Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Kamus di Indonesia Sebelum Ada KBBI

Kompas.com, 7 Februari 2026, 13:24 WIB
Rosy Dewi Arianti Saptoyo,
Bayu Galih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Bahasa menjadi sorotan karena membuat entri kata baru dan sejumlah perubahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dinilai tidak relevan.

Misalnya, kata baru "kapitil" untuk merujuk huruf kecil atau perubahan definisi "sawit" sebagai pohon.

Ada yang menilai entri kata tersebut hanya populer di internal Badan Bahasa dan tidak mewakili penutur bahasa Indonesia, bahkan pendefinisian sawit sebagai pohon dianggap tidak berlandaskan pada konsep ilmiah.

Selama puluhan tahun, KBBI menjadi acuan utama referensi kebahasaan di Indonesia. Wajar jika muncul beragam kontroversi dalam setiap pembaruannya.

Namun, sebelum KBBI ada kamus-kamus lainnya yang tak kalah mutakhir dan menjadi rujukan.

Sehingga, ketika KBBI mengecewakan dan tidak mewakili ekspresi kebahasaan, ada kamus tandingan yang dapat diandalkan.

Kamus pertama di Indonesia

Sejarah leksikografi di Indonesia cukup panjang sebelum adanya KBBI.

Berdasarkan informasi di situs web Badan Bahasa, karya leksikografi tertua dalam sejarah studi bahasa di Indonesia yakni daftar kata China-Melayu yang ditulis pada abad ke-15. Kamus tersebut berisi 500 lema.

Kemudian, pada 1603, pemerintah kolonial sekaligus mantan Gubernur Maluku, Frederick de Houtman menerbitkan kamus percakapan Belanda-Melayu berjudul Spraeck ende woordboek.

Kamus tersebut disusun dalam penjara, karena ia sempat ditangkap di Aceh akibat terlibat intrik dagang dengan Portugis.

Kamus lainnya dibuat oleh pendeta asal Belanda, Sebastianus Danckaerts pada 1623. Ia menyusun kamus Melayu-Jerman.

Di masa penjajahan, pembuatan kamus diprakarsai atas inisiatif pribadi. Namun, belum ada pribumi yang merumuskan kamus khusus berbahasa Indonesia.

Kamus bahasa Indonesia baru ada pada abad ke-20. Berikut daftarnya:

1. Kamoes Indonesia

Kemunculan kamus bahasa Indonesia baru lahir pada 1942 oleh seorang wartawan sekaligus penulis berdarah batak, Elisa Sutan Harahap. Ia menyusun Kamoes Indonesia.

Dikutip dari Scientia, keterangan tahun dalam kamus tersebut masih menggunakan sistem penanggalan Jepang atau biasa disebut kalender Jimmu.

Dalam pengantarnya, Elisa Harahap menjelaskan bahwa penerbitan kamus tersebut berada di bawah naungan Pemerintah Jepang.

Sebagai referensi penyusunan kamus, Elisa Harahap melakukan perubahan terhadap Kitab Arti Logat Melajoe, kamus bahasa Melayu yang ia buat bersama rekannya yang telah masuk cetakan keenam.

Kamoes Indonesia diterbitkan oleh Gunseikanbu Kanri Insatu Kodjo dan memiliki tebal 427 halaman.

Kamus bahasa Indonesia pertama itu masih menggunakan ejaan Van Ophuijsen, atau ejaan bahasa Belanda yang dirancang oleh seorang linguis, Charles Adriaan van Ophuijsen.

Misalnya, masih menggunakan "oe" untuk "u", "tj" untuk "c", atau "dj" untuk "j".

Perbendaharaan katanya juga masih penuh keterbatasan. Pasalnya, tidak terdapat lema dengan awalan huruf c, q, u, v, x, dan y.

Serapan bahasa asingnya juga masih terbatas, sehingga terdapat beberapa lema berawalan ch untuk lema yang berawalan k.

Halaman:


Terkini Lainnya
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Tautan untuk Akses Bantuan Budi Daya Ikan dari Dinas Perikanan
[HOAKS] Tautan untuk Akses Bantuan Budi Daya Ikan dari Dinas Perikanan
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Ini Kecelakaan pada 2018, Bukan Arus Balik 2026
[KLARIFIKASI] Foto Ini Kecelakaan pada 2018, Bukan Arus Balik 2026
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ini adalah Momen Anies Berkunjung ke Rumah AHY pada 2023
[KLARIFIKASI] Video Ini adalah Momen Anies Berkunjung ke Rumah AHY pada 2023
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Ayu Ting Ting Meninggal Dunia pada Maret 2026
[HOAKS] Ayu Ting Ting Meninggal Dunia pada Maret 2026
Hoaks atau Fakta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau