KOMPAS.com - Badan Bahasa menjadi sorotan karena membuat entri kata baru dan sejumlah perubahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dinilai tidak relevan.
Misalnya, kata baru "kapitil" untuk merujuk huruf kecil atau perubahan definisi "sawit" sebagai pohon.
Ada yang menilai entri kata tersebut hanya populer di internal Badan Bahasa dan tidak mewakili penutur bahasa Indonesia, bahkan pendefinisian sawit sebagai pohon dianggap tidak berlandaskan pada konsep ilmiah.
Selama puluhan tahun, KBBI menjadi acuan utama referensi kebahasaan di Indonesia. Wajar jika muncul beragam kontroversi dalam setiap pembaruannya.
Namun, sebelum KBBI ada kamus-kamus lainnya yang tak kalah mutakhir dan menjadi rujukan.
Sehingga, ketika KBBI mengecewakan dan tidak mewakili ekspresi kebahasaan, ada kamus tandingan yang dapat diandalkan.
Sejarah leksikografi di Indonesia cukup panjang sebelum adanya KBBI.
Berdasarkan informasi di situs web Badan Bahasa, karya leksikografi tertua dalam sejarah studi bahasa di Indonesia yakni daftar kata China-Melayu yang ditulis pada abad ke-15. Kamus tersebut berisi 500 lema.
Kemudian, pada 1603, pemerintah kolonial sekaligus mantan Gubernur Maluku, Frederick de Houtman menerbitkan kamus percakapan Belanda-Melayu berjudul Spraeck ende woordboek.
Kamus tersebut disusun dalam penjara, karena ia sempat ditangkap di Aceh akibat terlibat intrik dagang dengan Portugis.
Kamus lainnya dibuat oleh pendeta asal Belanda, Sebastianus Danckaerts pada 1623. Ia menyusun kamus Melayu-Jerman.
Di masa penjajahan, pembuatan kamus diprakarsai atas inisiatif pribadi. Namun, belum ada pribumi yang merumuskan kamus khusus berbahasa Indonesia.
Kamus bahasa Indonesia baru ada pada abad ke-20. Berikut daftarnya:
Kemunculan kamus bahasa Indonesia baru lahir pada 1942 oleh seorang wartawan sekaligus penulis berdarah batak, Elisa Sutan Harahap. Ia menyusun Kamoes Indonesia.
Dikutip dari Scientia, keterangan tahun dalam kamus tersebut masih menggunakan sistem penanggalan Jepang atau biasa disebut kalender Jimmu.
Dalam pengantarnya, Elisa Harahap menjelaskan bahwa penerbitan kamus tersebut berada di bawah naungan Pemerintah Jepang.
Sebagai referensi penyusunan kamus, Elisa Harahap melakukan perubahan terhadap Kitab Arti Logat Melajoe, kamus bahasa Melayu yang ia buat bersama rekannya yang telah masuk cetakan keenam.
Kamoes Indonesia diterbitkan oleh Gunseikanbu Kanri Insatu Kodjo dan memiliki tebal 427 halaman.
Kamus bahasa Indonesia pertama itu masih menggunakan ejaan Van Ophuijsen, atau ejaan bahasa Belanda yang dirancang oleh seorang linguis, Charles Adriaan van Ophuijsen.
Misalnya, masih menggunakan "oe" untuk "u", "tj" untuk "c", atau "dj" untuk "j".
Perbendaharaan katanya juga masih penuh keterbatasan. Pasalnya, tidak terdapat lema dengan awalan huruf c, q, u, v, x, dan y.
Serapan bahasa asingnya juga masih terbatas, sehingga terdapat beberapa lema berawalan ch untuk lema yang berawalan k.