Senada dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa literasi adalah bekal peradaban bangsa.
“Literasi bukan sekadar membaca aksara, tetapi membaca pemikiran, menelaah secara kritis, dan berani menyumbangkan gagasan yang mampu membawa perubahan,” ujarnya dalam acara Jagat Literasi yang diselenggarakan Kompas.com pada 15 September 2025.
Baca juga: Literasi Digital, Bekal Anak Menjelajahi Dunia Siber dengan Aman dan Bijak
Melihat urgensi tersebut, Tanoto Foundation menetapkan literasi dan numerasi sebagai fokus utama Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR).
Program ini memperkuat kapasitas guru, mengembangkan media kreatif, dan mendorong pendekatan pembelajaran yang dekat dengan keseharian siswa. Lia Maylani, fasilitator Tanoto Foundation wilayah Semarang, menggambarkan kegelisahan itu dengan padat.
“Banyak murid bisa membaca, tapi belum memahami isi bacaan. Bisa berhitung, tapi belum mengerti kaitannya dengan kehidupan,” ujarnya.
Lia menjelaskan, pada 2024 para fasilitator daerah diberi ruang mengajukan inovasi. Guru-guru kemudian berdiskusi dan menemukan masalah serupa, yakni teks belajar terasa jauh dari konteks anak.
Dari situ muncul ide membuat bacaan ringan bertema lingkungan yang ditempel pada batang pohon dan bisa diakses lewat barcode.
Menurut Lia, para murid menyukai pembelajaran ini karena terasa seperti menemukan pesan rahasia. Respons positif itu berkembang menjadi gagasan membuat media yang lebih imersif, yaitu buku pop-up bernuansa Semarang.
Tiga belas guru kemudian berkolaborasi menyusun naskah, menggambar ilustrasi, memotong pola tiga dimensi, dan merangkai mekanisme pop-up.
Hasilnya adalah tiga judul buku karya para guru, yaitu berjudul Sesaji Rewanda, Hadiah untuk Kera Goa Kreo, Cerita Seru Arka dan Nayla, dan Jejak Tradisi di Kota Atlas.
Buku tersebut mengangkat tema tempat wisata, kuliner, dan budaya lokal Kota Semarang yang dilengkapi dua barcode, audio cerita, dan proyek mini yang bisa dikerjakan siswa di rumah.
Baca juga: Radikalisme Gen-Z dan Budaya Literasi
Selain bertujuan meningkatkan literasi, Lia ingin memperkenalkan kebudayaan yang ada di Kota Semarang agar tumbuh rasa cinta dalam diri siswa terhadap kotanya sendiri.
Tak hanya itu, Nurhayati menyebut pop-up book membantu menghubungkan konsep abstrak dengan kehidupan nyata.
“Contohnya waktu saya mengajar imbuhan ‘me-’. Saya kaitkan dengan cerita dalam pop-up book. Setelah membaca, saya minta mereka mencari kata-kata dengan imbuhan ‘me-’. Jadi pembelajaran terasa lebih alami dan mudah dipahami,” jelasnya.