepinya,” kata Nanda.
Penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada omzet. Jika sebelumnya ia mampu menjual 2.000–3.000 butir telur asin per hari, kini penjualan hanya sekitar 100 butir. Banyak pedagang yang menyewa kios pun akhirnya gulung tikar karena tidak kembali modal.
Penelitian dari Universitas Diponegoro pada 2019 juga menunjukkan tren serupa, bahwa rata-rata volume penjualan telur asin di Brebes menurun dari sekitar 9.000 butir menjadi 3.000 butir per hari setelah tol Trans Jawa beroperasi.
Pelaku usaha besar justru tumbuh berkat adaptasi
Berbeda dengan pedagang kecil, usaha berskala lebih besar mampu melakukan penyesuaian dan justru mencatatkan peningkatan penjualan. Salah satunya adalah Toko Telor Asin Bakar Yes.
Pemiliknya, Dhani Bagus Purnama, mengungkapkan bahwa toko mereka justru mengalami lonjakan permintaan menjelang Lebaran.
“Kalau hari biasa sekitar 5.000 butir per hari. Menjelang Lebaran bisa 10.000 sampai 15.000 butir,” ujarnya.
Dhani menjelaskan bahwa adaptasi menjadi kunci. Selain menjual telur asin rebus dan bakar, pihaknya juga menghadirkan berbagai produk olahan seperti saus telur asin dan makanan siap konsumsi untuk menarik minat pembeli yang mencari variasi oleh-oleh.
Persiapan mereka dilakukan jauh hari, mulai dari pemilihan bahan baku, peningkatan kualitas produksi, hingga kesiapan tenaga kerja agar tetap dapat memenuhi permintaan tinggi saat puncak arus mudik dan balik.
Untuk menjangkau pemudik yang kini tidak lagi melintasi Pantura, mereka juga membuka cabang di rest area jalan tol dan memperkuat pemasaran secara daring. “Selain di sini, kami juga buka di rest area dan online, jadi tetap bisa menjangkau pembeli,” katanya.
Perubahan infrastruktur mendorong adaptasi pelaku usaha
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan infrastruktur transportasi turut mengubah pola konsumsi pemudik. Jika sebelumnya pusat oleh-oleh di jalan nasional menjadi titik persinggahan utama, kini pembelian oleh-oleh lebih banyak dilakukan melalui rest area atau pemesanan online.
Menurut Dhani, perubahan adalah hal yang tidak dapat dihindari.
“Perubahan itu pasti ada. Tinggal bagaimana kita meresponsnya,” ujarnya.
Bagi pelaku usaha telur asin di Brebes, tantangannya kini adalah bertransformasi mengikuti perilaku konsumen yang semakin dinamis. Bagi yang mampu beradaptasi, peluang tetap terbuka luas.
Namun bagi pedagang kecil yang bergantung pada lalu lintas Pantura, perubahan ini menjadi tantangan berat yang membutuhkan dukungan dan inovasi agar tetap dapat bertahan.
https://travel.kompas.com/read/2026/03/23/172319427/dampak-tol-trans-jawa-umkm-telur-asin-brebes-tersendat