MALANG, KOMPAS.com - Selama menikmati masa libur Lebaran selalu mempunyai cara sendiri menghadirkan kebahagiaan.
Di Kota Malang, kebahagiaan itu terasa nyata di Kampoeng Heritage Kajoetangan yang terawat sejak peninggalan kolonial Belanda sejak abad ke-13.
Sebuah kampung yang berada di pusat kota tidak jauh dari alun-alun dan Balaikota Malang, tepatnya di Jalan Basuki Rachmat. Tidak hanya menawarkan wisata, tetapi juga pengalaman yang hangat dan penuh cerita.
Baca juga: Harga Tiket Wisata Kampoeng Heritage Kajoetangan Malang dan Cara Pesan
Sejak pagi hingga malam, langkah demi langkah wisatawan mengalir masuk ke lorong-lorong kampung. Tidak ada hiruk pikuk berlebihan, hanya suasana akrab yang tumbuh dari interaksi sederhana senyum dan sapaan saat berpapasan dengan pengunjung maupun warga.
Bagi Mutia, siswi kelas 5 SD, kunjungan ini menjadi destinasi tidak terduga setelah momen halal bihalal keluarganya. Namun justru dari ketidaksengajaan itu, ia menemukan pengalaman baru.
“Sebelumnya belum pernah kesini. Ini tadi habis ada acara halal-bihalal terus mampir ke sini sama keluarga. Datang terus keliling sambil foto-foto terus makan sambil main uno karena capek,” tuturnya kepada Kompas.com
Peta petunjuk arah Kampoeng Heritage Kajoetangan yang menjadi pilihan saat libur Lebaran untuk bersantai mengisi waktu selama di Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (24/3/2026) sore.Langkah kecilnya menyusuri gang-gang dengan rumah-rumah bergaya kolonial, di beberapa sudut dijumpai sejumlah spot foto dan mural warna-warni. Aliran sungai yang bersih serta tempat singgah untuk menikmati hidangan makanan dan minuman yang mudah dipesan.
Bagi sebagian orang, Kampoeng Heritage Kajoetangan bukan tempat baru. Justru menjadi bagian dari tradisi pulang. Seperti Luna, warga Blitar mengaku hampir setiap tahun menyempatkan diri datang ke kawasan ini saat mudik.
“Pengen foto-foto. Sengaja jalan-jalan memang karena kan masih libur sebelum balik ke Blitar. Hampir tiap tahun sih main kesini, dibandingkan sebelumnya lebih oke sih,” ujar perempuan berusia 21 tahun itu.
Ada rasa yang terus diperbarui setiap kali datang. Bukan hanya karena tampilan yang semakin tertata, tetapi juga karena kenangan yang terus bertambah.
Memang tempat wisata ini tidak menawarkan wahana atau atraksi besar. Justru kekuatannya terletak pada hal-hal sederhana dengan berjalan kaki, menikmati suasana, dan berhenti kapan pun ingin.
Dua orang anak sedang bermain kartu disalah satu kafe di Kampoeng Heritage Kajoetangan saat libur Lebaran yang menjadi pilihan wisatawan untuk mengisi waktu selama berada di Komta Malang, Jawa Timur, Selasa (24/3/2026) sore.“Lumayan sambil olahraga jalan kaki keliling kampung setelah itu makan. tadi sambil jalan juga makan es krim jadi ga terasa capek,” imbuhnya.
Apalagi udara sejuk khas Malang, jalanan yang nyaman, serta suasana kampung yang bersih membuat aktivitas sederhana terasa menyenangkan. Bahkan lelah pun seolah tidak terasa.
Untuk dapat menikmati Kampoeng Heritage Kajoetangan, wisatawan hanya perlu membayar 5.000 rupiah yang akan mendapatkan postcard sebagai kenang-kenangan.
Namun selama lima hari masa Lebaran lalu, pengunjung dapat masuk tanpa membeli tiket. Kebijakan ini diambil bukan sekadar strategi wisata, tetapi bentuk penghargaan bagi para petugas agar bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga.