Editor
Penulis: Haroon Janjua/DW Indonesia
ISLAMABAD, KOMPAS.com - Pakistan meningkatkan upaya diplomatiknya untuk menjadi mediator utama konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Upaya tersebut sejalan dengan hubungan strategis Pakistan dengan Iran dan AS yang menjadi landasannya.
Meskipun belum ada tanda-tanda konflik akan mereda, pemerintah Pakistan di Islamabad mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Turkiye, Mesir, dan Arab Saudi pada hari Minggu (29/3/2026) untuk menyiapkan kemungkinan pembicaraan antara Washington dan Teheran.
Setelah pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan bahwa Pakistan akan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang konstruktif antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang.
Baca juga: Pakistan Gerak Cepat Damaikan Perang Iran, Jamu Saudi-Turkiye-Mesir
"Pakistan sangat senang karena baik Iran maupun AS telah menyatakan kepercayaan mereka kepada Pakistan untuk memfasilitasi pembicaraan," kata Dar, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Hingga kini belum jelas apakah negosiasi akan dilakukan secara langsung atau tidak. Baik AS serta Iran juga belum mengonfirmasi kapan negosiasi akan dilaksanakan.
Kedua negara justru mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan mengenai apakah negosiasi akan benar-benar berlangsung.
Pada Minggu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menepis bahwa rencana negosiasi yang akan berlangsung di Pakistan sebagai "kedokā untuk invasi.
Sementara 2.500 marinir AS telah mendarat di Timur Tengah, dan Qalibaf menyatakan mereka akan dibakar habis.
Baca juga: Turuti Pakistan, Israel Hapus Menlu dan Ketua Parlemen Iran dari Daftar Target
Iran sebelumnya menolak rencana perdamaian AS yang berisi 15 poin yang disampaikan melalui Pakistan, dengan menyebutnya berlebihan, tidak masuk akal, dan tidak realistis.
Rencana tersebut meminta Iran mengakhiri pengayaan nuklir, membongkar fasilitas nuklir, dan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pada Senin (30/3/2026), Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa ada pembicaraan yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang.
"Kami belum melakukan negosiasi langsung apa pun," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei dalam konferensi pers.
Trump berulang kali memberi sinyal bahwa beberapa bentuk negosiasi antara AS dan Iran sedang berlangsung.
Namun, dalam salah satu unggahan terbarunya di Truth Social, Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Iran tidak segera membuat kesepakatan dan membuka Selat Hormuz.
Baca juga: Rahasia Diplomasi Pakistan: Mengapa Islamabad Jadi Juru Runding AS-Iran?
Islamabad berupaya mengukuhkan kembali relevansi diplomatiknya dengan menempatkan diri sebagai mitra dialog yang kredibel, memanfaatkan hubungannya dengan Washington, Teheran, dan negara-negara Teluk, demikian disampaikan Raza Rumi, seorang analis asal Pakistan yang berbasis di AS, kepada DW.
"Konflik AS-Iran secara langsung mengancam stabilitas ekonomi Pakistan, mengingat ketergantungannya pada pasokan energi dari Teluk dan kiriman uang dari luar negeri," katanya.
Pakistan harus berhati-hati menyeimbangkan diplomasi karena memiliki pakta pertahanan dengan Arab Saudi, serta ikatan budaya dan perbatasan sepanjang 900 kilometer di perbatasan dengan Iran.
"(Peran) mediator memberi kesempatan bagi Pakistan untuk tampil sebagai aktor stabilisator sekaligus melindungi diri dari dampak perang regional yang meluas," tambah Rumi.
Selama masa pemerintahan kedua Trump, hubungan AS-Pakistan semakin baik. Trump telah dua kali menerima Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dan menyebut jenderal Pakistan tersebut sebagai panglima lapangan favorit.
Fatemeh Aman, seorang pakar Iran-Pakistan yang sebelumnya bekerja di Middle East Institute dan Atlantic Council, mengatakan kepada DW bahwa Pakistan termasuk salah satu dari sedikit negara yang mampu menjaga komunikasi baik dengan Washington maupun Teheran tanpa dianggap remeh.
Dia menambahkan bahwa motivasi Pakistan juga untuk mengelola konflik yang berpotensi menimbulkan dampak di dalam negerinya dalam waktu singkat.
Baca juga: Pakistan-Afghanistan Gencatan Senjata 5 Hari Selama Idul Fitri
Pakistan masih terlibat konflik dengan Taliban di negara tetangganya, Afganistan. Ditambah lagi adanya ancaman militan dari kelompok separatis di Provinsi Balochistan, yang berbatasan dengan Iran.
"Ada urgensi. Ketidakstabilan di Iran secara langsung memengaruhi Pakistan, dari keamanan Balochistan hingga akses energi dan stabilitas domestik," kata Aman.
Ancaman utama bagi Pakistan adalah jika negosiasi ASāIran gagal dan perang berkepanjangan terus mengganggu pasokan energi melalui Selat Hormuz, yang akan memperburuk kondisi ekonomi Pakistan yang sudah rapuh.
"Kegagalan akan membuat Pakistan langsung menghadapi guncangan ekonomi dan keamanan. Gangguan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz, akan memicu inflasi dan memperburuk tekanan fiskal. Risiko di sepanjang perbatasan barat Pakistan dengan Iran juga meningkat, termasuk arus pengungsi dan aktivitas militan," ujar Rumi.
Ancaman berikutnya dari konflik berkepanjangan adalah situasi keamanan di sepanjang perbatasan barat Pakistan dengan Iran.
Aman mengatakan kondisi tersebut akan membuat rute perdagangan menjadi kurang dapat diandalkan, dan operasional di daerah yang lebih luas akan sulit dikendalikan.
"Konflik berkepanjangan meningkatkan tekanan di sepanjang perbatasan Iran-Pakistan. Hal ini juga membuka peluang bagi kelompok-kelompok militan serta meningkatkan risiko kerusuhan di dalam negeri. Masalahnya bukanlah apakah Pakistan berhasil secara diplomatik. Masalahnya adalah jika situasi terus memanas, mau tidak mau Pakistan harus menghadapi dampaknya," katanya.
Baca juga: Rayakan Idul Fitri, Pakistan-Taliban Sepakat Gencatan Senjata
Pakistan telah memperkuat kemitraan puluhan tahun dengan Arab Saudi melalui pakta pertahanan bersama, yang menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap keduanya. Pada saat yang sama, Pakistan juga memiliki hubungan mendalam dengan Iran.
Jika negara?negara Teluk ikut terlibat dalam konflik dan perang regional meluas, upaya keseimbangan Pakistan akan semakin sulit.
"Jika Arab Saudi ikut dalam perang, Pakistan akan menghadapi tekanan untuk memberikan dukungan, setidaknya secara simbolis. Namun, keterlibatan militer langsung akan tidak stabil dan tidak bijaksana," ujar Rumi.
"Perannya kemungkinan dibatasi pada kerja sama defensif. Iran tidak akan menganggap Pakistan sebagai musuh utama kecuali Pakistan terlibat langsung. Namun, bahkan aliansi terbatas dengan Arab Saudi bisa memicu ketegangan perbatasan, aksi proksi, atau tekanan ekonomi," tambahnya.
Bagi Pakistan, tantangannya adalah mereka tidak bisa begitu saja memperlakukan Iran sebagai musuh, bahkan jika Saudi meminta dukungan militer.
"Akan ada tekanan pada Pakistan jika Saudi terlibat langsung, tetapi tekanan tidak sama dengan partisipasi. Pakistan pernah menolak untuk terlibat dalam perang Timur Tengah sebelumnya. Keterlibatan akan membawa konsekuensi berat: ketegangan sektarian, instabilitas perbatasan, dan tekanan ekonomi," jelas Aman.
Ia menambahkan bahwa serangan langsung Iran terhadap kepentingan Pakistan tidak mungkin terjadi, tetapi jika Pakistan terlihat mendukung aksi militer terhadap Iran, risikonya akan meningkat.
Iran lebih mungkin memberi tekanan secara tidak langsung, melalui ketegangan perbatasan atau kelompok proksi, sambil menghindari konfrontasi penuh.
Artikel ini pernah tayang di DW Indonesia dengan judul: Mampukah Pakistan Menengahi Perundingan Damai AS dan Iran?
Baca juga: Misteri Kapal Pakistan Bisa Tembus Selat Hormuz Saat Jalur Diblokade
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang